Mengendalikan Emosi Negatif dengan Filosofi Stoisisme -

Mengendalikan Emosi Negatif dengan Filosofi Stoisisme


maulanayusuf.com
Dok.Egindo.co

lpmindustria - Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi dan harapan, seringkali orang merasa marah dan kecewa. Filosofi Teras (Stoisisme) mengajarkan untuk mengendalikan emosi negatif dalam diri seseorang.

Terkadang, sesuatu berjalan tidak sesuai dengan harapan seseorang. Ketika hal tersebut terjadi, perasaan negatif bisa timbul pada orang yang menjalaninya. Orang tersebut akan stres, marah, cemas, bahkan bertindak agresif. Ditulis pada jurnal Empati berjudul “Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Intensi Agresi pada Siswa Kelas XI SMK X Semarang” oleh Reza Anantyo Adhi P. dan Endang Sri Indrawati, pada dalam bab Pendahuluan dikatakan Utomo & Warsito (2012) melakukan penelitian. Hasilnya, agresi cenderung diakibatkan dari adanya pengharapan atau keinginan oleh subjek yang tidak tercapai. Itu berarti, ekspektasi yang diciptakan seseorang berkaitan dengan emosi yang akan dirasakan.

Namun ternyata, emosi negatif tersebut dalam dikendalikan dengan Stoisisme. Berdasarkan buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, filosofi yang berusia lebih dari dua ribu tahun ini dibuat oleh filsuf Yunani kuno bernama Zeno. Stoicism berasal dari kata stoa (bahasa Yunani yang berarti teras). Pada saat itu, Zeno senang mengajar di sebuah teras. Oleh sebab itu, pengikutnya diberi nama kaum Stoa.

Dikutip dari saluran Youtube Satu Persen-Indonesian Life School, video berjudul “Filosofi Stoicism: Belajar Menjadi Manusia (Filosofi Teras)” mengatakan bahwa filosofi ini relevan dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan oleh latar belakang para tokoh besarnya yang berbeda. Contohnya, Marcus Aurelius adalah seorang kaisar Romawi, Saneca adalah seorang penasihat kaisar Romawi, dan Epictetus adalah seorang budak. Artinya, semua orang dari berbagai kedudukan dapat menerapkan filosofi ini.  

Dalam video berjudul “Filosofi Stoicism (Ekspektasi & Kebahagian) dikatakan, filosofi ini mengajarkan bahwa ekspektasi terburuk adalah ekspektasi yang terbaik dalam memandang masa depan. Orang yang menganut Stoisisme percaya bahwa memikirkan sesuatu yang berjalan dengan buruk akan menjadikan dirinya lebih siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut.

Dalam video itu juga dijelaskan, Stoisisme tidak menyerukan orang-orang untuk berpikir negatif karena tidak adanya harapan bahwa sesuatu akan berjalan mulus. Hanya saja, filosofi ini mengajak untuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi dan tidak mengharapkan hasil yang lebih pada sesuatu yang ingin dilakukan. Oleh karena itu, jika kemungkinan buruk itu terjadi, tidak alasan untuk terlalu lama bersedih. Namun jika berjalan dengan mulus, hal itu akan meningkatkan rasa syukur karena hasil yang didapatkan melebihi harapan. 

Selain itu, melansir dari buku Filosofi Teras, Stoisisme adalah sebuah filosofi yang mengajarkan untuk hidup dengan emosi negatif dan kebajikan. Para filsuf Stoa tidak hanya menekankan pada pengendalian emosi yang tinggi tetapi juga mengasah virtue (baca: kebajikan). 

Selanjutnya, dalam buku Stoicism and The Art of Happiness oleh Donald Robertson tertulis pula makna hidup yang disebut dengan arate. Dalam bahasa Yunani, arate berarti hidup dengan sebaik-baiknya menggunakan sesuatu yang telah diperuntukan bagi kita. Sehingga, filosofi Teras percaya bahwa hidup haruslah dengan kebajikan.

Orang-orang yang menganut filosofi ini dapat mengendalikan kebahagiaan melalui ekspektasi. Walaupun gagal, mereka bukan dilarang untuk menjadi tidak emosi melainkan diajarkan untuk meregulasi emosi sehingga dapat menjadi ikhlas. Di sisi lain, hal ini juga bukan berarti tidak berusaha untuk mencapai keberhasilan, sebagaimana yang dikutip dari video “Filosofi Stoicism (Ekspektasi & Kebahagiaan)”. 

 

Astri Oktaviani

Tag:    gaya-hidup  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top