Artificial Intelligence: Inovasi Teknologi Untuk Mendukung Bahasa Isyarat -

Artificial Intelligence: Inovasi Teknologi Untuk Mendukung Bahasa Isyarat


maulanayusuf.com
Inovasi Teknologi yang Mendukung Bahasa Isyarat/LPM Industria/freepik.com

lpmindustria.com - Teknologi bahasa isyarat yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI) menunjukkan kemajuan dalam penerapannya untuk memberikan solusi komunikasi efektif kepada penyandang tuna rungu. Tantangan terkait aksesibilitas dan akurasi sistem menjadi perhatian, namun teknologi ini membuka peluang inklusivitas dan perbaikan dalam komunikasi sehari-hari.

Perkembangan teknologi berjalan semakin pesat dengan disertai kemunculan Artificial Intelligence (AI) dan cabang-cabang kecerdasan buatan lainnya, seperti Machine Learning (ML) yang telah diterapkan sebagai teknologi pendukung. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengembangan teknologi bahasa isyarat sebagai fasilitas penyandang tuna rungu dalam mengurangi hambatan berkomunikasi. Dari ACM Digital Library, dalam jurnalnya, Daniel Brag, dkk., menyatakan bahwa gagasan penggunaan AI/ML untuk bahasa isyarat bukanlah hal yang baru, teknologi kini telah maju ke titik di mana pengembangan teknologi bahasa isyarat menjadi semakin mudah dilakukan.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), terdapat 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran (6.1% dari total populasi di dunia) dengan rincian 34 juta merupakan anak-anak dan 432 juta adalah orang dewasa. Perkembangan teknologi bahasa isyarat ini didasari karena hambatan yang terjadi ketika penyandang tuna rungu berkomunikasi dengan orang yang tidak memahami bahasa isyarat. Meski bahasa isyarat telah dipopulerkan di berbagai lembaga pendidikan seperti sekolah dasar hingga perguruan tinggi, hanya sedikit yang merasakan penggunaan bahasa isyarat tersebut di kehidupan masyarakat.

Menurut Papastratis, dkk., dari jurnalnya di Sensors, MDPI (Multidisciplinary Digital Publishing Institute), kondisi tersebut membuka peluang bagi teknologi AI untuk menciptakan teknologi bahasa isyarat dengan memanfaatkan rekaman gerakan dan representasi realistis. Representasi ini mencakup ekstraksi gerakan tangan yang dikumpulkan dalam satu dataset. Selain itu, sistem pendukung pengembangan teknologi ini melibatkan Machine Learning (ML) dalam penyusunan secara spesifik terkait artikulasi manusia ke dalam tanda-tanda atau kalimat. Ekstraksi berupa gerakan tangan dan tubuh serta ekspresi wajah yang akurat. Hal ini berperan penting pada penyusunan algoritma pembelajaran mesin dalam membuat tanda-tanda (sign) yang kuat dan akurat. Sistem ini kemudian dilengkapi dengan sensor visual, baik pendekatan video atau berupa avatar realistis. Sensor lain yang efektif dalam menangkap bentuk 3D tangan dan jari tanpa harus mengoperasikan di dekat subjek adalah Leap Motion. Penggunaan sensor ini dibantu dengan antena pembaca sinyal (RFID) yang dilengkapi dengan tag yang mampu mendeteksi posisi tubuh atau tangan manusia.

Penerapan teknologi ini memiliki berbagai cara untuk implementasinya. Dilansir dari antaranews.com, Terdapat sebuah perusahaan di Jepang yang telah menciptakan teknologi Instant Voice to Text. Meskipun ide penggunaan AI/ML untuk bahasa isyarat bukanlah hal yang baru, kemajuan teknologi saat ini telah memungkinkan pengembangan teknologi bahasa isyarat menjadi semakin mudah dilakukan. Contoh lainnya adalah beberapa perusahaan seperti MotionSavvy dan SignAll yang telah mengonfirmasi bahwa mereka telah menyediakan fasilitas penerjemah bahasa isyarat dengan teknologi 3D, yaitu Leap Motion.

Teknologi bahasa isyarat ini menjadi salah satu teknologi penunjang bagi penyandang tuna rungu, karena mudah digunakan dan efektif ketika penyandang tuna rungu ingin berkomunikasi dengan individu yang tidak mengerti bahasa isyarat. Teknologi ini mampu menjadi perantara dalam menyampaikan perasaan, ide, dan informasi. Meskipun memiiki banyak kelebihan, teknologi ini juga memiliki beberapa hambatan, seperti kurangnya akses bagi penyandang tuna rungu untuk menggunakan teknologi bahasa isyarat, kesulitan bagi penerjemah bahasa isyarat karena kurangnya dataset bahasa isyarat dalam berbagai bahasa dan tidak menutup kemungkinan memiliki potensi ketidakakuratan sistem.

Penulis: Haidar 
Editor: Galih Baratha Adi

Tag:    artificial-intelligence  |  bahasa-isyarat  |  inovasi  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top