Kota DKI Jakarta Meraih Peringkat ke-2 dengan Kualitas Udara Terburuk Sedunia -

Kota DKI Jakarta Meraih Peringkat ke-2 dengan Kualitas Udara Terburuk Sedunia


maulanayusuf.com
Kota DKI Jakarta Meraih Peringkat ke-2 dengan Kualitas Udara Terburuk Sedunia/Lpm Industria/Antaranews.com

Lpmindustria.com - Jakarta menjadi peringkat kedua dengan kualitas udara terburuk didunia. Hal tersebut menjadikan Jakarta termasuk dalam kategori udara tidak sehat yang dapat memicu berbagai risiko kesehatan.

Berdasarkan data dari situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.58 WIB, nilai indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta mencapai 191, dikarenakan hal itu Jakarta  berada di peringkat kedua dan masuk dalam kategori tidak sehat. Selanjutnya diikuti oleh kota Kampala di Uganda yang berada di peringkat ketiga dengan nilai AQI 167, lalu diikuti oleh Dubai di Uni Emirat Arab di peringkat keempat dengan nilai AQI 166 dan diikuti oleh kota Kinshasa di Kongo di peringkat kelima dengan nilai AQI 163.

Diperingkat selanjutnya yaitu peringkat keena ada Aljir di Algeria dengan nilai AQI 141, dan di peringkat ketujuh ada kota Santiago di Cili dengan nilai AQI 130. Tak hanya itu peringkat kedelapan ditempati Kairo di Mesir dengan nilai AQI 122 dan peringkat kesembilan adalah Addis Ababa di Etiopia dengan nilai AQI 112, serta di peringkat ke-10 ada kota Lahore di Pakistan dengan nilai AQI 111. Meskipun peringkat kualitas udara Jakarta menurun, nilai AQI justru meningkat. Hal ini patut diwaspadai karena dapat merugikan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Berbagai kategori kualitas lainnya seperti kategori berbahaya dengan rentang 300-500, secara umum dapat menyebabkan dampak serius pada kesehatan. Kemudian, kategori sangat tidak sehat berada di rentang Particulate Matter (PM2,5) antara 200-299. Kota Delhi, India berada di urutan pertama dengan AQI 270, ditingkat ini kualitas udara berbahaya bagi kesehatan sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sedangkan, kualitas udara kategori sedang dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100, rentang ini tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, tetapi berdampak buruk pada tumbuhan sensitif. Sementara itu, kategori baik di rentang PM2,5 sebesar 0-50 yang tidak memberikan efek kesehatan bagi manusia atau hewan, serta tidak berdampak pada tumbuhan, bangunan, atau nilai estetika.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah DKI Jakarta menerapkan berbagai solusi penanganan pencemaran udara. Pertama, menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Pencemaran Udara di Provinsi DKI Jakarta. Kedua, mengendalikan polusi dari industri dan memantau kualitas udara secara berkala. Ketiga, mencegah sumber pencemar dari berbagai sumber dan menangani keadaan darurat. Keempat, menerapkan wajib uji emisi kendaraan bermotor. Kelima, melakukan peremajaan angkutan umum dan mengembangkan transportasi ramah lingkungan. Keenam, meningkatkan ruang terbuka dan bangunan hijau serta menggiatkan gerakan penanaman pohon.

Untuk terlaksananya kebijakan tersebut dengan baik, maka perlu melibatkan kesadaran dari berbagai pihak. Dengan menyadari masalah kualitas udara Jakarta yang menempati peringkat kedua terburuk di dunia, diharapkan masyarakat lebih peduli dan berupaya meningkatkan kualitas udara menjadi lebih sehat.

Penulis: Nandra Ayu Saputri
Editor: Najla Aulia

Tag:    dunia  |  indonesia  |  jakarta  |  lingkungan  |  peristiwa  |  udara  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top