Yusar Mikail, Sosok Dibalik Rumah Langit -

Yusar Mikail, Sosok Dibalik Rumah Langit


maulanayusuf.com

lpmindustria.com - Rumah Langit merupakan suatu wadah bagi para pegiat kemanusiaan untuk menuangkan segala pemikiran demi terciptanya sumber daya manusia yang berwawasan luas. Banyak masyarakat yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu karena mahalnya biaya pendidikan. Hal tersebut yang mendorong Yusar Mikail menggagas Rumah Langit sebagai tempat belajar bagi anak-anak pra-sejahtera.

 

Rumah Langit berlokasi di Kramat Jati, Jakarta Timur menjadi tempat belajar secara gratis, sekaligus sebagai rumah singgah bagi anak-anak pemulung yang berada sekitar 500 meter dari lokasi. Terdapat sosok luar biasa dibalik berdirinya Rumah Langit. Dia adalah Yusar Mikail, pendiri serta penggagas dari Rumah Langit. Yusar yang dahulunya suka mengajar ngaji tersentuh akan sifat ustaznya yang tak pernah dibayar dan selalu ikhlas saat mengajar. Hal inilah yang melatarbelakangi dirinya membuat Rumah Langit. “Dia tidak pernah dibayar, tidak pernah marah, yang datang satu atau dua anak dia layani, yang datang banyak dia senang,” tutur Yusar. Bahkan saat pergi ke tempat pengajian lain, ia hanya disuruh menimba air di sumur. “Setelah ngaji itu nimba. Ustaznya tidak mau dibayar, jadi kerjaannya ngisi bak ustaz,” lanjutnya.

Ketika duduk dibangku SMA, Yusar pernah ikut pertukaran pelajar ke New Zealand. Lalu, saat masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, ia bekerja di kedutaan Australia. Ia juga membantu organisasi pertukaran pelajar seperti AFS, Rotary Club, dan Nacel Open Door. Selain itu, Yusar juga senang traveling, tak jarang ia bolos kuliah dan pergi ke suatu tempat untuk urusan pekerjaan. “Saya suka traveling, jadi sering bolos kuliah. Nanti tiba-tiba sudah ada di Amerika, lalu ada kerjaan lagi tiba-tiba ada di Kanada. Waktu skripsi saya juga kabur untuk kerja di Australia, akhirnya disuruh pulang untuk menyelesaikan skripsi. Setelah skripsi selesai, disini saja sampai sekarang,” ungkap Yusar.

Sebelum berdirinya Rumah Langit, Yusar telah mencoba berbagai pekerjaan. Mulai dari bekerja di perusahaan asing, membuka usaha sendiri, hingga akhirnya menjadi freelancer desain interior. “Saya dulu kuliah jurusan Teknik Industri, saya kerja sesuai jurusan tapi karena senang jalan-jalan jadi tidak betah dan akhirnya keluar. Dulu juga pernah usaha agroindustri, tapi bangkrut. Pernah juga jualan eskrim, bangkrut juga. Sampai akhirnya mulai desain dan jadi pekerjaan saya sekarang,” tuturnya.

Rumah Langit yang didirikan Yusar ini dulunya merupakan gudang barang bekas yang kemudian direnovasi olehnya. “Tadinya ini gudang barang bekas milik teman dan ingin dirubuhin, tapi saya minta untuk dijadikan tempat kegiatan sosial. Akhirnya saya renovasi dan jadilah seperti ini,” ucap Yusar. Rencana awal dibangunnya Rumah Langit adalah untuk bimbingan belajar kelas enam SD dan tiga SMP. Namun, saat masa pembangunannya Yusar melihat anak-anak pemulung berlalu-lalang di depan rumah tersebut. Akhirnya ia mengajak anak-anak tersebut untuk belajar di Rumah Langit.

Dalam perkembangan Rumah Langit, Yusar tentu tidak sendiri. Saat Yusar membuat Rumah Langit, teman-temannya ikut membantu dalam pembentukan Rumah Langit. “Ada yang menyumbang AC bekas, kursi, komputer serta printer, dan lainnya,” kata Yusar. Lalu ada sang istri yang setiap hari membuatkan makanan untuk anak-anak yang sedang belajar. Tak lupa juga pengajar yang lambat laun semakin bertambah jumlahnya, padahal mereka tidak ada yang dibayar. “Yang ngurus harus rela, yang ngajar harus rela, yang diajar juga harus rela,” lanjutnya. Namun, bukan berarti Rumah Langit tak mempunyai hambatan. Dari banyaknya kemudahan yang diterima Yusar, ada saja hal yang membuat anak-anak pemulung yang datang belajar jumlahnya sedikit. Salah satunya adalah isu penculikan. “Orang tua anak-anak pemulung juga takut anaknya diculik. Isu-isu yang mudah diterima oleh mereka. Kalau masalah dana, Alhamdulillah ada saja yang ngasih,” jelas Yusar.

Ia dikenal dengan sifat bersahabat  kepada para pengajar. Ia juga suka memberikan nasihat, karena memiliki pengalaman hidupnya yang banyak. Walaupun demikian, dengan pembawaannya yang santai Yusar juga bisa tegas. “Pak Yusar itu baik, suka bercanda dengan pengajar, asik juga kalau diajak sharing. Walaupun Bapak suka bercanda, tetapi dia juga bisa tegas. Jadi kalau ada satu program yang harus kita fokusin untuk anak-anak, dia juga bisa tegas tapi tetap dengan pembawaannya yang santai,” jelas Umam, salah satu pengajar dari Universitas Indraprasta PGRI.

Yusar berharap untuk kedepannya Rumah Langit dapat menginspirasi teman-teman di tempat lain untuk membuat rumah seperti Rumah Langit. “Saya ingin nantinya akan tumbuh 1000 Rumah Langit baru. Namun, diolah secara mandiri, kita support apa yang bisa kita support. Jadi, ke 1000 Rumah Langit mereka mempunyai brand sendiri,” jelas Yusar. Yusar juga ingin kedepannya Rumah Langit bisa mempunyai tempat sendiri dan diwakafkan. “Kita juga ingin mempunyai tempat sendiri dan diwakafkan, karena sekarang masih tempat orang lain. Jadi Rumah Langit ini bukan punya siapa-siapa, dan di Indonesia juga sudah ada badan wakaf nasional. Kemudian disertifikasi dan sampai kapanpun yang sudah disertifikasi tidak bisa diklaim seseorang yang bukan haknya,” tutup Yusar.

 

Hanifati Sabila

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top