Dari Limbah Kertas, Mewujudkan Kesetaraan Pendidikan Anak Jalanan -

Dari Limbah Kertas, Mewujudkan Kesetaraan Pendidikan Anak Jalanan


maulanayusuf.com

lpmindustria.com - Bisnis dengan memanfaatkan pengolahan limbah menjadi barang yang bernilai sudah biasa kita jumpai. Namun, berkat kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan, Nara Kreatif bisa mewujudkan kesetaraan pendidikan untuk anak jalanan melalui bisnis olahan limbah kertas.

Kertas merupakan salah satu benda yang sering kita temukan dalam kegiatan sehari-hari, baik digunakan sebagai media tulis, media baca, pembungkus, dan lain sebagainya. Namun, banyak juga kita jumpai limbah atau sampah yang  ternyata berasal dari kertas. Hal inilah yang membuat Nara Kreatif, berhasil menyulap olahan sampah kertas yang sudah tidak terpakai menjadi produk dengan mutu dan kualitas baik. Pengolahan sampah kertas ini, bertujuan untuk memberikan solusi selektif bagi keberadaan sampah di Indonesia melalui program “RETASAMPAH”. Program ini ditujukan untuk meningkatkan gaya hidup ramah lingkungan maupun perusahaan melalui penghematan penggunaan kertas.

Nara Kreatif yang dibentuk pada tahun 2012, merupakan social enterprise (dibaca: kewirausahaan sosial) di Indonesia yang berfokus pada pemecahan masalah pendidikan anak-anak prasejahtera melalui pemanfaatan olahan sampah. Melalui pemanfaatan olahan sampah tersebut, Nara Kreatif memiliki visi untuk dapat mengurangi angka putus sekolah 3 juta orang di Indonesia pada tahun 2030. “Pasti lebih ke sisi bisnis dari tim Nara Kreatif. Namun, untuk menghidupi kegiatan sosial kita disini, kita juga produktifitas, yaitu dengan bekerja sama dengan perusahaan untuk menghasilkan suatu produk. Nah, itulah yang akan menghidupi program-program kita yang ada di Nara Kreatif,” jelas Nezatullah Ramadhan, selaku pendiri Nara Kreatif.

Dalam menghasilkan produk-produknya, Nara Kreatif membutuhkan bahan baku yang berasal dari limbah untuk didaur ulang. Adapun limbah yang digunakan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu limbah pertanian dan limbah perusahaan. “Bahan bakunya berasal dari limbah pertanian dan perusahaan. Biasanya itu limbah pertanian dari kedebong pisang, eceng gondok. Sedangkan dari limbah perusahaan seperti, sampah kertas, koran dan sebagainya,” ucap Rosim, selaku bagian produksi Nara Kreatif. Limbah-limbah tersebut awalnya didapatkan dengan membeli dari beberapa pemasok. Namun, saat ini limbah tersebut sudah didapatkan secara gratis dari beberapa pemasok lainnya. “Kalau untuk limbah pertanian didapat dari warga belajar dan sekitarnya, sedangkan limbah perusahaan berasal dari mitra perusahaan yang berkerjasama dengan nara kreatif. Biasanya, limbah kertas yang tidak digunakan perusahaan diberikan ke Nara Kreatif,  kemudian kita olah dan dibuat produk yang sesuai kebutuhan,” jelas Rosim.

Pengolahan limbah menjadi suatu produk perlu melalui beberapa tahap proses. Proses pertama yang dilakukan yaitu, limbah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, lalu dijemur dibawah sinar matahari selama tujuh sampai sepuluh hari. Kemudian, dijadikan pulp (baca: tekstur seperti bubur) dengan cara diblender hingga halus. Setelah diblender, pulp tadi disaring dan dicetak serta dilakukan pengeringan kembali dibawah sinar matahari. Pada tahapan terakhir proses, pulp yang telah dikeringkan barulah dibuat sesuai dengan permintaan produk yang ada. Menariknya, semua pengerjaan prosesnya dilakukan oleh anak asuh Nara Kreatif yang sebelumnya telah diajari terlebih dahulu.

Produk yang dihasilkan oleh Nara Kreatif sendiri berupa tisu, banner, binder buku, goodie bag, paper bag dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut telah dijual di beberapa perusahaan. “ Dari tahun 2013, kita sudah melakukan pre order ke beberapa perusahaan, seperti perusahaan BNI Syariah dan Nutrifood. Selain itu, produk Nara Kreatif juga telah terjual hingga ke Pulau Sumatera,” tutur Rosim.

 

Aditya

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top