Pekan Jurnalistik: Data dalam Era Keterbukaan Informasi -

Pekan Jurnalistik: Data dalam Era Keterbukaan Informasi


maulanayusuf.com

lpmindustria.com - LPM Media Publika telah melaksanakan kegiatan Pekan Jurnalistik 2018 bertemakan Jurnalisme Data dalam Era Keterbukaan Informasi. Rangkaian kegiatan Pekan Jurnalistik 2018 berlangsung selama tiga hari dengan topik seminar yang menarik dan bermanfaat.

Selasa (27/11) hingga Kamis (30/11) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Media Publica, Universitas Prof. Dr. Moestopo mengadakan kegiatan Pekan Jurnalistik 2018. Kegiatan tersebut  diselenggarakan di Laboratorium Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Univ. Prof. Dr. Moestopo dengan tema “Jurnalisme Data dalam Era Keterbukaan Informasi”. Rangkaian Pekan Jurnalistik 2018 ini turut mengundang beberapa pembicara, diantaranya: Rahadian P. Paramitha selaku Wakil Pemimpin Redaksi beritagar.id, Imam Wahyudi selaku Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat & Penegakan Etika Pers, Dr. Hendrasmo selaku Tenaga Ahli Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, dan Bagja Hidayat selaku Redaktur Pelaksana Tempo.co.

Rangkaian kegiatan hari pertama, terdapat seminar dengan topik pembahasan "Jurnalisme Robot dan Masa Depan Jurnalis" yang dibawakan oleh Rahardian P. Paramitha selaku Wakil Pemimpin Redaksi beritagar.id. Rahardian mengungkapkan bahwa Jurnalisme Robot di masa sekarang dan masa yang akan datang merupakan sebuah software yang digunakan jurnalis untuk membuat berita yang berbasis data (data grafik). “Jadi jurnalis jangan takut untuk kehilangan pekerjaannya, karena Jurnalisme Robot hanya digunakan untuk memperoleh data. Hanya pekerjaan repetitif saja yang akan digantikan oleh robot. Namun, pekerjaan kreatif yang belum bisa disentuh oleh robot tetap dikerjakan oleh manusia, seperti hal nya berita human interest, investigasi, feature dan lain sebagainya,” ucap Rahadian.

Kegiatan hari kedua, diadakan seminar dengan topik pembahasan "Etika Mengutip Data dari Media Sosial" dibawakan oleh Imam Wahyudi selaku Anggota Dewan Pers, serta Dr. Hendrasmo selaku Staff Ahli Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik. Hendrasmo menyampaikan bahwa 60% konten media sosial merupakan hoaks. Mayoritas hoaks berada pada konten-konten sosial politik dan isu Suku, Ras, Agama, dan Antar Golongan (SARA). “Banyaknya konten hoax yang beredar, Departemen Komunikasi dan Informasi atau Kominfo sudah memblokir lebih dari 800 situs penyebar hoaks untuk mengurangi hoaks yang beredar,” ujar Hendrasmo. Imam Wahyudi turut menambahkan cara menanggapi informasi, “Pertama  tanyakan pada diri sendiri apakah bermanfaat atau tidak. Jika bermanfaat, boleh kita sebar tetapi harus di verifikasi terlebih dahulu, jika tidak bermanfaat maka tidak perlu disebar.” ujar Imam.

Pada hari terakhir acara ini, diadakan seminar dengan topik pembahasan "Jurnalisme Investigasi: Teknik Reportase Berita" bersama Bagja Hidayat selaku Redaktur Pelaksana Tempo.co. Bagja Hidayat menjelaskan cara kerja wartawan investigasi, “Pertama, wartawan investigasi harus selalu penasaran. Kedua, wartawan investigasi harus curiga akan sesuatu hal yang belum diverifikasi. Dengan menggunakan dokumen, bertanya kepada orang yang berada di sekitar tempat kejadian, dan mendengar cerita dari berbagai sumber merupakan senjata wartawan investigasi untuk memverifikasi suatu kasus,” jelas Bagja.

Akhir dari kegiatan Pekan Jurnalistik 2018, ditutup oleh pembawa acara dengan pemahaman kembali rangkaian materi yang telah dijelaskan oleh pembicara serta penampilan band akustik dari Wadah Kegiatan Mahasiswa (WKM) Komunitas Musik Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Fikom.

 

Achmad Adi Surachman

 

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top