Meninjau Kinerja PIKKO KIKO di Politeknik STMI Jakarta -

Meninjau Kinerja PIKKO KIKO di Politeknik STMI Jakarta


maulanayusuf.com

lpmindustria.com - Hubungan kerja sama PIKKO KIKO terhadap Politeknik STMI Jakarta sudah berjalan tiga tahun, dampak yang ditimbulkan dengan adanya kerja sama tersebut salah satunya sebagai wadah untuk mahasiswa yang hendak melakukan program pemagangan. Lantas bagaimana kinerjanya selama ini?

Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif & Koperasi Industri Komponen Otomotif (PIKKO KIKO) masih menjalin kerja sama dengan kampus Politeknik STMI Jakarta. Tujuan dari adanya kerja sama tersebut salah satunya sebagai wadah alternatif mahasiswa dalam program magang atau kerja lapangan pada semester akhir. “Mendekatkan industri dengan kampus, bertujuan agar dapat membantu mahasiswa dalam melakukan proses magang di industri. Politeknik STMI Jakarta masih menjalin kerjasama yang baik dengan PIKKO KIKO” ujar Ridzky Kramandita selaku Pembantu Direktur 1 bidang Akademik.

Perkembangan Politeknik STMI Jakarta saat ini sedang mencari sasaran pasar yang paling cocok, Ridzky juga memandang bila dilihat dari kondisi Indonesia lebih condong mengarah pada industri kecil. Namun, beliau menilai industri kecil masih tergolong belum begitu siap dibanding industri besar. “Itu memang masih dijajaki, yang terpenting kita dekati semuanya. Baik itu industri kecil maupun besar, karena kita bisa masuk dikeduanya,” ungkap Ridzky. Mengenai prosedur atau tata cara ketika hendak melakukan proses magang dengan PIKKO KIKO, mahasiswa cukup menanyakan langsung dengan Program Studi (Prodi) nya masing-masing.

Terkait kerja sama yang telah berjalan sejak tahun 2015 silam. Ketua Prodi (Kaprodi) Teknik Industri Otomotif (TIO) mengaku sangat terbantu dengan adanya kerja sama tersebut.  “PIKKO KIKO itu membantu, penerimaannya juga baik,” terang Muhammad Agus selaku Kaprodi TIO. Ia kerap kali merasa tertunjang oleh PIKKO, terbukti pada Prodi TIO tahun lalu banyak mahasiswanya yang melaksanakan magang melalui PIKKO KIKO. Senada dengan Agus, Ridzky Kramandita salah satu dosen pembimbing pada Prodi Sistem Informasi Industri Otomotif (SIIO) juga merasa terbantu dengan keberadaan PIKKO KIKO. “Mahasiswa bimbingan saya ada tiga yang magang disana,” papar Ridzky. Namun sangat disayangkan, Agus merasa bahwa beberapa mahasiswa yang hendak melakukan pemagangan tergolong pemilih. Terkadang mereka lebih memilih perusahaan besar daripada perusahaan sekelas Industri Kecil Menengah (IKM).

Selain itu, Prodi Teknik Kimia Polimer (TKP) pun turut mengungkapkan penjelasannya. Roosmiharso selaku Kaprodi TKP memandang PIKKO kerap membantu dalam hal kunjungan industri. Akan tetapi, jika dilihat mengenai pemagangan melalui PIKKO KIKO, Roosmiharso masih belum sepenuhnya terbantu. “Kita di Polimer kan spesialis plastik, kalau di PIKKO KIKO mayoritas adalah pemasok bahan baku dari metal,” jelas Roosmiharso. Beliau juga menambahkan, dari banyaknya perusahaan naungan PIKKO KIKO hanya terdapat satu perusahaan yang berbahan baku plastik. Mengenai mahasiswa Prodi TKP yang melakukan pemagangan melalui PIKKO KIKO, hanya satu mahasiswa saja yang pernah magang melalui PIKKO KIKO.

Lain halnya dengan Prodi Administrasi Bisnis Otomotif, menurut Sri Daryuni selaku Kaprodi Administrasi Bisnis Otomotif (ABO), keberadaan PIKKO KIKO dinilai cukup membantu dalam hal program pemagangan mahasiswa. “Ketika ada panggilan lowongan magang, kemudian saya langsung memilih mahasiswa untuk langsung ditempatkan disana,” ucap Yuni. Namun, menurut Yuni pemagangan melalui PIKKO KIKO masih terbilang musiman. Dalam artian pihak PIKKO KIKO tidak setiap saat membuka lowongan pemagangan. Ketika memang ada lowongan melalui PIKKO KIKO, maka Yuni akan manfaatkan sebaik-baiknya. “Kalau ada lowongan, ya kita masuk. Kalau tidak ada, kita cari dari luar PIKKO KIKO,” terang Yuni.

Menanggapi kinerja PIKKO KIKO tersebut, adapun respon para mahasiswa terkhusus angkatan 2015. Salah satunya Nurhidayat Tulloh, ia menjelaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan apabila harus melaksanakan magang pada perusahaan setingkat Industri Kecil Menengah (IKM). “Ketika magang di IKM, justru terdapat keuntungannya. Kita bisa lebih mudah dalam menemukan suatu permasalahan untuk penyusunan Tugas Akhir,” tuturnya. Nurhidayat turut berharap supaya kerja sama ini terus berlanjut. “Semoga untuk kedepan hasilnya semakin terlihat terkhusus untuk para mahasiswa,” harap mahasiswa Prodi Teknik Industri Otomotif ini.

 

Fandi Prasetio

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top