Menghidupkan Sejarah Bersama Komunitas Doyan Sejarah -

Menghidupkan Sejarah Bersama Komunitas Doyan Sejarah


maulanayusuf.com

lpmindustria.com - Sejarah menjadi hal yang kian terlupakan seiring berjalannya waktu. Hingga akhirnya Komunitas Doyan Sejarah hadir untuk menghidupkan kembali sejarah leluhur yang semakin redup .

Dewasa ini sejarah kian tergerus oleh waktu dan telah diragukan kebenerannya. Generasi muda semakin banyak yang tidak peduli dengan sejarah leluhurnya sendiri. Berangkat dari keprihatinan terhadap sejarah yang mulai terlupakan, Jiwo Kusumo, seorang pria kelahiran Kota Solo membentuk sebuah komunitas berlatar belakang sejarah. Pria yang juga berprofesi sebagai sutradara, membentuk Komunitas Doyan Sejarah yang telah ia rintis sejak tahun 2016 silam. Ia mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang tertarik dengan sejarah. “Sebenarnya Doyan Sejarah sudah dirintis sejak November 2016, tapi saya masih gerak sendiri. Selama berjalan saya sambil mencari anak-anak muda yang suka sejarah,” jelas Jiwo Kusumo.

Meski telah dirintis sejak tahun 2016, namun Komunitas Doyan Sejarah baru dideklarasikan pada 8 Agustus 2018. Selama dua tahun perjalanannya, Komunitas Doyan Sejarah tak luput dari berbagai kendala. Anggota yang pada awalnya banyak, dengan seiringnya waktu mengalami penurunan anggota. Namun, hal itu tidak melunturkan semangat Jiwo Kusumo. Ia berjalan sendiri hingga akhirnya menemukan anggota yang tepat. “Saya menginginkan pengurus yang pas, tidak terlalu cerdas juga tidak bodoh juga,” tutur Jiwo Kusumo yang akrab dipanggil Mas Jiwo.

Anggotanya pun tak sebatas hanya di sekitar Jabodetabek (baca: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), namun ada juga yang berdomisili di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak hanya itu, anggota Komunitas Doyan Sejarah juga berasal dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Jiwo selaku pendiri menginginkan Komunitas Doyan Sejarah dapat merambah keseluruh daerah yang ada di Indonesia. “Saat ini memang hanya ada di Jakarta saja, tapi saya inginnya nanti disetiap daerah ada. Saya sedang mencari orang yang bisa menggerakkan itu,” tutur Mas Jiwo

Perubahan zaman membuat sejarah semakin mudah untuk direkayasa. Sejarah menjadi sulit untuk dipastikan kebenarannya. Di Komunitas Doyan Sejarah, materi sejarah dikulik secara mendalam. Tidak hanya sebatas yang tertera di dalam buku, tetapi mencari tahu lebih dalam terhadap sesuatu yang terjadi. Hal tersebut dibahas secara mendalam dalam setiap diskusi yang diadakan oleh Komunitas Doyan Sejarah. Diskusi yang dilakukan menggunakan media film sebagai pengantarnya, karena dari visual peserta diskusi akan lebih mudah untuk memahami materi yang akan didiskusikan. “Kebetulan saya membuat film jadi yang saya gunakan untuk memperkenalkan sejarah adalah dunia film, karena dengan visual akan ada penggambaran yang menarik untuk didiskusikan,” jelas Mas Jiwo.

Selain diskusi film, baru-baru ini Komunitas Doyan Sejarah memiliki kegiatan berupa safari situs. Safari situs adalah kegiatan kunjungan ke situs-situs bersejarah yang terdapat di Indonesia. Namun, untuk saat ini situs yang dikunjungi oleh Komunitas Doyan Sejarah masih sebatas situs yang berada di Pulau Jawa. Selain itu, Jiwo berencana ingin membuat kegiatan berupa cosplay tokoh-tokoh bersejarah. Melalui cosplay, ia ingin mengemas sejarah menjadi menarik dan tidak monoton. “Saya ingin membuat cosplay seperti di Jepang. Saya ingin mengemas sejarah seperti itu bukan hanya buku yang bertumpuk,” tutur Mas Jiwo.

Dari kegiatan safari situs yang dilakukan oleh Komunitas Doyan Sejarah ada berbagai hal yang dapat dijadikan pembelajaran, selain sebagai ajang untuk berfoto-foto. Hafidz Fathurrohman, Sekretaris Komunitas Doyan Sejarah berpesan seharusnya generasi muda saat ini dapat bersatu dan menjadi generasi yang dapat menghargai sejarah leluhurnya. “Yuk! mari kita sebagai anak muda kembali ke jati diri kita, kita harus kembali bersatu. Kita harus bisa menjadi generasi yang tidak durhaka kepada leluhur kita. Yuk! mari kita menjadi generasi yang dapat menghargai sejarahnya,” harap Hafidz.

 

Lailla Nur Viliansah

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top