Sebuah Tempat -

Sebuah Tempat


maulanayusuf.com
Doc. Google

Aku kini berada pada tempat yang baru, tempat dimana pertama kalinya diriku berkecimbung dengan keadaan seperti ini. Terdapat tiga barisan besar yang memperkuatkan pondasi  tempat ini. Aliran tulisan banyak berhamparan, seolah menjadi ciri khas tersendiri pada tempat ini. Menghasilkan tulisan sudah menjadi kawan kita sehari-hari.

Aku hanya seorang laki-laki yang kehadirannya tidak sengaja berdiam ditempat ini, entah kenapa daya tarik tempat ini sungguh kuat, hingga akhirnya aku pun terperangkap disini. Seseorang pernah berkata “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

Membaca kalimat tersebut membuat aku berpikir, bahwa hidup bukan hanya sekadar untuk mencari ilmu, tapi juga mengamalkannya dan saling berbagi terhadap sesama.

Aku terlahir sebagai manusia biasa yang suka bercerita dengan fiksi, dan kerap mengungkapkan rasa dengan tulisan. Sudah lebih satu tahun diriku berada disini, membaca serta menulis berbagai cerita telah ku lalui. Rasa ingin mengenang sebuah karya muncul kala itu, aku ingin mengabadikan nama pada karya-karya ku disini. Bebas menungkan karya, serta melihat karya-karya teman, semua bersatu padu menjadikan nuansa indah tersendiri.

Aku memang sengaja bernaung disini, dimana aku merasa bisa menjadi lebih berguna. Namun, perpisahan sering terjadi pada tempat ini. Ada yang datang, kemudian tidak lama kemudian ada pula yang pergi. Entah kenapa bila berada disini harus membutuhkan tekad, serta kepercayaan diri yang besar. Belum sempat kita menunjukan hasil karya hingga akhir, mereka sudah pergi. Sudahlah, semua mempunyai jalannya masing-masing.

Pagi hari, aku hendak mulai menjalankan rutinitas ku, semua berjalan lancar. Kemudian tiba-tiba terselip satu kata memenuhi benak ku, “jenuh”. Kata yang sering kali mucul di otak ku akhir-akhir ini. Menghirup udara pagi yang segar kemudian menghempaskannya beberapa kali menjadi penawar penenang kala itu.

Kalimat tersebut mulai menghantui ku, rasa bosan akan nuansanya membuat diriku enggan berlama-lama ditempat ini. Seiring berjalannya waktu, aku sering berpikir tentang upaya untuk menghempaskan segalanya. Mungkin teman-teman ku yang telah meninggalkan tempat ini juga merasakan hal yang sama dengan ku. Kegelisahan mulai melanda diriku belakangan ini, aku seperti tidak mempunyai daya tarik kembali terhadap tempat ini. Ke abu-abuan melekat pekat dalam benakku.

Dorongan teman sejawat memperkuat diriku untuk terus memperkokohkan tempat ini, aku sadar posisi ku sedikit berguna dalam mendirikan salah satu dari tiga barisan pondasi yang ada pada tempat ini. Tetap saja, aku tidak tahu arah satu barisan pondasi tersebut. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri “Apa tujuan ku berada disini?, Mengapa dahulu aku sangat ingin bernaung disini?” Pertanyaan tersebut saling bersahut-sahutan dikepala.

Ya mungkin tempat ini memang ditakdirkan untuk memaksakan kertegasan ke abu-abuan ini. Langkah kedepan sudah jelas, namun mungkin hanya diriku yang kurang tegas.

Aku tersadar, menghayati kehidupan tidak serta merta selalu mempermasalahkan keadaan. Akan tetapi ikhlas dalam menerima lah yang penting.

Aku memang hanya mampu menyatukan kata-kata, kini segala pertanyaan mulai terjawab. Beragam cara mulai ku perhatikan untuk bertindak. Kita mulai mendirikan tempat ini dalam upaya memperkokohkannya, semua masalah atau hal sebesar apapun bisa terlewatkan asal kita bersama-sama ditempat ini.

Fandi Prasetio

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top