Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Menghindari Dampak Buruk Merokok bagi Kesehatan -

Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Menghindari Dampak Buruk Merokok bagi Kesehatan


maulanayusuf.com
Dok. Google

lpmindustria.comHari Tanpa Tembakau Sedunia ditetapkan guna meyadarkan akan bahaya rokok. Upaya ini belum berhasil sepenuhnya, namun harus terus dilakukan.

Tahun 1988, WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia merencanakan ‘Hari Tanpa Tembakau Sedunia’ yang jatuh  pada tanggal 31 Mei. Saat itu, WHO juga membuat program TFI (Tobacco Free Initiative) untuk mengundang perhatian masyarakat dalam memahami problem pemakaian tembakau global. Program ini pun sukses memecahkan produksi aturan kesehatan netizen global untuk mengatasi penggunaan tembakau. Selain itu, WHO pun membuat kesepakatan penggunaan aturan untuk menghentikan produksi rokok, yaitu dengan nama program WHO Framework Convention on Tobacco Control  (FCTC).

Peringatan Hari Tanpa Tembakau ini merupakan salah satu kampanye untuk menyadarkan masyarakat menganai bahaya merokok, Indonesia pun menjadi salah satu negara yang ikut serta di dalamnya. Meskipun begitu, nampaknya orang-orang Indonesia sendiri belum dapat dikatakan sadar sepenuhnya akan bahaya merokok.

Dua tahun terakhir, Kementrian Kesehatan pada tahun 2017 menyatakan bahwa lebih dari 36 persen populasi dewasa di Indonesia merupakan perokok. Sedangkan, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan jumlah perokok di atas umur 15 tahun sebanyak 33,8 persen. Dari jumlah tersebut 62,9 persen merupakan laki-laki dan 4,8 persen perempuan. Hal ini menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan berbagai program yang telah dibuat sebagai upaya menyadarkan bahaya tembakau yang terdapat di dalam rokok.

Menurut salah satu sumber blog kesehatan, rokok yang dikonsumsi mengandung 4.000 jenis bahan kimia, dengan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik, yakni bersifat mengendap dan merusak terutama organ paru-paru, sehingga paru-paru berlubang dan akhirnya menyebabkan kanker. Dari 4.000 jenis bahan kimia tersebut, yang paling berbahaya adalah nikotin dan karbondioksida. Nikotin akan merangsang produksi adrenalin dan hormon pelawan stress, yang mana homon-hormon ini akan membuat jantung harus bekerja lebih keras, sehingga kebutuhan oksigen oleh jantung akan bertambah serta akan mengharuskan jantung untuk bekerja lebih keras.

Mengonsumsi rokok nantinya dapat menyebabkan kematian, dan kasus kematian akibat rokok merupakan masalah serius karena terus bertambah.  Tulus Abadi, seorang Pengurus Harian Yayasan Lembaga Kondumen Indonesia (YLKI) yang mengambil data dari survey Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di tahun 2007 mengungkapkan bahwa dalam sejam, 46 orang meninggal dunia akibat kebiasaan merokok, total 1.127 orang meninggal dalam sehari akibat rokok. Dengan kondisi sekarang, maka kemungkinan besar jumlah meninggal dunia di Indonesia dapat lebih besar lagi angkanya.

Sebetulnya, banyak pula orang yang telah sadar akan bahaya merokok, Global Adult Tobacco Survey (GATS) menemukan bahwa 86 persen orang dewasa di Indonesia menyadari bahaya merokok bagi kesehatan mereka, serta dapat menyebabkan penyakit yang serius. Bahkan, 73,7 persen orang dewasa menyadari bahwa asap rokok sekunder dapat menyebabkan penyakit serius pada orang-orang yang bukan perokok. Namun, masih banyak orang yang merokok walaupun mereka telah menyadari bahaya dari rokok itu sendiri.

Meskipun begitu, Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang menjadi salah satu upaya menyadarkan harus terus dilanjutkan agar para perokok semakin sadar dan pada akhirnya akan berupaya pula untuk berhenti merokok.

Affifah Nasrillah

Tag:    kesehatan  |  opini  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top