17.00, Teh, dan Teras Rumah. -

17.00, Teh, dan Teras Rumah.


maulanayusuf.com
Dok. Google

lpmindustria.com - “Buatkan teh ndok, gulanya satu sendok saja,” teriak Ibu yang saat ini sedang duduk di teras rumah. Tak usah disuruh pun aku sudah hapal apa yang harus kulakukan. Tanpa melihat pun aku tahu posisi tangan dan badan Ibu saat ini. Duduk di kursi yang tingginya 50 sentimeter, memakai kaca mata yang sudah buram, tangan kiri memegang ponsel dan tangan kanan–jari telunjuk–nya memencet layar ponsel. Serta matanya yang menyipit saat membaca berita atau sekedar membalas pesan di ponselnya.

Sudah hampir tiga tahun rutinitas ini kulakukan bersama Ibu, tiap jam lima sore di depan teras rumah. Ibu sibuk dengan ponselnya dan aku sibuk menyiapkan teh dan cemilan yang akan menemani kami sampai matahari terbenam. Untuk mempererat hubungan ibu dan anak, katanya. Walaupun aku tahu, bukan itu maksud sebenarnya. 

Tiga tahun lalu, Bapak bekerja di luar negeri selama hampir dua bulan lamanya. Saat itu, ia berangkat untuk pulang sekitar jam satu siang dan menaiki  pesawat dengan nomor penerbangan ID3119H. Sejak satu minggu sebelum kepulangannya, Bapak tak henti memberitahu aku dan Ibu perihal pesawat yang akan ia tumpangi. Wajar saja, saat itu pertama kalinya Bapak pulang pergi dengan menaiki pesawat dan tentunya aku jadi sangat hapal dengan nomor penerbangan tersebut.

Pukul lima sore Ibu cemas, sebab sejak pukul empat Bapak seharusnya sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Sekitar jam setengah enam sore, diberitakan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan ID3119H jatuh di laut lepas dan meledak yang mengakibatkan pesawat tersebut hancur berserakan. Ibu pingsan dan aku hanya menatap benda persegi panjang itu dengan tatapan kosong. Hingga saat ini jasad Bapak tak pernah ditemukan.

Ibu selalu mengatakan padaku kalau ia sudah ikhlas, tapi aku tak percaya. Aku selalu menguping pembicaraannya dengan Tuhan. Silahkan mengadu pada Ibuku dan katakan kalau aku anak yang kurang ajar. Tapi yang ku simpulkan adalah bahwa Ibu percaya Bapak masih hidup dan akan pulang suatu saat nanti. 

Aku meletakkan teh yang sudah ku buat di atas meja bundar di samping Ibu. Dengan mata yang tak lepas dari layar ponsel, Ibu mengambil dan menyeruput teh buatanku. “Rasanya kok berbeda dari biasanya ya ndok? Kamu tambahin apa?” tanya Ibu dengan kerutan didahinya. “Memang sudah saatnya untuk berubah Bu,” kataku sambil mengusap tangan keriputnya. Kerutan di dahinya semakin dalam menunjukan bahwa Ia bingung dengan perkataanku. “Bapak sudah pulang Bu, tapi tidak ke rumah ini,” ucapku melanjutkan. Air mata Ibu menetes, tangannya gemetar berupaya menyeka pipinya. Ada tatapan sedih dan rindu dimatanya. Tapi aku tahu, saat ini, tepat jam lima sore, Ibu sudah benar-benar sadar.

Hanifati Sabila

Tag:    cerpen  |  sastra  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top