Penataan Barang Rusak dan Tidak Terpakai di Politeknik STMI Jakarta -

Penataan Barang Rusak dan Tidak Terpakai di Politeknik STMI Jakarta


maulanayusuf.com

lpmindustria.comPoliteknik STMI Jakarta saat ini masih memiliki kendala dalam penataan Barang Milik Negara (BMN) yang sudah rusak dan tidak terpakai. Mulai dari ruangan, hingga anggaran yang terbatas.

Pengelolaan barang dan peralatan sebuah organisasi perlu dilakukan untuk mengetahui  total aset yang dimiliki. Berbeda dengan lembaga akademisi yang lain, barang dan peralatan milik Politeknik STMI Jakarta merupakan BMN. Oleh karena itu, dalam pengelolaan BMN, Politeknik STMI menunjuk seseorang yang dikhususkan untuk mengelola. Pengelolaannya pun mengikuti standar dan prosedur yang telah ditetapkan oleh Kementrian Perindustrian serta Kementrian Keuangan. “Semua barang di Politeknik STMI tercatat dalam aplikasi SIMAK. Ketika ada barang yang baru atau barang yang sudah rusak dan tidak terpakai, semua didata dalam aplikasi tersebut,” jelas Intang selaku Kasubag Administrasi dan Umum di Politeknik STMI Jakarta. Dari aplikasi tersebut, kelola barang milik negara di Politeknik STMI dapat dikontrol oleh Dirjen Anggaran Kementrian Perindustrian dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

BMN di Politeknik STMI Jakarta digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan penggunaannya. “Pengelompokkan BMN disini ada BMN untuk Akademik dan Perkantoran. Adapun barang-barang untuk akademik seperti, proyektor, pearalatan mengajar dosen, peralatan laboratorium, komputer, AC, meja dan kursi kelas,” tambah Intang. Dalam menjaga BMN yang dimiliki, Politeknik STMI Jakarta rutin melakukan pengecekkan setiap enam bulan sekali. Dari hasil pengecekkan tersebut, selanjutnya dilakukan pelaporan kepada Dirjen Anggaran dan KPKNL.

Secara sistem, pengelolaan BMN di Politeknik STMI Jakarta terlihat sudah sistematis dan tertata. Namun, pengelolaan BMN tidak hanya berhenti hingga pelaporan saja. Ada tindakan-tindakan yang masih harus dilakukan seperti tindak lanjut untuk BMN yang rusak dan tidak terpakai. Belum adanya kepastian umur maksimal dari tiap-tiap barang untuk peremajaan. Hal tersebut dikarenakan adanya kendala pada Anggaran untuk belanja modal masih terbatas. “Semua disesuaikan lagi dengan kondisi dari BMN itu sendiri. Sekiranya sudah tidak layak pakai, maka akan kita hapus. Namun, selama barang tersebut masih layak pakai, ya kita coba pertahankan. Kendala kami untuk belanja modal masih terbatas. Kecuali jika belanja modal kami itu cukup besar, pastinya akan disesuaikan dengan aturan,” ungkap Dedy Trisanto selaku Pembantu Direktur (Pudir) II bagian Sarana dan Keuangan menanggapi masalah yang ada.

Selain terkendala dalam anggaran, kebutuhan ruang gudang untuk BMN milik Politeknik STMI masih belum bisa terpenuhi karena keterbatasan lahan. Pernyataan itupun diakui oleh Intang. “Karena kita terbatas dalam lahan dan kebutuhan ruangan yang cukup banyak. Hal ini juga sudah menjadi usulan saya ke Direktur untuk menyediakan gudang khusus untuk barang-barang rusak atau barang persediaan yang belum ditempatkan atau digunakan,” tutur intang.

Adapun alternatif yang sejauh ini dilakukan, yaitu berkoordinasi dengan Office Boy (OB) untuk menaruh dan merapikan barang-barang yang rusak atau tidak terpakai di ruangan kosong sebelum proses penghapusan BMN selesai. “Ada banyak barang yang tidak terpakai, dan kami (OB) hanya mengikuti instruksi harus diletakkan dimana barang tersebut. Jika tidak ada instruksi, kami tidak bisa sembarangan memindahkan meskipun itu barang rusak atau tidak terpakai,” tutur Firman selaku koordinator OB di Politeknik STMI Jakarta.

Krisdiastuti

Tag:    politeknik-stmi-jakarta  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top