Kepedulian dan Keteguhan Hati untuk Mengubah Keadaan Negeri dalam Novel Karya Tere Liye -

Kepedulian dan Keteguhan Hati untuk Mengubah Keadaan Negeri dalam Novel Karya Tere Liye


maulanayusuf.com
Dok.google

Judul : Negeri di Ujung Tanduk

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit dan Cetakan : Februari 2013

Tebal Buku : 360 Halaman

Novel Negeri di Ujung tanduk merupakan kisah lanjutan dari novel Negeri Para Bedebah. Main character di dalamnya pun masih sama, yaitu Thomas. Apabila pada series sebelumnya bergenre ekonomi dan politik, kali ini Tere Liye memfokuskan pada genre politiknya saja. Tak henti hentinya penulis membuat suatu kisah yang membuat kagum serta terasa menikmati jalan ceritanya. 

Usai menyelesaikan kasus bank semesta, Thomas memutuskan untuk membuka konsultasi politik. Tak main-main, klien politiknya merupakan seorang kandidat pemimpin nomor satu di negeri ini. Mencalonkan diri dengan membawa idealisme yang kuat dalam melakukan penegakan hukum, membuat keberadaannya ditakuti oleh para oknum-oknum mafia hukum. Dalam hal ini, kliennya pun terkena intrik politik dengan tuduhan korupsi megaproyek tunnel raksasa selama menjadi gubernur ibu kota dan membuatnya ditahan oleh pihak aparat. Selain itu, Thomas pun dituduh menyelundupkan senjata dan bahan peledak sehingga dirinya ditahan oleh  pasukan satuan khusus antiteror otoritas Hong Kong SAR. Dengan segala ide serta relasi yang dimilikinya, Thomas dapat lolos dari tahanan kepolisian dan bergegas menyingkap kebenaran yang sesungguhnya.

“Aku tidak datang secara sukarela menawarkan diri membantu anda dalam kompetisi konvensi partai hanya karena aku sependapat dan mendukung semua omong kosong itu. Aku datang karena ingin meletakkan semua omong kosong itu di tangan seseorang yang bisa menjadikannya nyata.” (Thomas)

Walaupun Thomas hanya seorang konsultan politik, namun ia tetap memutuskan untuk terus membantu kliennya hingga mempertaruhkan hidupnya. Hal ini dilakukannya karena optimis bahwa kliennya dapat melakukan perubahan terhadap negeri dengan idealismenya. Dalam menyingkap tabir kebenaran ini, ia dibantu seorang gadis wartawan yang tidak sengaja tertangkap bersama saat melakukan wawancara di Hongkong. Selain itu, Maggie yang berperan sebagai staf dan merangkap sekretaris serta Kris selaku Kepala Tim IT di perusahannya juga turut andil membantu.  Dengan masalah segenting ini, Thomas dituntut untuk menyelesaikan pekerjaannya tak kurang dari 48 jam sebelum penentuan hasil konvensi partai untuk mengumumkan kandidat presiden. 

Kelebihan dalam novel ini adalah gambaran-gambaran intrik politik yang disajikan sangat related dengan isu-isu yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor pembaca dapat menerima dan menikmati jalan cerita dari kisah fiksi tersebut. Tidak salah apabila kisah fiksi ini dijadikan sebagai referensi bacaan guna menambah wawasan terkait dunia politik. Novel ini juga menyajika nilai moral yang menunjukkan bahwa kepedulian sekecil apapun yang manusia lakukan dapat mengubah hidupnya di masa yang akan datang.

Walaupun Negeri Diujung Tanduk ini memberikan pembaca wawasan tentang politik namun, novel ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun cerita menuju konflik yang terjadi. Inti dalam cerita tersebut baru dapat ditemui sekitar pada halaman 40-an. Kekurangan dalam novel ini juga terletak pada bagian action di akhir cerita yang sedikit berlebihan.

 

Khairil Ilzam

Tag:    resensi  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top