Tren Teknologi Pembangkit Listrik berbasis EBT -

Tren Teknologi Pembangkit Listrik berbasis EBT


maulanayusuf.com
Dok.Tirto.id

lpmindustria - Peralihan dari pemanfaatan energi fosil ke energi terbarukan mendorong adanya pengembangan teknologi pembangkit listrik berbasis EBT.  Terkait hal tersebut, energi surya dan angin diprediksi akan menjadi fokus pengembangan global. Akan tetapi, pengembangan kedua energi tersebut di Indonesia masih cenderung rendah dan lambat.

Saat ini, energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas sedang mengalami transisi menuju teknologi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) secara global. Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE), Adrianto Darmoyo selaku Head of Renewable Asset di PT Medco Power Indonesia mengatakan bahwa pengembangan teknologi pembangkit listrik global berbasis EBT ini akan berfokus kepada energi surya dan angin.

Berdasarkan hasil penelitian Bloomberg New Energy Finance (BNEF) mengenai bauran energi pembangkit listrik global, kedua sumber energi EBT tersebut akan menyumbang hampir lima puluh persen listrik di dunia pada tahun 2050 mendatang. Hal tersebut sejalan dengan hasil peramalan Global OEM untuk tahun 2019-2028, yaitu energi surya akan menyumbang sebesar 41 persen dan energi angin sembilan belas persen. “Artinya, investasi dari sisi teknologi maupun pengembang akan mengalir kesana sehingga penelitian dan pengembangan akan terus dikerjakan dan difokuskan ke arah tersebut,” ujar Adrianto.  

Adrianto juga memaparkan bahwa pengembangan pembangkit listrik energi angin di dunia telah mengalami peningkatan yang cukup tinggi dalam waktu sepuluh tahun. Pada tahun 2008 kapasitas global mencapai 100 gigawatt (GW) dan di tahun 2018 meningkat hingga 564 GW. “Jadi, memang perkembangan energi angin ini cukup signifikan dengan basis instal per tahun kurang lebih sebesar 50 GW,” katanya.

Kemudian, menurut Ardianto, energi angin ini menjadi menarik karena levelized cost of electricity atau biaya energi yang diratakan (LCOE) semakin kompetitif setiap tahunnya. Dari tahun 2010-2019 yang turun sebesar dua puluh persen untuk lepas lantai dan 39 persen untuk di darat, diprediksi akan turun lagi sebanyak 49 persen dan lima puluh persen hingga tahun 2021 atau 2023. “Ini menarik karena dalam waktu sepuluh tahun biayanya bisa turun mencapai lima puluh persen,” jelasnya. 

Selanjutnya, pembangkit listrik tenaga surya pun mengalami hal yang serupa. Adrianto menuturkan bahwa kapasitas pembangkit listrik ini mengalami peningkatan sebanyak empat kali lipat dalam waktu enam tahun. Berdasarkan studi dari International Renewable Energy Agency (IRENA), jumlah pembangkit listrik tersebut telah mencapai 100 GW pada tahun 2012 dan mengalami penambahan hingga 480 GW pada tahun 2018. 

Selain itu, Adrianto menjelaskan data dari IRENA menunjukkan bahwa LCOE mengalami penurunan sebesar 82 persen pada tahun 2010-2019 dan 90 persen pada tahun 2010-2021/2023. Namun melalui materi yang dibawakan, Ardianto mengucapkan bahwa kapasitas pembangkit listrik bertenaga surya dan angin di Indonesia masih tergolong lambat dan rendah dibanding Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. 

Terkait dengan pengembangan EBT, pemerintah Indonesia telah memasang target bauran energi yang hendak dicapai pada tahun 2025. Dalam acara webinar yang sama, Wawan Sulaeman, Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) mengatakan bahwa 23 persen dari target pemakaian energi tersebut bersumber dari energi terbarukan.

Hingga akhir tahun 2019, dari kapasitas total pembangkit listrik sebesar 69,1 juta GW, Indonesia baru memenuhi 10,3 GW atau 12,36 persen. “Artinya, kita masih memiliki tugas yang harus dicapai dan diselesaikan, yaitu sekitar 12,54 persen lagi,” tutur Wawan.

Lebih dari itu, Laode Sulaeman selaku Kepala PSDM KEBTKE mengatakan bahwa berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2019-2028, Indonesia masih membutuhkan banyak Sumber Daya Manusia di bidang pembangkitan. Ia menyebutkan bahwa dibutuhkan lebih dari enam puluh ribu orang di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sekitar delapan ribu orang pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB), dan hampir dua puluh ribu orang dalam pembangkit listrik berbasis EBT termasuk tenaga surya dan angin. 

 

Artha Julia

Tag:    teknologi  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top