Upaya Menanggulangi Impor Sampah Plastik di Indonesia  -

Upaya Menanggulangi Impor Sampah Plastik di Indonesia 


maulanayusuf.com
Dok.unsplash.com

lpmindustria - Impor sampah plastik bukanlah hal yang baru bagi Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri. Tak hanya dampak positif, kegiatan ini juga memberikan dampak negatif. Melihat hal ini, pemerintah melakukan upaya untuk meminimalisir dampak tersebut.   

Indonesia telah lama menjadi salah satu negara yang mengimpor sampah plastik. Bahkan dalam jurnal “Masalah Sampah Plastik Impor dan Dampaknya terhadap Lingkungan Hidup”, Salman Luthnan menulis bahwa kasus impor sampah plastik ini disinyalir telah terjadi sejak tahun 1991. 

Berdasarkan artikel yang dimuat dalam Kompas.com, banyak negara maju yang menjadi pengekspor sampah plastik tersebut. “Itu datangnya dari negara maju. Dalam catatan kami, impor ini datangnya dari Amerika, Australia, Hong Kong, dan lain-lain,” ujar Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Adapun alasan dari impor sampah plastik ini adalah untuk bahan baku industri, terutama industri pembuatan kertas.

Kemudian, jenis sampah plastik yang diimpor oleh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut pun beragam. Bersumber dari laman amp.dw.com, Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mencatat bahwa kebutuhan bahan baku kimia, seperti polietilena (PE), polipropilena (PP), polistirena (PS), dan polivinil klorida (PVC) mencapai 5,83 juta ton pada tahun 2017. Dari jumlah kebutuhan tersebut, industri dalam negeri hanya mampu memproduksi sebayak 2 juta ton. Sementara itu, sisa dari kebutuhan tersebut diperoleh dengan mengimpor, antara lain berupa limbah daur ulang. 

Dengan terpenuhinya kebutuhan tersebut, kedua belah pihak dapat memperoleh keuntungan dari bisnis ekspor dan impor. “Contohnya logam, sangat penting terutama buat negara yang tidak memiliki industri baja sendiri,” kata Bernhard Schodrowski selaku Juru Bicara Asosiasi Industri Limbah Jerman (BDE) dalam amp.dw.com. Ia melanjutkan, perekonomian negara yang miskin sumber daya alam akan bergantung pada impor limbah logam dari negara lain.

Terlepas dari hal tersebut, impor sampah ini juga berpotensi menimbulkan kerugian terhadap lingkungan. Seperti yang dilansir dari Kompas.com, pakar lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Dwi Sawung mengatakan bahwa hal ini dikarenakan tidak semua sampah plastik dapat didaur ulang. Oleh karena itu, nantinya limbah tersebut harus dibakar sehingga dapat menyebabkan pencemaran udara atau dibuang sembarangan yang akhirnya mencemari sungai dan laut.

Berdasarkan hal di atas, ditulis di laman Detik.com, Lembaga Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) telah mengusahakan penanggulangan dampak dari impor sampah plastik tersebut. Saat ini, lembaga tersebut sedang membangun kebijakan green procurement sehingga kedepannya, barang-barang hasil daur ulang akan mendapatkan label khusus dan menjadi prioritas guna pengadaan barang dan jasa khususnya di pemerintahan. Untuk sekarang, label pengadaan barang pemerintah adalah kertas dan yang akan menjadi prioritas kedepannya adalah produk plastik daur ulang.

Selain itu, Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik mengatakan agar Indonesia tidak bergantung pada impor sampah lagi dan mengoptimalkan sampah yang ada dalam negeri. Hal ini dikarenakan masih banyaknya potensi-potensi sampah di dalam negeri yang sangat baik. Terakhir, bentuk upaya dari pemerintah untuk mengatasi dampak buruk dari kegiatan impor sampah plastik ini adalah mengurangi kebutuhan virgin plastik yang terbuat dari minyak bumi. 

 

Bagus Nurcahyo

Tag:      |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top