Potensi dan Bahaya Masuknya Gerakan Anti Masker ke Indonesia -

Potensi dan Bahaya Masuknya Gerakan Anti Masker ke Indonesia


maulanayusuf.com
Dok.unsplash.com

lpmindustria - Melihat banyaknya budaya asing yang mudah untuk masuk ke Indonesia, gerakan anti masker pun berpotensi mengalami hal serupa. Bila gerakan ini masuk ke Indonesia, hal ini tentu berbahaya terlebih terjadi di tengah masa pandemi.

Beberapa waktu lalu, sebagian warga Amerika melakukan aksi penolakan terhadap adanya kewajiban penggunaan masker saat keluar rumah. Dilansir dari laman The New York Times, aktivis anti masker mengorganisasi protes pada hari Sabtu (11/7) di 33&Melt, sebuah restoran dan bar keju panggang di Windermere, Florida. Dalam video yang diunggah pada saluran Youtube milik Reuters, organisasi tersebut menjanjikan seratus makanan gratis untuk pelanggan yang datang ke rumah makan tersebut tanpa mengenakan masker.

Menurut tulisan pada portal berita The New York Times, aksi ini dilakukan karena kewajiban pemakaian masker dianggap melanggar kebebasan individu. “Semua orang bertanggung jawab atas keputusan perawatan kesehatan diri mereka sendiri. Kami ingin pilihan kami (tidak memakai masker meskipun terjadi pandemi) juga dihormati,” ujar Tara Hill, salah satu demonstran anti masker. Selain itu, dalam laman BGR juga dikatakan bahwa masih banyak warga Amerika yang menganggap penggunaan masker dan penerapan social distancing serta kebersihan yang baik sebagai tanda kelemahan atau konspirasi yang dilakukan kelompok yang tidak diketahui.

Jika dilihat sebelumnya, banyak gerakan dan budaya yang berasal dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Contohnya adalah gerakan feminisme yang berasal dari Inggris dan perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine’s day yang berasal dari Roma. Layaknya kedua gerakan tersebut, masyarakat Indonesia pun bisa terpengaruh oleh kampanye penolakan penggunaan masker ini. 

Apalagi bila dilihat, gerakan feminisme dan perayaan Hari Kasih Sayang dianggap kurang baik oleh sebagian orang. Sehingga, keduanya bisa dijadikan bukti bahwa kebudayaan dari luar disukai oleh banyak orang dan berpotensi masuk ke Indonesia dengan mudah. Jika tanpa pengaruh gerakan anti masker saja masih banyak masyarakat yang tidak sadar akan pentingnya penggunaan masker di masa pandemi, apalagi kalau orang-orang tersebut dipengaruhi oleh gerakan organisasi tersebut. Hal tersebut dapat menjadi pembelaan untuk tidak mengenakan masker tanpa merasa bersalah. 

Kemudian, pelanggaran untuk tidak memakai masker ini pun sama halnya dengan pelanggaran atas pelanggaran lalu lintas, yaitu tidak menggunakan helm. Meskipun sebagian orang sudah mengetahui bahwa pelanggaran ini akan berdampak secara langsung, hal tersebut tetap saja dilanggar apalagi pelanggaran tidak memakai masker yang dampak negatifnya tidak akan hadir secara langsung. Sehingga, jika saja gerakan anti masker masuk ke tanah air tentu akan memperkeruh, terlebih jika mereka berpotensi membahayakan orang lain. 

Padahal, penggunaan masker di masa pandemi ini sangat diperlukan. Dilansir dari Kompas.com, terdapat bahaya kesehatan yang cukup beragam terlebih penularannya bisa terjadi melalui orang yang tidak menunjukan tanda-tanda infeksi Covid-19, seperti demam, sesak napas, atau batuk.. 

Tanpa ada pandemi Covid-19 pun sebenarnya penggunaan masker ini dapat penjadi pilihan untuk bisa menghindari kulit dari debu, kotoran, polusi, serta benda-benda yang kemungkinan akan dapat melukai wajah. Hal ini diperkuat dengan tulisan dalam laman Alodokter yang mengatakan bahwa sebagian wajah yang ditutupi masker akan terhindar dari polusi udara, seperti asap pabrik, rokok, dan debu. Selain itu, wajah juga menjadi terlindungi dari efek negatif sinar matahari serta manfaat yang terpenting adalah terjauhkan dari penyebaran virus Corona yang sedang merebak.

Oleh karena itu, di masa pandemi sekarang ini memang sangat dianjurkan untuk menggunakan masker guna perlindungan diri. Lebih dari itu, coba pula untuk melindungi diri dari pengaruh organisasi-oraganisasi buruk, seperti gerakan anti masker dengan cara mawas diri dan menyadari pentingnya pemakaian masker. 

 

Bagus Nurcahyo

Tag:    kesehatan  |  opini  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top