Hitam Keruh Minyak Jelantah Dapat Menjadi Alternatif Biodiesel -

Hitam Keruh Minyak Jelantah Dapat Menjadi Alternatif Biodiesel


maulanayusuf.com
Foto : LPM Industria/ Hawari Rahmadito

lpmindustria.com - Minyak jelantah seringkali dianggap sudah tidak bermafaat lagi oleh masyarakat. Namun, ternyata ketika minyak bekas memasak tersebut diolah dengan melewati beberapa proses akan dihasilkan biodiesel. Bahkan, hal ini dapat menjadi penggerak ekonomi dan solusi bagi kerusakan lingkungan.

Sisa minyak goreng bekas memasak atau sering kita sebut minyak jelantah biasanya sering kita abaikan begitu saja. Namun ternyata, minyak tersebut bisa diolah kembali menjadi biodiesel (baca: bahan bakar nabati untuk aplikasi mesin motor atau mobil yang terbuat dari minyak nabati ataupun lemak hewani). Hal ini disampaikan oleh Effendi Manurung selaku Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI) pada Webinar Series Waste4Change yang bertajuk “Mengenal Potensi dan Dampak Minyak Jelantah”.

Dalam webinar tersebut, Effendi menjelaskan bahwa apabila dilakukan esterifikasi (baca: reaksi pengubahan dari suatu ester dengan menggunakan katalis asam) dan transesterifikasi (baca: proses pertukaran gugus organik R″ pada suatu ester dengan gugus organik R′ dari alkohol) pada minyak jelantah, minyak jelantah tersebut dapat memenuhi spesifikasi biodiesel. Jadi, biodiesel yang diproduksi dari minyak jelantah memiliki kualitas yang hampir sama dengan biodiesel yang dibuat dari Crude Palm Oil (CPO) setelah melalui esterifikasi dan transesterifikasi.

Effendi pun menjelaskan hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan biodiesel berbahan dasar CPO yang semakin meningkat setiap tahunnya. Secara otomatis, kebutuhan sawit pun ikut meningkat. Peningkatan ini membuat masalah dalam pembukaan lahan sawit. “Di tahun 2021, kebutuhan biodiesel mencapai 9,2 juta kiloliter (kL). Kita bayangkan pada tahun 2035 sebesar 17,8 juta kL. Kalo naik seperti ini, keperluan sawit juga akan meningkat dua kali lipat. Sementara itu, kini kita dihadapkan dengan pembukaan lahan sawit,” tuturnya.

Ia juga menambahkan dengan adanya alternatif penggunaan minyak jelantah sebagai pengganti CPO ini akan membuat intensifikasi (baca: perihal meningkatkan kegiatan yang lebih hebat) terhadap lahan sawit. “Kita tidak diperbolehkan ekstensifikasi (baca: memperluas faktor produksi), tetapi kita lakukan dengan intensifikasi lahan itu supaya produksi dari lahan tersebut lebih besar,” ujarnya.

Selanjutnya, proses pengolahan minyak jelantah sampai menjadi biodiesel sendiri dijelaskan oleh Effendi dalam webinar tersebut. Hal yang dilakukan pertama kali yakni pemurnian minyak jelantah menggunakan arang aktif. Langkah pemurnian ini dilakukan dengan penyaringan minyak jelantah untuk memisahkan dengan kotoran padatnya, lalu dicampur dengan arang aktif, dan kemudian diaduk.

Setelah diaduk dan disaring kembali, minyak jelantah dinetralkan menggunakan natrium hidroksida. Setelah selesai dilakukan pemurnian akan dilakukan esterifikasi menggunakan asam sulfat teknis. Kemudian langsung dilakukan transesterifikasi yang menghasilkan biodiesel kasar untuk dimurnikan. Terakhir, dihasilkanlah produk biodiesel. Skema pembuatan biodiesel ini sendiri menggunakan prinsip zero waste (baca: bebas sampah).

Effendi juga mengatakan  implementasi dari biodiesel ini sudah dikembangkan di PT Bali Hijau Biodiesel, biodiesel berbasis minyak jelantah ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar bus sekolah dan genset di beberapa hotel di Bali. Lalu, Effendi  menambahkan bahwasanya di Kalimantan terdapat kelompok swadaya masyarakat Tarakan Timur yang mengembangkan biodiesel berbasis minyak jelantah ini. Bahkan, implementasi ini bisa memberikan keuntungan dua juta Rupiah per harinya.

Di samping itu semua, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah ini cukup banyak. Salah satunya diperlukannya pemetaan bahan baku dan mekanisme pengumpulan minyak jelantah baik dari restoran, hotel, maupun rumah tangga. Selain itu, perlu juga adanya regulasi yang mengatur pengumpulan minyak jelantah ini karena dari banyaknya minyak jelantah yang mencapai sekitar 16 jutaan kiloliter, hanya sedikit yang bisa didapatkan.

Dilihat dari segi tata niaga, hal ini juga membutuhkan mekanisme harga beli karena harga minyak jelantah yang  sangat fluktuatif. Dengan demikian, diperlukan pengembangan teknologi yang efisien dan terjangkau. Tak hanya itu, keterbatasan kontribusi badan usaha turut menjadi tantangan tersendiri. “Saat ini baru ada dua badan usaha biodiesel berbasis minyak jelantah,” tutur Effendi.

Tri Adhianto Tjahyono selaku Wakil Walikota Bekasi juga menambahkan salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah adalah perlunya edukasi ke masyarakat. Dikarenakan masih banyaknya kekhawatiran masyarakat mengenai pengolahan minyak jelantah ini. “Jadi mereka masih juga khawatir, jangan-jangan sampah minyak jelantah yang mereka kumpulkan diproses ulang dan dijual kembali dalam bentuk minyak juga. Dengan ini, saya kira harus diyakinkan warga masyarakakat bahwa minyak jelantah bisa untuk biodiesel,” ungkap Tri.

Penulis : Hawari Rahmadito
Editor : Silvia Andini

Tag:    biodiesel  |  cpo  |  ekonomi  |  energi  |  event  |  industri  |  kelapa-sawit  |  lingkungan  |  sawit  |  teknologi  |  


BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

Top