<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sosok Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/sosok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/sosok/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 Aug 2025 05:52:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>sosok Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/sosok/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tulisan Adalah Perlawanan : Tirto Adhi Soerjo Sang Pelopor Pers Nasional</title>
		<link>https://lpmindustria.com/sosok/tulisan-adalah-perlawanan-tirto-adhi-soerjo-sang-pelopor-pers-nasional/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/sosok/tulisan-adalah-perlawanan-tirto-adhi-soerjo-sang-pelopor-pers-nasional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2025 05:44:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tirto Adhi Soerjo]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Tirto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lpmindustria.com/?p=2024</guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; “Tulisan adalah Perlawanan” keyakinan yang dipegang teguh oleh sang pelopor pers nasional, meninggalkan kenyamanan bangsawan dan memilih perjuangan. Baginya, tulisan adalah perlawanan</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sosok/tulisan-adalah-perlawanan-tirto-adhi-soerjo-sang-pelopor-pers-nasional/">Tulisan Adalah Perlawanan : Tirto Adhi Soerjo Sang Pelopor Pers Nasional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong> <em>“Tulisan adalah Perlawanan” keyakinan yang dipegang teguh oleh sang pelopor pers nasional, meninggalkan kenyamanan bangsawan dan memilih perjuangan. Baginya, tulisan adalah perlawanan dan media menjadi senjata membebaskan bangsa.&nbsp;</em></p>



<p>Tirto Adhi Soerjo merupakan tokoh kebangkitan nasional Indonesia sekaligus perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional. Ia lahir pada tahun 1880 di Blora, Jawa Tengah, dengan nama Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dan berasal dari keluarga bangsawan Jawa yang memberinya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi di masa kolonial. Beliau adalah cucu R.M.T. Tirtonoto, Bupati Bojonegoro yang dianugerahkan penghargaan Bintang Ridder <em>Nederlandsche Leeuw</em>, serta keturunan Mangkunegara I dan generasi keempat R.M.AA. Tjokronegoro dari Bupati Blora. Ayah Tirto adalah Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero yang merupakan pegawai Kantor Pajak. Tirto anak kesembilan dari sebelas bersaudara, ia diasuh oleh neneknya Raden Ayu Tirtonoto setelah kedua orang tuanya meninggal. Didikan sang nenek membentuk kemandirian dan menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri Tirto Adhi Soerjo.</p>



<p>Tirto bersekolah di <em>Europeesch Lagere School</em> (ELS), kemudian melanjutkan pendidikannya ke <em>School tot Opleiding van Inlandsche Artsen </em>(STOVIA), sekolah kedokteran pribumi di Batavia. Namun, sekolahnya di STOVIA tidak dilanjutkan dan memutuskan keluar pada tahun 1900, di sinilah kesadarannya terhadap ketidakadilan kolonial semakin tumbuuh. Tirto Adhi Soerjo diangkat sebagai redaktur <em>Pemberita Betawi</em> pada 2 April 1902 dan pada 13 Mei 1902 berhasil naik menjadi pemimpin redaksi. Di sinilah Tirto mulai menulis, menyuarakan ketimpangan, serta menjadikan pena dan kata sebagai alat utama perjuangannya. Tirto Adhi Soerjo kemudian menerbitkan surat kabar <em>Soenda Berita</em> (1903- 1905), <em>Medan Prijaji</em> (1907) dan <em>Putri Hindia</em> (1908).&nbsp;</p>



<p>Tirto Adhi Soerjo memiliki gagasan bahwa “tulisan adalah bentuk perlawanan terhadap penindasan”. Menurutnya, media berperan strategis dalam membangkitkan kesadaran rakyat, melawan kebijakan yang merugikan, serta mendorong perubahan sosial. Baginya, pers bukan sekadar bisnis, melainkan instrumen perjuangan bangsa. Gagasan tersebut tetap relevan hingga kini karena kebebasan pers dan berpendapat masih menjadi pilar penting demokrasi Indonesia, meskipun media masa kini dihadapkan pada tantangan baru berupa disinformasi, polarisasi opini, tekanan politik, dan hoaks.</p>



<p>Kisah Tirto Adhi Soerjo menjadi bukti nyata bahwa pers lahir dari rahim perjuangan. Ia mengabdikan hidupnya untuk rakyat melalui tulisan, meski harus berakhir di penjara dan diasingkan. Pada tahun 2006, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional, dan hingga kini jejaknya menginspirasi kita bahwa dalam situasi apa pun, tulisan tetap bisa menjadi bentuk perlawanan yang paling kuat.</p>



<p><strong>Penulis : Aghisna Nafisa<br>Editor : Gita Mega Putri S.</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sosok/tulisan-adalah-perlawanan-tirto-adhi-soerjo-sang-pelopor-pers-nasional/">Tulisan Adalah Perlawanan : Tirto Adhi Soerjo Sang Pelopor Pers Nasional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/sosok/tulisan-adalah-perlawanan-tirto-adhi-soerjo-sang-pelopor-pers-nasional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tirto Adhi Soerjo : Perjuangan dan Warisan Sebagai Bapak Pers Indonesia</title>
		<link>https://lpmindustria.com/sosok/tirto-adhi-soerjo-perjuangan-dan-warisan-sebagai-bapak-pers-indonesia/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/sosok/tirto-adhi-soerjo-perjuangan-dan-warisan-sebagai-bapak-pers-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2025 05:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak Pers Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tirto-Adhi-Soerjo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lpmindustria.com/?p=2019</guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Tirto Adhi Soerjo mencetak sejarah sebagai pelopor pers nasional sekaligus membangkitkan kesadaran politik rakyat melalui surat kabar Soenda Berita dan Medan Prijaji.</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sosok/tirto-adhi-soerjo-perjuangan-dan-warisan-sebagai-bapak-pers-indonesia/">Tirto Adhi Soerjo : Perjuangan dan Warisan Sebagai Bapak Pers Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong> <em>Tirto Adhi Soerjo mencetak sejarah sebagai pelopor pers nasional sekaligus membangkitkan kesadaran politik rakyat melalui surat kabar Soenda Berita dan Medan Prijaji. Hidupnya adalah potret keberanian melawan ketidakadilan hingga akhir hayat.</em></p>



<p>Tirto Adhi Soerjo memulai kiprahnya di dunia pers sebagai penulis di surat kabar kolonial seperti Pembrita Betawi dan Bintang Betawi. Pada 1903, ia mendapat tawaran dari Bupati Cianjur R.A.A. Prawiradiredja untuk menerbitkan surat kabar pertama <em>Soenda Berita</em> yang dimiliki, dikelola, dan ditujukan bagi pribumi. Terbit selama tiga tahun sebelum tutup pada 1906, media ini menjadi ajang belajar Tirto dalam mengelola pers.</p>



<p>Sejak <em>Soenda Berita </em>tutup, Tirto menetap di Bogor dan bersama sejumlah priyayi mendirikan Sarikat Prijaji yang merupakan organisasi beranggotakan ratusan orang dari berbagai daerah. Sarikat ini mendorong lahirnya media yang lebih tegas menyuarakan kepentingan politik pribumi, sesuatu yang tidak mereka temukan di <em>Soenda Berita.</em> Pada 1 Januari 1907, terbitlah <em>Medan Prijaji</em>, surat kabar yang memang dirancang sebagai corong suara kalangan priyayi dan rakyat bumiputera, sesuai dengan nama yang disandangnya. Rubrik – rubriknya secara tegas mengangkat isu ketidakadilan, menyentil kekuasaan kolonial, dan membangkitkan kesadaran nasional di kalangan pembaca.&nbsp;</p>



<p>Tirto Adhi Soerjo berani menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintahan kolonial Belanda melalui tulisan-tulisannya.<em> </em>Di bagian kepala <em>Medan Prijaji</em> tertera moto <em>&#8220;Orgaan boeat bangsa jang terperintah di Hinia Olanda, tempat memboeka soearanja&#8221;</em>, yang berarti media ini menjadi wadah bagi rakyat pribumi untuk menyuarakan pendapatnya. Pada masa itu, pernyataan semacam ini sudah dianggap sangat radikal. Hal ini kontras dengan surat kabar lain seperti <em>Sinar Sumatra</em>, yang justru menampilkan moto pro-kolonial: <em>&#8220;Kekallah keradjaan Wolanda, sampai mati setia kepada keradjaan Wolanda.&#8221;</em></p>



<p>Tirto kerap menghadapi kasus akibat pemberitaannya yang tajam menyerang siapa pun yang dianggapnya bersalah. Namun, berkat statusnya sebagai pemilik <em>forum privilegatum</em>, posisi Tirto cukup kuat di mata hukum sehingga beberapa kali berhasil lolos dari jerat hukum. Meskipun begitu, ia tidak luput dari hukuman buang akibat sengketa pers. Ia pertama kali mendapatkan hukuman buang pada 18 Maret 1910, ketika dibuang ke Lampung selama dua bulan karena kasus dengan Kontrolir A. Simon. Hukuman kedua datang pada 17 Desember 1912 selama enam bulan, ia divonis dalam perkara delik pers atas pencemaran nama baik pejabat pemerintahan. Vonis kedua inilah yang menjadi titik keterpurukan karier jurnalistik Tirto. </p>



<p>Pada 23 Agustus 1912 setelah <em>Medan Prijaji </em>bangkrut, pengadilan menghentikan paksa penerbitannya itu karena lilitan hutang. Aset – aset Tirto kian menipis, beruntung hotel yang dulunya bernama Hotel Medan Prijaji diambil alih oleh Raden Goenawan dan diganti namanya menjadi Hotel Samirono. Pada tanggal 7 Desember 1918, Tirto menghembuskan nafas terakhirnya di hotel tersebut, dalam pangkuan Raden Goenawan. Namun, warisannya tetap abadi hingga sekarang. Ia tidak hanya meninggalkan jejak tinta di atas kertas, tetapi juga semangat perjuangan yang menginspirasi generasi setelahnya.</p>



<p><strong>Penulis : Aghisna Nafisa<br>Editor : Muhammad Nur Ikhsan</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sosok/tirto-adhi-soerjo-perjuangan-dan-warisan-sebagai-bapak-pers-indonesia/">Tirto Adhi Soerjo : Perjuangan dan Warisan Sebagai Bapak Pers Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/sosok/tirto-adhi-soerjo-perjuangan-dan-warisan-sebagai-bapak-pers-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Soe Hok Gie : Sosok Aktivis dan Idealisme Mahasiswa Indonesia</title>
		<link>https://lpmindustria.com/sosok/soe-hok-gie-sosok-aktivis-dan-idealisme-mahasiswa-indonesia/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/sosok/soe-hok-gie-sosok-aktivis-dan-idealisme-mahasiswa-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2025 10:33:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[idealisme mahasiswa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kritik keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[soe hok gie]]></category>
		<category><![CDATA[sosok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lpmindustria.com/?p=2008</guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Soe Hok Gie, aktivis muda yang tak gentar mengkritik ketidakadilan menjadi simbol idealisme mahasiswa Indonesia. Pemikiran kritisnya tak luntur oleh waktu, terus</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sosok/soe-hok-gie-sosok-aktivis-dan-idealisme-mahasiswa-indonesia/">Soe Hok Gie : Sosok Aktivis dan Idealisme Mahasiswa Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong> <em>Soe Hok Gie, aktivis muda yang tak gentar mengkritik ketidakadilan menjadi simbol idealisme mahasiswa Indonesia. Pemikiran kritisnya tak luntur oleh waktu, terus menginspirasi generasi penerus hingga kini.</em></p>



<p>Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942 di Kebon Jeruk, Jakarta. Gie merupakan anak keempat dari lima bersaudara dengan keluarga keturunan Tionghoa. Ayahnya bernama Soe Lie Piet, dikenal sebagai Salam Sutrawan, dan ibunya bernama Ni Hoei An seorang keturunan Tionghoa. Keluarganya termasuk ke dalam kelas sosial menengah yang tidak tergolong kaya, tetapi juga tidak dikatakan miskin. Umumnya, keturunan Tionghoa di Indonesia berprofesi sebagai pedagang, tetapi ayah Gie berprofesi sebagai wartawan dan penulis. Sejak kecil, ia dikenal sangat rajin membaca buku karena kebiasaan ini dipengaruhi oleh ayahnya yang merupakan seorang penulis. Ia juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga membuatnya peka terhadap lingkungan dan mudah bergaul dengan orang lain. Ibunya juga sangat berperan dalam membentuk ketertarikan Gie terhadap sastra dengan membawakan buku cerita atau karya sastra kepada anak-anaknya.</p>



<p>Pada umur lima tahun, Soe Hok Gie bersekolah di Sin Hwa School. Gie termasuk murid yang cukup pintar dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, hingga ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Strada, disitulah awal munculnya pemikiran idealisme dan pemikiran kritis Soe Hok Gie. Ia melanjutkan pendidikannya ke SMA Kanisius, di sekolah tersebut ia sering membuat sajak-sajak tentang kondisi dan realita yang terjadi di Indonesia. Selepas SMA, Gie melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan di Universitas Indonesia dengan jurusan Sejarah.</p>



<p>Soe Hok Gie menjadi sosok penting dalam pergerakan mahasiswa. Ia dikenal sebagai penggerak kritik terhadap pemerintahan Soekarno yang dianggap melenceng dari cita-cita kemerdekaan, melalui tulisannya juga ia mengkritik dengan membahas mengenai pers yang dianggap sebagai alat untuk menutupi keburukan pemerintah. Ia juga merasa bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual justru sering menjadi alat kepentingan politik, ia bersama angkatan 1966 menuntut perubahan sistem politik yang lebih adil serta bebas dari korupsi dan penindasan. Meskipun aktif dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintah, ia tetap menolak menggunakan kekerasan dalam perjuangan, karena baginya mahasiswa harus menjadi suara kebenaran dengan mengedepankan kekuatan intelektual dan moral. Ia juga berperan menjembatani aliansi antara mahasiswa dan ABRI dalam gerakan Tritura.</p>



<p>Sikap dan pemikiran Gie mencerminkan kejujuran, integritas, serta keberanian untuk berpikir kritis. Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki andil sebagai agen perubahan dalam mengawal kebenaran dan keadilan sosial. Tantangan mahasiswa modern saat ini bukan hanya kekuasaan, tetapi juga pergerakan di sosial media yang sangat berpengaruh. Mahasiswa harus memiliki sikap kritis agar tidak mudah terbawa arus tanpa mengetahui konsekuensinya.</p>



<p><strong>Penulis : Muhammad Rakha Fadhlany<br>Editor : Muhammad Nur Ikhsan</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sosok/soe-hok-gie-sosok-aktivis-dan-idealisme-mahasiswa-indonesia/">Soe Hok Gie : Sosok Aktivis dan Idealisme Mahasiswa Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/sosok/soe-hok-gie-sosok-aktivis-dan-idealisme-mahasiswa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
