<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>childfree Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/childfree/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/childfree/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jan 2025 07:16:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>childfree Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/childfree/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fenomena Childfree di Indonesia</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-childfree-di-indonesia/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-childfree-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2021 22:54:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[childfree]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[selebritis]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Istilah childfree di Indonesia sedang hangat di perbincangkan di sosial media. Beberapa tokoh terkenal di Indonesia pun memilih untuk childfree yang dapat menimbulkan</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-childfree-di-indonesia/">Fenomena Childfree di Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Istilah childfree di Indonesia sedang hangat di perbincangkan di sosial media. Beberapa tokoh terkenal di Indonesia pun memilih untuk childfree yang dapat menimbulkan dampak positif dan negatif.</em></p>
<p style="text-align:justify">Fenomena <em>childfree</em> di Indonesia bukan lagi hal tabu, bahkan beberapa tokoh terkenal Indonesia memilih melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah seorang juru masak terkenal&nbsp;yaitu Junior John Rorimpandey atau yang akrab di sapa <em>Chef</em>&nbsp;Juna. Melalui <em>channel</em> Youtube puella id, ia mengungkapkan akan mendukung istrinya apabila memutuskan untuk <em>childfree</em>. Keputusan itu ia ungkapkan karena beberapa alasan. &ldquo;Dalam suatu hubungan, saya sangat menghargai dan mendukung adanya kesetaraan karena masing-masing mempunyai kebebasan untuk memilih suatu keputusan,&rdquo; ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify">Hal serupa turut diutarakan oleh Cinta Laura, seorang aktris dan penyanyi yang mendukung adanya <em>childfree</em>. Menurutnya, populasi manusia di dunia ini terbilang sudah cukup banyak, sehingga hal ini menjadi alasannya memilih untuk <em>childfree.</em> &ldquo;Kenapa aku harus melahirkan satu manusia lagi kalau aku bisa mengadopsi anak yang sekarang tidak punya siapa pun untuk menjaga mereka?&rdquo; ungkapnya.</p>
<p style="text-align:justify">Mengutip pada laman <em>news.unair.ac.id, </em><em>childfree&nbsp;</em>sendiri didefinisikan sebagai keputusan seseorang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Sedangkan pada <em>Oxford Dictionary, </em>istilah ini familier dalam agenda feminisme yang menganggap <em>childfree</em> sebagai pilihan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify">Pada laman <em>uns.ac.id</em>, salah satu psikolog sosial Fakultas Kedokteran (FK) dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yaitu Tri Rejeki Andayani mengungkapkan beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang memilih <em>childfree. </em>Menurutnya, salah satu alasannya berkaitan dengan permasalahan lingkungan. Peningkatan penduduk bumi seiring adanya ketidakseimbangan kondisi kesehatan bumi dan ketersediaan pangan membuat orang memilih <em>childfree</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Di sisi lain, Tri pun turut mengungkapkan pemicu lainnya. &ldquo;Ketidakyakinan akan kemampuan dalam merawat dan mengasuh anak,&rdquo; sebutnya. Dengan begitu, calon ayah atau ibu memiliki keyakinan diri terhadap kompetensinya dalam merawat dan memberikan pengasuhan pada anak secara positif. &ldquo;Hal ini akan berpengaruh pada perilaku pengasuhannya dan menunjang tumbuh kembang anak secara optimal,&rdquo; katanya.</p>
<p style="text-align:justify">Selain bisa merasakan kebebasan dalam hak memilih kehidupan pribadi, pilihan ini pun menimbulkan beberapa dampak negatif. Dalam laman <em>cancer.org</em> dijelaskan bahwa kanker rahim dapat menyerang wanita tanpa memandang usia, namun lebih sering menyerang mereka yang tidak pernah memiliki anak atau yang memiliki anak pertama setelah usia 35 tahun.</p>
<p style="text-align:justify">Sedangkan menurut para ahli mengutip pada laman <em>news.unair.ac.id</em>, guru besar Sosiologi&nbsp;Universitas Airlangga&nbsp;(Unair) Bagong Suryanto menjelaskan bahwa istilah <em>childfree</em> ini dapat memberikan stigma pada keluarga dan lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan masyarakat dianggap lebih menghargai hak kelompok dibandingkan dengan hak individu.</p>
<p style="text-align:justify">Pendapat serupa di sampaikan oleh Tri pada laman <em>uns.ac.id</em>. Ia menuturkan bahwa salah satu pihak yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan <em>childfree</em> ialah keluarga besar. &ldquo;Sebab, orang tua dari pasangan suami istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anak-anaknya. Salah satunya harapannya adalah untuk memiliki cucu yang meneruskan keturunannya,&rdquo; jelasnya.</p>
<p><strong>Penulis: Mutiah Kusuma Sari<br />
Editor: Ela Auliyana</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-childfree-di-indonesia/">Fenomena Childfree di Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-childfree-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
