<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>psikologi Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/psikologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/psikologi/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jan 2025 07:16:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>psikologi Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/psikologi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Buntut Gila Kerja Para Pekerja Muda</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2021 18:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[dampak-negatif]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-muda]]></category>
		<category><![CDATA[hustle-culture]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Pecandu kerja yang mementingkan pekerjaan dibanding hal penting lain sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa orang. Fenomenanya terus berkembang ke generasi berikutnya</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/">Buntut Gila Kerja Para Pekerja Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211; </strong><em>Pecandu kerja yang mementingkan pekerjaan dibanding hal penting lain sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa orang. Fenomenanya terus berkembang ke generasi berikutnya hingga menjadi budaya kurang menyehatkan.</em></p>
<p style="text-align:justify"><em>Hustle culture</em> atau yang dapat diartikan sebagai budaya gila kerja merupakan terminologi baru di dunia profesional dan sedang berkembang belakangan ini. Hal itu diungkapkan oleh Gita Savitri dalam video di kanal Youtube-nya. &rdquo;<em>Hustle culture</em> adalah suatu gaya hidup dimana seseorang itu harus sibuk dan kerja terus bagaimana, dimana, dan kapan pun. &nbsp;Baik akhir pekan maupun hari libur, pokoknya harus bekerja keras setiap hari,&rdquo; jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify">Ia menambahkan bahwa semenjak bisnis membangun perusahaan rintisan menjadi tren di kalangan anak muda, melakukan gila kerja dianggap sebagai suatu hal keharusan. &rdquo;Fenomena ini <em>gue</em> perhatikan semakin terlihat sejak zaman <em>start up</em>, pokoknya zaman Silicon Valley begitu lah. Ketika kewirausahaan, terutama di kalangan anak muda mulai naik. Orang-orang jadi terobsesi ingin seperti Steve Jobs dan Mark Zuckerberg,&rdquo; ungkap Gita dalam video berjudul &ldquo;Everything Wrong with Hustle Culture, Beropini Episode 56&rdquo;.</p>
<p style="text-align:justify">Menurutnya, beberapa figur terkenal seperti Elon Musk yang menjadi seorang pengusaha dan<em> founder</em> (baca: pendiri) dari beberapa perusahaan teknologi terkenal juga ikut membesarkan budaya gila kerja ini. Ia mengutip pernyataan Elon dari akun Twitter-nya bahwa orang yang cuma kerja empat puluh jam per minggu tidak akan bisa mengubah dunia. Lebih lanjut, Elon menuliskan kalau kita mencintai apa yang kita kerjakan, maka hal tersebut tidak akan terasa seperti pekerjaan.</p>
<p style="text-align:justify">Raymond Chin selaku Chief Executive Officer (CEO) Ternak Uang, sebuah platform edukasi finansial untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia, memberi tahu dalam video di kanal Youtube-nya bahwa beberapa perusahaan raksasa di China juga ikut mempopulerkan budaya gila kerja yang dikenal dengan sebutan 996, yaitu bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam selama 6 hari. Istilah itu dipopulerkan oleh pendiri perusahaan Alibaba yaitu Jack Ma pada &nbsp;wawancara yang dilakukan perusahaannya. Konsep kerja keras yang sempat menjadi kontroversi itu akhirnya terbawa ke perusahaan lain di China.</p>
<p style="text-align:justify">Namun menurut Raymond, kebanyakan orang hanya melihat dari sisi negatifnya dan tidak dengan sisi positifnya. &rdquo;Inovasi-inovasi terbesar, disruptif terbesar di dunia, itu pasti di belakangnya ada orang yang kerja keras gila-gilaan&rdquo;, ungkapnya pada video pribadinya yang membahas tentang <em>hustle culture</em>. Ia menambahkan bahwa orang-orang tersebut mengorbankan beberapa waktu di hidup mereka agar bisa berdampak luas bagi dunia.</p>
<p style="text-align:justify">Walaupun begitu, dampak negatif akan dirasakan oleh beberapa orang yang mengikuti gaya hidup gila kerja seperti ini, salah satunya pada aspek kesehatan mental. Seperti yang diungkapkan oleh Andri selaku dokter spesialis kejiwaan dalam kanal Youtube Mako Talk bahwa ada beberapa orang yang terjebak dalam situasi harus terus bekerja, sehingga pada awalnya mungkin terjadi <em>burnout</em> (baca: stres berat) dan akhirnya menjadi gejala gangguan kejiwaan. Hal tersebut juga didukung dengan sebuah studi dalam jurnal Occupational Medicine yang mengatakan bahwa orang dengan jam kerja yang lebih panjang, berapa pun usianya, cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan tidur.</p>
<p style="text-align:justify">Maka dari itu, penerapan <em>work life balance</em> atau keseimbangan dalam menjalani kerja dan kehidupan lainnya menjadi penting agar tidak mengalami dampak negatif dari <em>hustle culture</em>. &ldquo;Terkadang kita tuh membuang-buang waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak perlu, seolah-olah itu di dalam jam kerja, tapi sebenarnya itu tidak dilakukan seharusnya. Jadi akhirnya malah produktivitas kerjanya seolah-olah panjang tapi tidak bagus gitu&rdquo;, jelas Andi dalam webinar bertajuk &ldquo;Hustle Culture dan Toxic Positivity&rdquo;.</p>
<p><strong>Penulis: </strong><strong>Luqman Aradhana</strong><br />
<strong>Editor: Artha Julia</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/">Buntut Gila Kerja Para Pekerja Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kawruh Jiwa : Mempelajari Hakikat Hidup dari Ki Ageng Suryomentaram</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kawruh-jiwa--mempelajari-hakikat-hidup-dari-ki-ageng-suryomentaram/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kawruh-jiwa--mempelajari-hakikat-hidup-dari-ki-ageng-suryomentaram/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2021 13:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu-jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kawruh-jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[ki-ageng-suryomentaram-]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Ki Ageng Suryomentaram merupakan seorang yang meninggalkan kehidupannya di Keraton Yogyakarta dan berkelana untuk mencari hakikat kehidupan. Dengan meneliti dan mengamati pahit</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kawruh-jiwa--mempelajari-hakikat-hidup-dari-ki-ageng-suryomentaram/">Kawruh Jiwa : Mempelajari Hakikat Hidup dari Ki Ageng Suryomentaram</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong><em> Ki Ageng Suryomentaram merupakan seorang yang meninggalkan kehidupannya di Keraton Yogyakarta dan berkelana untuk mencari hakikat kehidupan. Dengan meneliti dan mengamati pahit getirnya hidup yang ia lewati. Akhirnya, ia berhasil menyusun sebuah pengetahuan mengenai jiwa manusia yang diberi nama kawruh jiwa.</em></p>
<p style="text-align:justify"><em>Kawruh jiwa </em>merupakan ilmu yang dibuat dan dikembangkan oleh seorang yang bernama Ki Ageng Suryomentaram. Menurut jurnal berjudul &ldquo;Konsep Psikoterapi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram&rdquo;, ilmu ini murni bersifat alamiah yang berangkat dari hal-hal yang nyata dan juga ilmiah. Ini dikarenakan ilmu tersebut tidak mengandung unsur gaib (mistik) dan perdukunan (klenik). Hal tersebut pun menjadi alasan beliau menggunakan kata &ldquo;kawruh&rdquo; yang berarti &ldquo;yang rasional&rdquo;.</p>
<p style="text-align:justify">Dalam buku berjudul <em>Psikologi Suryomentaraman</em> yang ditulis oleh Afthonul Afif juga dijelaskan bahwa <em>kawruh jiwa</em> lebih tepat disebut sebagai ilmu pengetahuan dan lebih mendekati ilmu filsafat atau psikologi. Hal tersebut karena ajaran ini mengajak untuk berpikir&nbsp; rasional, memeriksa kembali keyakinan-keyakinan kita secara cermat dan teliti, serta membuka selubung-selubung prasangka yang menutupi kebenaran. Dengan demikian bisa dicapai inti pengetahuan yang terang dan jernih.</p>
<p style="text-align:justify">Ajaran ini bukan merupakan agama ataupun kepercayaan terhadap sesuatu. <em>Kawruh jiwa</em> juga bukan juga pelajaran tentang baik-buruk dan melakukan atau menolak sesuatu. Itu adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan segala gerak-geriknya. Dengan begitu, <em>kawruh jiwa</em> adalah metode untuk memahami pribadi diri sendiri dengan tepat, benar, dan jujur.</p>
<p style="text-align:justify"><em>Kawruh jiwa</em> yang diajarkan oleh Ki Ageng Suryomentaram ini mempelajari mengenai dasar ilmu. Dalam bukunya diterangkan bahwa ilmu adalah sistematika penalaran yang mengarahkan orang untuk berpikir benar serta memilah-milah persoalan ke dalam kategori-kategori benar, sehingga melahirkan kejernihan pikiran dan keteraturan tindakan. Jadi, ilmu bukanlah pelajaran kebatinan dan juga budi pekerti yang mengatur cara berperilaku baik dan benar.</p>
<p style="text-align:justify">Pada masa penyebaran dan pengajaran yang dilakukan oleh Ki Ageng Suryomentaram, beliau selalu menyampaikan sebuah kalimat yang menjelaskan tentang ajaran <em>kawruh jiwa</em>. &ldquo;Jadi ilmu jiwa atau <em>kawruh jiwa</em> merupakan ilmu rasa atau <em>kawruh raos</em>. Ilmu ini bukan merupakan agama atau ajaran tentang baik buruk yang memiliki batasan &lsquo;jangan begitu&rsquo; atau &lsquo;seharusnya begitu&rsquo;, serta bukan suatu hal terkait keharusan untuk melakukan tindakan tertentu atau tindakan menolak sesuatu,&rdquo; tulis Afthonul Afif dalam Kata Pengantar buku tersebut. Ia pun menyimpulkan bahwa <em>kawruh jiwa</em> adalah pengetahuan yang berusaha mengetahui jiwa dengan segala wataknya, persis seperti ilmu tentang hewan dan tanaman yang lain, beserta segala wataknya.</p>
<p><strong>Penulis: Kevin Kahlil Akbar<br />
Editor: Ela Auliyana</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kawruh-jiwa--mempelajari-hakikat-hidup-dari-ki-ageng-suryomentaram/">Kawruh Jiwa : Mempelajari Hakikat Hidup dari Ki Ageng Suryomentaram</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kawruh-jiwa--mempelajari-hakikat-hidup-dari-ki-ageng-suryomentaram/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
