<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>literasi-digital Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/literasi-digital/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/literasi-digital/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Mar 2025 14:36:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>literasi-digital Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/literasi-digital/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Inovasi Teknologi yang Mengubah Dunia Literasi</title>
		<link>https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/inovasi-teknologi-yang-mengubah-dunia-literasi/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/inovasi-teknologi-yang-mengubah-dunia-literasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2025 14:36:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Industri dan Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[ai]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[literasi-digital]]></category>
		<category><![CDATA[politeknik-stmi-jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lpmindustria.com/?p=1950</guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Literasi kini tidak hanya sebatas  membaca, tetapi juga memilah informasi agar terhindar dari hoaks dan</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/inovasi-teknologi-yang-mengubah-dunia-literasi/">Inovasi Teknologi yang Mengubah Dunia Literasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong> <em>Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Literasi kini tidak hanya sebatas  membaca, tetapi juga memilah informasi agar terhindar dari hoaks dan misinformasi di era digital</em>.</p>



<p>Internet mulai dikenal&nbsp;di Indonesia sejak tahun 90-an. Dalam wawancara bersama Fifi Lailasari Hadianastuti, S.Kom., M.Kes., selaku Kepala Perpustakaan Politeknik STMI Jakarta, beliau menjelaskan perubahan literasi di era digital. Sebelumnya,&nbsp;buku fisik menjadi media utama untuk membaca, sedangkan sekarang aktivitas membaca banyak dilakukan dalam bentuk digital. Di era sebelum digital, akses terhadap buku sulit terutama di daerah terpencil sehingga buku sangat dihargai.&nbsp;Sementara itu, &nbsp;di perkotaan, kemudahan akses terhadap buku terkadang membuat masyarakat kurang menghargainya.</p>



<p>Dalam wawancara dengan Mulia Sabina, mahasiswa program studi Administrasi Bisnis Otomotif di Politeknik STMI Jakarta, berpendapat bahwa era digital membawa perubahan besar dalam akses informasi, yang sebelumnya terbatas pada media cetak seperti buku dan majalah. Kini, informasi dapat diakses dengan mudah melalui perangkat seperti <em>smartphone</em>&nbsp;tanpa perlu berlangganan. Dengan adanya platform digital ini, semua orang dapat membaca buku apa pun&nbsp;yang mereka inginkan, kapan saja, di mana saja, selama memiliki akses ke internet.</p>



<p>Meski menawarkan kemudahan, penting untuk memanfaatkan teknologi secara bijak agar dapat mendukung berbagai aspek kehidupan. Perubahan ini membawa dampak, di&nbsp;mana tidak hanya memahami isi informasi, tetapi juga&nbsp;memilah informasi hoaks<em>,</em>&nbsp;serta menghindari misinformasi. Setiap pembaca perlu benar-benar teliti, bahkan gambar pun perlu dicari tahu keasliannya.</p>



<p>Teknologi baca digital, seperti aplikasi dan situs web dengan beragam pilihan memungkinkan pengguna memilih konten sesuai kebutuhan. Hal ini dapat menjadi pemicu peningkatan minat baca. Aplikasi pembelajaran&nbsp;seperti Duolingo&nbsp;memanfaatkan <em>AI</em>&nbsp;untuk menyesuaikan materi dengan kemampuan dan kebutuhan pengguna, sehingga mempermudah proses belajar bahasa. Selain itu, aplikasi seperti Grammarly membantu meningkatkan literasi dengan memeriksa tata bahasa secara otomatis.</p>



<p>Penggunaan kecerdasan buatan (<em>AI</em>) dalam penulisan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. <em>AI</em>&nbsp;membantu penulis dengan menghasilkan teks otomatis, melakukan pengeditan, serta koreksi. Alat seperti Grammarly dan ChatGPT mempermudah perbaikan tata bahasa, penyusunan draf, dan pemberian saran untuk meningkatkan kualitas tulisan. Selain itu, <em>AI </em>juga bermanfaat dalam penulisan ilmiah seperti untuk analisis data, deteksi plagiarisme, dan pengelolaan referensi. Meskipun terdapat tantangan terkait orisinalitas dan pemikiran kritis, potensi <em>AI</em>&nbsp;dalam mempercepat proses penulisan menjadikannya alat yang sangat berharga.</p>



<p>Salah satu tantangan utama di era digital adalah kebiasaan melihat TikTok yang dianggap kontradiktif, karena menyajikan informasi secara sepotong-sepotong dan&nbsp;berpotensi menurunkan literasi. Selain itu, fenomena mahasiswa yang hanya mengutip&nbsp;daftar pustaka dari jurnal tanpa membaca buku secara utuh juga menjadi perhatian.</p>



<p>Untuk menghadapi tantangan ini&nbsp;diperlukan strategi adaptasi,&nbsp;selain&nbsp;harus menerima perubahan, kita juga harus kritis dalam menyaring informasi. Edukasi memegang peranan penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi digital, serta kemampuan untuk memilah informasi yang valid dan terpercaya. Seperti halnya&nbsp;berselancar di internet, kita harus bisa menjaga keseimbangan, mengambil yang dibutuhkan, dan mengabaikan yang tidak dibutuhkan.</p>



<p><strong>Penulis : Sheillomitha Salsa Nabila Putri Jofanala<br>Editor : Muhammad Nur Ikhsan</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/inovasi-teknologi-yang-mengubah-dunia-literasi/">Inovasi Teknologi yang Mengubah Dunia Literasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/inovasi-teknologi-yang-mengubah-dunia-literasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minat Baca Masyarakat Rendah, Bagaimana Pemerintah Menanganinya?</title>
		<link>https://lpmindustria.com/peristiwa/minat-baca-masyarakat-rendah-bagaimana-pemerintah-menanganinya/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/peristiwa/minat-baca-masyarakat-rendah-bagaimana-pemerintah-menanganinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Nov 2023 10:19:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[literasi-digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Hari Gerakan Nasional Membaca dicanangkan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2002. Gerakan ini dilakukan untuk membantu meningkatkan minat baca masyarakat.</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/peristiwa/minat-baca-masyarakat-rendah-bagaimana-pemerintah-menanganinya/">Minat Baca Masyarakat Rendah, Bagaimana Pemerintah Menanganinya?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000"><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong><em> Hari Gerakan Nasional Membaca dicanangkan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2002. Gerakan ini dilakukan untuk membantu meningkatkan minat baca masyarakat.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Indonesia setiap tahunnya memperingati Hari Gerakan Nasional Membaca. Megawati Soekarno Putri, Presiden Indonesia ke-5 (2001-2004) merupakan sosok yang mencetuskan gerakan ini. Gerakan Nasional Membaca dilakukan untuk membantu meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Dilansir dari dispusip.pekanbaru.go.id, Kala itu minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Oleh karena itu, peran pustakawan menjadi sangat penting dalam membentuk literasi masyarakat. Pustakawan harus mampu berpartisipasi dalam mengembangkan inovasi dan strategi baru agar membaca dapat menjadi kegemaran yang meresap dalam budaya bangsa Indonesia. Melalui hal tersebut, pada 12 November 2002 dijadikannya sebagai Hari Gerakan Nasional Membaca.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), dalam laman lkpj.jabarprov.go.id, dijelaskan bahwa indeks membaca orang Indonesia hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca buku. Rendahnya tingkat minat membaca ini dapat mengakibatkan terbatasnya wawasan dan pengetahuan di kalangan masyarakat, yang pada akhirnya berpotensi menciptakan ketertinggalan dalam berbagai aspek pembangunan. Upaya perbaikan dalam meningkatkan minat baca diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan ini.&nbsp;&nbsp;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Dilansir dari dispusipda.jabarprov.go.id, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat telah melakukan beberapa upaya dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Pertama, menyediakan sebuah fasilitas yaitu KOLECER (Kotak Literasi Cerdas). KOLECER merupakan sebuah inovasi perpustakaan mini yang ditempatkan pada ruang-ruang publik seperti taman, pedestrian, lapangan olahraga, dan fasilitas umum lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Kedua, melaksanakan pelayanan perpustakaan melalui Mobil Unit Perpustakaan Keliling kepada masyarakat di tempat-tempat umum, sekolah, taman bacaan, tempat persinggahan anak, serta panti jompo. Ketiga, pembuatan aplikasi bernama CANDIL (Maca Dina Digital Library). Aplikasi tersebut ditujukan untuk buku digital yang dapat diakses melalui <em>smartphone</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Dilansir dari antaranews.com, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menyelenggarakan Festival Literasi sebagai bagian dari peringatan Bulan Bahasa dan dalam rangka Gerakan Nasional Membaca. Dari berbagai rangkaian kegiatan tiga hari berturut-turut, salah satu acara yang mencolok adalah inisiatif gerakan membaca bersama selama 15 menit, kegiatan ini diikuti oleh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Pentingnya membaca tidak hanya sebagai kegiatan pribadi, tetapi juga sebagai investasi dalam pengembangan potensi diri dan kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, belum lama ini pun diperingatinya Hari Gerakan Nasional Membaca yang jatuh setiap tanggal 12 November.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#000000">Dengan terus memperingati Hari Gerakan Nasional Membaca setiap tahunnya, diharapkan &nbsp;pemerintah, sekolah, perpustakaan, dan komunitas literasi terus berinovasi dalam menyediakan akses yang lebih mudah dan menarik terhadap bahan bacaan. Harapan terbesar adalah terciptanya budaya membaca yang kuat sebab membaca bukan hanya kebutuhan, tetapi juga kegemaran bagi setiap individu sehingga masyarakat Indonesia dapat bersaing dalam ranah pengetahuan dan </span>mengatasi berbagai tantangan global dengan lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penulis: Atikah Nur Sabrina<br />
Editor: Nayla Auliya Andhini</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/peristiwa/minat-baca-masyarakat-rendah-bagaimana-pemerintah-menanganinya/">Minat Baca Masyarakat Rendah, Bagaimana Pemerintah Menanganinya?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/peristiwa/minat-baca-masyarakat-rendah-bagaimana-pemerintah-menanganinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kurangnya Minat Baca Masyarakat, Indonesia Berada di Posisi Rendah!</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kurangnya-minat-baca-masyarakat-indonesia-berada-di-posisi-rendah/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kurangnya-minat-baca-masyarakat-indonesia-berada-di-posisi-rendah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 May 2023 12:10:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-muda]]></category>
		<category><![CDATA[kemendikbud-ristek]]></category>
		<category><![CDATA[literasi-digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Hari Buku Nasional yang diperingatkan setiap tanggal 17 Mei 2023 dapat menjadi momen untuk menumbuhkan kembali minat baca dan literasi masyarakat Indonesia.</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kurangnya-minat-baca-masyarakat-indonesia-berada-di-posisi-rendah/">Kurangnya Minat Baca Masyarakat, Indonesia Berada di Posisi Rendah!</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000"><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong><em> Hari Buku Nasional yang diperingatkan setiap tanggal 17 Mei 2023 dapat menjadi momen untuk menumbuhkan kembali minat baca dan literasi masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, budaya membaca di Indonesia masih rendah dan jauh tertinggal dari negara-negara lain.</em></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Hari Buku Nasional (Harbuknas) diperingati setiap tanggal 17 Mei 2023. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan menanamkan budaya membaca masyarakat Indonesia. Abdul Malik Fadjar, Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Gotong Royong&nbsp;(2001-2004) merupakan sosok yang mencetuskan Harbuknas.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Harbuknas awalnya ditetapkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan menaikkan penjualan buku. Menurut UNESCO, pada tahun 2002 literasi di Indonesia hanya 87,9 persen bagi orang dewasa yang berusia 15 tahun ke atas. Selain itu, jumlah rata-rata buku yang dicetak setiap tahun hanya mencapai 18 ribu judul. Angka ini lebih rendah dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand pada tahun yang sama.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Belajar dari hal tersebut sejumlah elemen masyarakat khususnya kelompok pecinta buku mendorong untuk disahkannya gerakan untuk meningkatkan budaya membaca. Kemudian pada tahun 2002 ditetapkanlah tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yaitu pada 17 Mei 1980.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Namun, hingga saat ini budaya membaca di Indonesia masih kurang, dilansir dari kemendikbud.go.id Hasil survei yang dilakukan dalam Program for International Student Assessment (PISA) bahwa peringkat nilai kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lainnya. PISA sendiri merupakan sebuah sistem ujian yang dilakukan oleh Organization for Economics Cooperation and Development (OECD) untuk mengukur kualitas hasil pendidikan dari negara-negara di seluruh dunia.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Hal tersebut juga di dukung dengan data UNESCO, dalam laman bgpsulawesiutara.kemdikbud.go.id, dijelaskan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Indonesia pun dinyatakan menduduki peringkat urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei minat membacanya, persis berada di bawah Thailand yang berada pada urutan ke-59 dan di atas Bostwana yang berada pada urutan ke-61. Riset tersebut dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, yang bertajuk &ldquo;World&rsquo;s Most Literate Nations Ranked&rdquo;.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Dilansir dari kemendikbud.go.id, Pemerintah telah mengupayakan program Gerakan Literasi Nasional (GLN) sejak 2018 lalu, yaitu menambah ketersediaan bahan bacaan bagi siswa dengan melakukan pencetakan dan pengiriman buku ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), seperti wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Deputi Operasional Wilayah 2, PT Pos Indonesia, Mohammat Basori juga menyatakan dukungan terhadap program pemerintah. Ia berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pengiriman buku-buku agar tepat sasaran dan berjalan baik.</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Selain program pencetakan dan pengiriman buku pengayaan literasi, program pendampingan juga menjadi fokus pemerintah untuk memastikan efektivitas program literasi di sekolah.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="color:#000000">Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk berpartisipasi dalam merayakan Harbuknas. Pertama, membeli buku baru atau meluangkan waktu untuk membaca kembali buku yang sudah kita miliki, guna mengingat kembali pengetahuan yang telah kita peroleh. Selanjutnya dapat berkunjung ke perpustakaan kota atau nasional setempat untuk membaca buku. Terakhir, menyumbangkan buku-buku yang sudah selesai dibaca dan masih dalam kondisi baik ke perpustakaan, taman baca, sekolah, atau bagi teman-teman yang membutuhkan.</span></p>
<p style="text-align:justify"><strong>Penulis: Atikah Nur Sabrina<br />
Editor: Sabina Putri Balgis</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kurangnya-minat-baca-masyarakat-indonesia-berada-di-posisi-rendah/">Kurangnya Minat Baca Masyarakat, Indonesia Berada di Posisi Rendah!</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/kurangnya-minat-baca-masyarakat-indonesia-berada-di-posisi-rendah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Upaya Pemerintah, Platform, dan Organisasi Masyarakat dalam Melindungi Anak di Ruang Digital</title>
		<link>https://lpmindustria.com/peristiwa/upaya-pemerintah-platform-dan-organisasi-masyarakat-dalam-melindungi-anak-di-ruang-digital/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/peristiwa/upaya-pemerintah-platform-dan-organisasi-masyarakat-dalam-melindungi-anak-di-ruang-digital/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2021 11:06:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[ecpat-indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[kemenkominfo]]></category>
		<category><![CDATA[kpai]]></category>
		<category><![CDATA[kpppa]]></category>
		<category><![CDATA[literasi-digital]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan-anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Selain memberikan keuntungan, kemajuan teknologi digital pun dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak Indonesia. Oleh sebab itu, pihak-pihak terkait melakukan berbagai upaya</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/peristiwa/upaya-pemerintah-platform-dan-organisasi-masyarakat-dalam-melindungi-anak-di-ruang-digital/">Upaya Pemerintah, Platform, dan Organisasi Masyarakat dalam Melindungi Anak di Ruang Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong> <em>Selain memberikan keuntungan, kemajuan teknologi digital pun dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak Indonesia. </em><em>Oleh sebab itu, pihak-pihak terkait melakukan berbagai upaya untuk melindungi anak di ruang digital.</em></p>
<p style="text-align:justify">Dalam acara Festival Aman 2021 yang disiarkan melalui <em>l</em><em>ive </em><em>s</em><em>treaming</em> YouTube End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking of Children for Sexual Purpose (ECPAT) Indonesia, I Gusti Ayu Bintang Darmawati selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menjelaskan terkait hak akses anak. Ia memaparkan bahwa anak-anak memiliki hak untuk mengakses informasi yang sesuai dengan usianya demi tumbuh kembang yang berkualitas. &ldquo;Akses anak terhadap berbagai fasilitas internet harus dijamin demi mendapatkan informasi dan pengetahuan,&rdquo; tuturnya pada Minggu lalu (18/7). Hal serupa pun disebutkan oleh Mira Tayyiba sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Menurutnya, penciptaan ruang digital yang kondusif dan aman sangat diperlukan untuk mengakomodasi anak dalam ranah daring. &ldquo;Kondusif berarti bebas dari konten negatif, sedangkan aman berarti bebas dari tindak kejahatan,&rdquo; ucap Mira.</p>
<p style="text-align:justify">Pada kenyataannya, ruang digital di Indonesia belum memenuhi kedua hal tersebut. Ini dibuktikan dari survei yang dilakukan ECPAT Indonesia kepada 1203 responden anak. Hasilnya, ditemukan 287 bentuk pengalaman buruk saat berinternet di masa pandemi. Dilansir dari <em>press release</em> di situs resminya, terdapat 112 anak mendapatkan pesan tidak senonoh, 66 anak menerima gambar/video yang tidak membuat nyaman, 27 anak memperoleh gambar/video pornografi, 24 anak diajak <em>live streaming </em>untuk membahas hal tidak senonoh, 23 anak mengatakan bahwa hal buruk tentangnya diunggah tanpa izin, dan 16 anak dikirimi tautan konten pornografi. Dengan demikian, Mira mengungkapkan bahwa perlu kolaborasi lintas pihak untuk mengatasi hal-hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Kemenkominfo sebagai akselerator, fasilitator, dan regulator sistem digital di Indonesia telah menerapkan serangkaian upaya untuk menciptakan ruang digital yang aman untuk anak. Di tingkat hulu, mereka telah melakukan inisiasi penguatan pemahaman digital melalui Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi Kominfo. &ldquo;Gerakan ini telah menyasar lebih dari 12,4 juta anak setiap tahunnya. Targetnya adalah lima puluh juta anak terliterasi pada tahun 2024,&rdquo; ungkap Mira dalam acara yang bertajuk &ldquo;You(th) Can Create A Better Internet for Children and Young People tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Tak hanya itu, Kemenkominfo pun sudah menyusun kebijakan yang memprioritaskan perlindungan anak di ranah daring. Pertama, perlindungan data pribadi anak diatur dalam Permenkominfo Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik. Lanjut, turut diatur pula dalam Permenkominfo Nomor 10 Tahun 2021 tentang penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat. Dijelaskan bahwa penetapan pornografi anak sebagai konten yang mendesak dan harus diputus aksesnya dalam waktu empat jam setelah pelaporan.</p>
<p style="text-align:justify">Pada tingkat hilir, Mira menyebutkan bahwa pihaknya mendukung upaya penegakkan hukum bagi penyebar konten negatif oleh Kepolisian Republik Indonesia (RI). &ldquo;Dalam menangani konten negatif terkait anak, kami dalam beberapa kesempatan bekerja sama dengan Kemenpppa dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia,&rdquo; lanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify">Selain dari pemerintah, penyedia platform pun memiliki peranan untuk mewujudkan ruang digital yang ramah untuk anak. Desy Septiane Sukendar, Policy Program Facebook Indonesia, menuturkan bahwa mereka menggunakan teknologi untuk mencegah, mendeteksi, dan menghapus konten-konten negatif untuk anak. Desy melanjutkan bahwa Facebook Indonesia pun membangun kemitraan untuk memerangi konten kekerasan terhadap anak, sehingga aplikasi yang dibuat akan lebih aman.. Dalam bidang edukasi, mereka telah menjalankan program Asa Digital agar siswa, guru, dan orang tua dapat mengasah keterampilannya dalam menggunakan internet. &ldquo;Baru-baru ini, Facebook Indonesia juga meluncurkan sebuah video kampanye &lsquo;Laporkan, Jangan Bagikan&rsquo; supaya edukasinya lebih tersebar,&rdquo; tutur Desy.</p>
<p style="text-align:justify">Terakhir dari sisi organisasi masyarakat, ECPAT Indonesia menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukannya. ECPAT Indonesia sendiri merupakan sebuah organisasi nasional yang menentang Eksploitasi&nbsp; Seksual Komersial Anak (ESKA). Andy Ardian selaku Program Manager dari organisasi tersebut mengungkapkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Facebook Indonesia, Kemenpppa, Kemenkominfo, dan Siberkreasi dalam meningkatkan literasi digital anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify">Tahun lalu, mereka sudah melatih sejumlah 258 anak dari enam kota, yaitu Medan, Jakarta, Solo, Kupang, Lombok, dan Ambon. Andy menjelaskan bahwa anak-anak tersebut dilatih terkait pentingnya keselamatan dan literasi digital. Kemudian di tahun ini, sejumlah 58 anak akan dipersiapkan untuk menjadi pelatih dan pendidik bagi teman sebayanya yang disebut Aman Warior. &ldquo;Ini menjadi bukti bahwa anak-anak juga mempunyai peran penting dalam upaya pemenuhan hak anak, sama seperti orang dewasa,&rdquo; tutupnya.</p>
<p><strong>Penulis: Artha Julia<br />
Editor: Ela Auliyana</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/peristiwa/upaya-pemerintah-platform-dan-organisasi-masyarakat-dalam-melindungi-anak-di-ruang-digital/">Upaya Pemerintah, Platform, dan Organisasi Masyarakat dalam Melindungi Anak di Ruang Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/peristiwa/upaya-pemerintah-platform-dan-organisasi-masyarakat-dalam-melindungi-anak-di-ruang-digital/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
