<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pertanian Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/pertanian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/pertanian/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jan 2025 07:16:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>pertanian Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/pertanian/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hidroponik, Metode Bercocok Tanam yang Menguntungkan</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/hidroponik-metode-bercocok-tanam-yang-menguntungkan/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/hidroponik-metode-bercocok-tanam-yang-menguntungkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2021 16:16:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[bercocok-tanam]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hidroponik]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Metode hidroponik adalah metode bercocok tanam dengan menggunakan media tanam selain tanah. Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan sebagai tempat penanaman.</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/hidroponik-metode-bercocok-tanam-yang-menguntungkan/">Hidroponik, Metode Bercocok Tanam yang Menguntungkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Metode hidroponik adalah metode bercocok tanam dengan menggunakan media tanam selain tanah. Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan sebagai tempat penanaman. Selain perawatannya yang mudah, metode ini dapat menghasilkan keuntungan lainnya.</em></p>
<p style="text-align:justify">Dikutip dari jurnal berjudul &ldquo;Pemanfaatan Lahan dengan Menggunakan Sistem Hidroponik&rdquo;, hidroponik merupakan aktivitas yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai medium untuk menggantikan tanah. Sejalan dengan kutipan tersebut, seorang penggiat hidroponik di daerah Bekasi menjelaskan mengenai pengertian hidroponik. &ldquo;Metode ini merupakan penanaman dengan media air sebagai tempat tumbuhnya tanaman,&rdquo; jelas penggiat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Dalam jurnal yang ditulis oleh Ida Syamsu, seorang dosen Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Tulungagung, tersebut menjelaskan bahwa jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan untuk berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya steril atau bebas dari unsur hara, sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan melalui pipa atau disiramkan secara manual. Lalu, media penanaman dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolite, atau hanya air.</p>
<p style="text-align:justify">Penggiat tersebut pun menjelaskan bahwa metode penanaman hidroponik ini lebih murah dan ramah lingkungan, &ldquo;Saya memilih metode penanaman ini karena biaya yang dikeluarkan lebih murah dibandingkan untuk membeli pupuk. Selain itu juga, pupuk dapat mencemari air pada saat proses penyerapan,&rdquo; jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify">Dalam jurnal yang ditulis Ida juga dijelaskan mengenai kelebihan dari metode hidroponik yaitu dapat menghemat penggunaan lahan karena kepadatan tanaman per satuan luas dapat dilipat gandakan. Terkendalinya kebutuhan nutrien (baca: gizi) pada tanaman di dalam rumah kaca, sehingga terjaminnya mutu produk seperti jenis dan kualitas tanaman. Dan tidak bergantung pada musim atau waktu tanam dan panen, sehingga dapat diatur sesuai dengan kebutuhan konsumen dan pasar.</p>
<p style="text-align:justify">Selain itu juga terdapat kelebihan lainnya yang disebutkan oleh penggiat. &ldquo;Sebelumnya, saya tertarik karena hobi dan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah. Namun, saya melihat ada potensi bisnis yang menjanjikan dalam hal ini hingga menjadi seperti sekarang,&rdquo; jelas penggiat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Penggiat tersebut pun juga menambahkan kalau dia juga memiliki sedikit kendala yaitu saat ingin meningkatkan jumlah panen dan jangkauan pasar karena lahan yang terbatas untuk memperluas kebun dan meletakan hasil panen. &ldquo;Kalau ingin panen banyak, memang jelas kita membutuhkan lahan. Media tanam bisa bertingkat namun saat itu saya belum merasa cukup untuk mencapai target yang saya harapkan,&rdquo; tambahnya.</p>
<p style="text-align:justify">Dalam jurnalnya, Ida menyebutkan beberapa tumbuhan yang bisa ditanam dengan metode hidroponik, yaitu beberapa jenis bunga-bungaan yaitu <em>flamingo flower, </em>kembang&nbsp; sepatu, dan jenis kaktus pipih. Selain itu juga ada beberapa jenis semak hias, tumbuhan perdu, buah, dan sayuran. Lalu penggiat hidroponik pun memiliki beberapa tumbuhan di kebunnya. &rdquo;Paling banyak pakchoy, sawi, bawang daun, dan banyak lainnya,&rdquo; sebutnya.</p>
<p style="text-align:justify">Penggiat pun sedikit menjelaskan mengenai perawatan dari tumbuhan hidroponik. Hal pertama yang harus dipahami adalah penggantian air dari metode ini memiliki dua cara perawatan berdasarkan umur dari tumbuhan. &ldquo;Untuk tanaman yang masih baru, penggantian air dilakukan sekitar dua minggu. Apabila sudah mendekati masa panen dapat dilakukan sehari atau dua hari dengan air mengalir,&rdquo; ungkapnya.</p>
<p style="text-align:justify">Lalu, beliau juga menambahkan mengenai perawatan agar tumbuhan hidroponik di kebunnya tidak diserang hama. &ldquo;Di sini, kita menciptakan ekosistem sendiri agar tidak terlalu berlebihan juga. Jadi akan dipasang jaring di sekeliling kebun, dengan begitu kita dapat mengontrol ekosistem tersebut agar terkendali dan mendapatkan hasil semaksimal mungkin,&rdquo; jelasnya.</p>
<p><strong>Penulis: Nurdianti Utami<br />
Editor: Kevin Kahlil Akbar</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/hidroponik-metode-bercocok-tanam-yang-menguntungkan/">Hidroponik, Metode Bercocok Tanam yang Menguntungkan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/hidroponik-metode-bercocok-tanam-yang-menguntungkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perubahan Iklim di Indonesia Berdampak Buruk terhadap Sektor Pertanian</title>
		<link>https://lpmindustria.com/peristiwa/perubahan-iklim-di-indonesia-berdampak-buruk-terhadap-sektor-pertanian/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/peristiwa/perubahan-iklim-di-indonesia-berdampak-buruk-terhadap-sektor-pertanian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2021 12:13:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[dampak-negatif]]></category>
		<category><![CDATA[gas-rumah-kaca]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[klhk]]></category>
		<category><![CDATA[limbah]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca dan pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Hal ini berdampak pada sektor pertanian yang dapat menurunkan jumlah</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/peristiwa/perubahan-iklim-di-indonesia-berdampak-buruk-terhadap-sektor-pertanian/">Perubahan Iklim di Indonesia Berdampak Buruk terhadap Sektor Pertanian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;</strong> <em>Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca dan pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim. H</em><em>al ini</em><em> berdampak pada sektor pertanian yang dapat menurunkan jumlah produksi ketahanan pangan</em></p>
<p style="text-align:justify">Melansir dari situs web <em>bmkg.go.id</em>, data dari 85 stasiun pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan normal suhu udara pada bulan Maret 1981-2010 adalah 26,7<sup>o</sup>C (<em>range</em> normal: 21,2<sup>o</sup>C -28,5<sup>o</sup>C). Namun pada Maret 2021, suhu udara rata-ratanya adalah 26,9<sup>o</sup>C. Dengan begitu terjadi anomali atau ketidaknormalan/ penyimpangan positif sebesar 0,2<sup>o</sup>C pada bulan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Dikatakan pula, suhu udara pada Maret 2021 merupakan nilai anomali tertinggi ke-14 sepanjang periode data pengamatan sejak 1981. Tahun 2020 sendiri menempati urutan kedua tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,7&deg;C, sedangkan tahun 2019 berada di peringkat ketiga dengan nilai anomali sebesar 0,6&deg;C.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip melalui laman <em>ditjenppi.menlhk.go.id</em>, perubahan iklim ini terjadi karena adanya peningkatan gas karbon dioksida (CO<sub>2</sub>) dan gas-gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek Gas Rumah Kaca (GRK). Pertambahan konsentrasi tersebut disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia. Dalam situs <em>bbpp-lembang.info</em>, penyebab utamanya adalah pertumbuhan industri dan penyusutan luas hutan sebagai penyerap GRK. Hal tersebut mengakibatkan adanya perubahan iklim global di seluruh belahan bumi.</p>
<p style="text-align:justify">Perubahan iklim ini menyebabkan banyak dampak negatif, yaitu peningkatan suhu udara, kenaikan permukaan air laut, dan pergeseran musim. Tak hanya itu, fenomena ini juga dapat mengakibatkan perubahan pola iklim ekstrem. Di antaranya adalah El Nino yang ditandai dengan musim kemarau panjang dan La Nina di mana musim hujan lebih lama dan sering dari biasanya.</p>
<p style="text-align:justify">Selain itu, perubahan iklim juga dapat mengancam ketahanan pangan negara di seluruh dunia. Contoh aktualnya adalah banjir parah di Thailand. Bencana tersebut menyebabkan negara ini menghentikan ekspor beras ke negara lain hingga berdampak pada kenaikan harga beras dunia.</p>
<p style="text-align:justify">Pada laman tersebut juga dijelaskan bahwa naiknya suhu udara akan memengaruhi tanaman karena peningkatan laju pernapasan (respirasi) dan penguapan (transpirasi), sehingga meningkatkan konsumsi air dan perkembangbiakan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Peningkatan suhu udara ini juga mempercepat pematangan buah dan biji yang berujung dengan penurunan mutu tanaman.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip dari laman <em>infopublik.id</em>, dampak perubahan iklim ini akan dirasakan oleh semua sektor namun yang terbesar adalah sektor pertanian. Penurunan kualitas kesuburan dan daya dukung lahan akan menyebabkan produktivitas hasil pertanian juga ikut menurun. Begitu juga dengan ketersediaan air yang semakin terbatas dan kualitasnya yang semakin menurun menjadi penyebab anjloknya produksi pertanian.</p>
<p style="text-align:justify">Demi mengatasi dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim ini terdapat upaya yang bisa dilakukan dengan menggunakan strategi antisipasi, mitigasi, dan adaptasi. Melansir dari <em>bbpp-lembang.info</em> bahwa antisipasi merupakan penyiapan arah, strategi, program dan kebijakan dalam rangka menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim ini. Beberapa program yang dilaksanakan antara lain penyusunan strategi serta perencanaan pengembangan infrastruktur (terutama jaringan irigasi), evaluasi tata ruang untuk pengaturan lahan (penyesuaian jenis tanaman dengan daya dukung lahan), . Selanjutnya, turut dilakukan pengembangan sistem informasi dan peringatan dini banjir serta kekeringan, serta penyusunan dan penerapan peraturan perundangan mengenai tata guna lahan dan metode pengelolaan lahan.</p>
<p style="text-align:justify">Selanjutnya, mitigasi adalah upaya memperlambat laju pemanasan global serta perubahan iklim melalui penurunan emisi serta peningkatan penyerapan GRK. Program ini lebih difokuskan pada aplikasi teknologi rendah emisi, yakni&nbsp; varietas atau kelompok tanaman unggul dan jenis tanaman yang rendah emisi dan kapasitas absorpsi (baca: penyerapan) karbon tinggi, penyiapan lahan tanpa bakar, pengembangan dan pemanfaatan <em>biofuel</em>, penggunaan pupuk organik, berpestisida dan pakan ternak rendah emisi GRK. Selain itu juga, dalam upaya mitigasi ini dengan mempraktikkan hal-hal seperti mengurangi penyebaran partikel halus zat padat (aerosol), menghemat air dan energi, mendaur ulang barang-barang seperti plastik, kertas dan kardus, gelas serta kaleng.</p>
<p style="text-align:justify">Terakhir, adaptasi merupakan upaya penyesuaian teknologi, manajemen dan kebijakan di sektor pertanian dengan pemanasan global dan perubahan iklim. Program adaptasi lebih difokuskan pada aplikasi teknologi adaptif, terutama pada tanaman pangan, seperti penyesuaian pola tanam, penggunaan varietas unggul adaptif terhadap kekeringan, genangan/banjir, salinitas dan umur genjah lainnya yaitu penganekaragaman pertanian, teknologi pengelolaan lahan, pupuk, air, diversifikasi (baca: penganekaragaman) pangan dan lain-lain. Secara kelembagaan, program ini diarahkan untuk pengembangan sistem informasi seperti sekolah lapang iklim, sistem penyuluhan dan kelompok kerja (pokja) variabilitas dan perubahan iklim sub sektor pertanian serta pengembangan sistem asuransi pertanian akibat risiko iklim (<em>crop weather insurance</em>).</p>
<p><strong>Penulis: Ela Auliyana<br />
Editor: Silvia Andini</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/peristiwa/perubahan-iklim-di-indonesia-berdampak-buruk-terhadap-sektor-pertanian/">Perubahan Iklim di Indonesia Berdampak Buruk terhadap Sektor Pertanian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/peristiwa/perubahan-iklim-di-indonesia-berdampak-buruk-terhadap-sektor-pertanian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
