Implementasi Mata Kuliah Business Plan melalui Kegiatan Bazar Mahasiswa

lpmindustria.com – Mahasiswa Administrasi Bisnis Otomotif Politeknik STMI Jakarta tidak hanya mempelajari mata kuliah Business Plan di kelas. Melalui bazar, mereka mengimplementasikan teori sekaligus menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola sebuah usaha.

Di tengah persaingan dunia kerja yang ketat, mahasiswa dituntut untuk menciptakan peluang usaha secara mandiri. Jiwa wirausaha menjadi bekal penting agar mereka dapat lebih kreatif, inovatif, dan mandiri. Pembelajaran berbasis pengalaman langsung seperti bazar dinilai efektif untuk melatih kerja sama tim, pengambilan keputusan, serta komunikasi dengan pelanggan. Dionisius Sundoro, S.T., M.B.A., dosen pengampu mata kuliah Business Plan menegaskan bahwa tujuan utama adanya mata kuliah tersebut dan bazar adalah agar memiliki rancangan bisnis yang terstruktur dan matang. Menurut beliau, berbisnis tidak cukup hanya langsung memulai, tetapi harus merencanakan detail seperti produk yang dijual, metode pemasaran, alokasi dana, dan pengaturan sumber daya manusia. Simulasi bazar ini memberikan mahasiswa gambaran nyata tentang tantangan yang akan mereka hadapi saat memasuki dunia kerja.

Dalam Rencana Perkuliahan Semester (RPS), kegiatan ini terbagi dalam dua tahap Project-Based Learning (PBL). Pada PBL 1, mahasiswa fokus pada pendalaman materi dan penyusunan proposal teori. Sedangkan pada PBL 2, mahasiswa dituntut untuk bekerja sama mengimplementasikan ilmu kewirausahaan dan business plan secara langsung melalui bazar. Pengalaman tersebut dirasakan oleh Sanggul Mangaraja Situmorang yang mengaku materi yang disampaikan di kelas, mulai dari merancang strategi hingga membuat produk semakin terasa berarti ketika diimplementasikan langsung melalui bazar.

Setiap kelompok memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola anggota kelompok lintas kelas, “Kelompok kita ini pertamanya membagi-bagi tugas sesuai kemampuan anggota-anggotanya. Setelah membagi-bagi tugas sesuai kemampuannya, kita melakukan riset pemasaran, promosi, lalu yang terakhir itu kita melakukan evaluasi,” ujar Fida Ar Royyan sebagai peserta bazar. Sementara itu Sanggul menuturkan, “Kelompok saya merencanakan itu dari pembagian, kita langsung bikin grup dan juga buat rencana mau jualan apa, mau gimana nanti sistem modalnya, serta sistem berjualannya bagaimana,” ujarnya. 

Dionisius Sundoro menjelaskan bahwa penyusunan business plan dimulai dengan riset produk yang diminati warga kampus, dilanjutkan penyusunan anggaran, pelaksanaan bazar, hingga penyusunan laporan akhir. Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa selama pelaksanaan bazar adalah perubahan harga bahan baku akibat inflasi. Kenaikan harga susu dan beberapa komoditas lainnya mendorong mahasiswa mencari alternatif pemasok dengan harga yang lebih terjangkau, “Akhirnya untuk mengatasinya kita emang cari online yang bener-bener sampai pelosok gitu,” ungkap Gina Maydisa, salah satu peserta bazar. Selain tantangan tersebut, Dionisius menambahkan bahwa mahasiswa juga perlu menghadapi tantangan internal, seperti membangun kerja sama tim, mengatur waktu, serta menyusun dokumen pertanggungjawaban.

Selama menjalani bazar terdapat beragam manfaat yang dirasakan oleh mahasiswa. Gina mengaku menjadi lebih memahami bahwa menjadi wirausahawan itu bukan hal yang mudah. Menurutnya, mahasiswa harus menyusun strategi agar pembeli tertarik, memahami kondisi pasar dan kebutuhan konsumen, serta mempersiapkan rencana cadangan ketika menghadapi kendala. Hal tersebut turut ditegaskan oleh Dionisius Sundoro, “Di business plan ini menjadi salah satu sarana agar mahasiswa itu bisa mengembangkan kemampuan mereka,” ujarnya.

Penulis : Najmiya Fazal Qoniah
Editor : Zilvi Aulia Yasmin

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *