lpmindustria.com – Program Google Student Ambassador (GSA) membuka peluang bagi mahasiswa terpilih untuk membangun relasi antar kampus sekaligus mengedukasi lingkungan kampus mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan melalui produk AI Google.
Program Google Student Ambassador (GSA) merupakan inisiatif yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjadi duta inovasi dan teknologi di kampusnya masing-masing, dengan fokus pada pemanfaatan produk AI dari Google. Pada tahun 2026, program ini kembali membuka pendaftaran bagi mahasiswa yang ingin bergabung, dengan periode mulai 23 Februari hingga 16 Maret 2026. Proses pendaftaran GSA terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu pengisian identitas dan informasi personal, twibbon challenge dan self-recorded interview, Gemini challenge dan self aspiration. Mahasiswa yang terpilih nantinya akan menjalankan berbagai kegiatan di kampus seperti workshop, seminar, sesi diskusi, maupun aktivitas lain untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan penggunaan AI khususnya melalui Google Gemini, serta mendorong pemanfaatan fitur Google AI Pro. Pada tahun sebelumnya, sebanyak 800 mahasiswa terpilih menjadi Google Student Ambassador dan mendapatkan berbagai manfaat, seperti pendampingan one-on-one mentoring bersama pakar AI, pelatihan serta workshop kepemimpinan eksklusif, hingga akses ke program Generative AI Leader Certification. Salah satu mahasiswa yang berhasil terpilih adalah Nisrina Ufaira Thifal, mahasiswi dari Politeknik STMI Jakarta.
Nisrina mengungkapkan bahwa ketertarikannya mengikuti program ini berawal dari rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba peluang baru yang dinilai dapat memberikan pengalaman berharga sekaligus memperluas wawasan di bidang teknologi. Dalam proses seleksi, ia mengikuti tiga challenge. Pertama, mengidentifikasi masalah di kampus dan menawarkan solusi berupa fitur atau sistem menggunakan Gemini Canvas, “Waktu itu aku bikin web booking kelas pengganti, soalnya kelas ganti biasanya di luar jadwal dan harus booking ruangan dulu. Sekalian aku tambahin juga fitur peminjaman sarana prasarana kampus seperti proyektor,” ujarnya. Challenge kedua berupa pembuatan proposal acara kampus, sedangkan challenge ketiga adalah membuat video dari prompt yang di generate menggunakan Google Veo 3. Pada rangkaian seleksi tahap self interview, peserta diminta membuat video yang menjawab empat pertanyaan, “Di video itu, ada empat pertanyaan. Pertama, antusiasme kita tentang inovasi dan pandangan terhadap Google. Kedua, kalau bikin acara ngobrol santai soal teknologi, bagaimana konsep acaranya biar tetap rame dan seru. Ketiga, ungkap pengalaman ketika pernah ada di situasi tertentu yang bikin kita harus mikir out of the box. Keempat, kalau terpilih apa pencapaian yang paling membanggakan dan dampaknya untuk kampus,” ungkapnya.
Dalam menjalani proses seleksi, Nisrina mengaku menghadapi tantangan terkait timeline pengerjaan yang cukup berdekatan sehingga ia harus pandai mengatur waktu. Namun, tantangan tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan rekomendasi Google untuk menggunakan Gemini sebagai alat bantu dalam mencari solusi. Menurut Nisrina, program GSA menjadi sarana untuk self improvement sekaligus memperluas relasi antar mahasiswa dari berbagai kampus. Manfaat tersebut juga ingin dirasakan oleh mahasiswa lain, salah satunya Zaniya Diyan sebagai calon peserta Google Student Ambassador, “Karena sebelumnya pernah jadi brand ambassador, jadi mau coba perusahaan yang lebih besar lagi yaitu Google. Menurut aku, jadi bagian dari GSA itu kesempatan yang keren buat belajar dari ahlinya, nambah relasi, dan bawa dampak positif juga buat kampus,” ujarnya.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar tentang AI dan machine learning, tetapi juga berkesempatan mengasah kemampuan seperti mengadakan pelatihan, berbagi pengetahuan kepada mahasiswa lain, serta membangun kebiasaan untuk menyampaikan ide secara kreatif dan inovatif.
Penulis : Nandra Ayu Saputri
Editor : Gita Mega Putri Simanjuntak

