Affiliate di Kalangan Mahasiswa : Antara Peluang dan Beban

lpmindustria.com – Affiliate saat ini menjadi perhatian mahasiswa karena keuntungan fleksibilitas serta sebagai penghasilan tambahannya. Dibalik itu, terdapat tantangan yang membuat sebagian orang memilih berhenti, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang karir di masa depan.

Banyak mahasiswa tertarik dengan program affiliate atau mempromosikan produk dari aplikasi, contohnya seperti Shopee. Program ini memungkinkan mahasiswa bekerja tanpa terikat jam kerja hingga bisa dikerjakan kapan saja dan dimana saja, sangat cocok untuk mahasiswa yang ingin menambah penghasilan tanpa mengganggu aktivitas kuliah. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan pengakuan salah satu mahasiswa yang pernah bergabung dalam program ini, “Affiliate itu butuh effort yang sangat besar, kita harus rajin bikin konten, aktif promosi, dan juga membangun interaksi dengan audiens supaya orang percaya sama rekomendasi kita.,” ujar Mariyah Al Qibtiyyah. Faktor ini yang menjadi penyebab sehingga sebagian mahasiswa merasa berat untuk menjalani program ini, terutama karena hasil yang diperoleh sering kali tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.

Di sisi keuntungan, program affiliate memberikan penghasilan tambahan berbasis komisi dari setiap produk yang terjual lewat tautan di konten pribadi. Walaupun jumlahnya tidak selalu besar, penghasilan ini cukup membantu kebutuhan sehari-hari. Selain itu, ada keuntungan nonfinansial seperti meningkatnya kreativitas dalam pembuatan konten, keterampilan manajemen waktu, dan rasa percaya diri saat berinteraksi di media sosial. Hal ini seperting yang diungkapkan oleh Maziyatul Husna, seorang mahasiswa yang menekuni program affiliate, mengaku bahwa dirinya menjadi lebih kreatif karena dituntut untuk membuat konten menarik agar orang lain tertarik dengan video yang telah kita buat.

Selain keuntungan yang didapat, tentu ada kelemahan yang turut dirasakan bagi mahasiswa yang bergabung di program affiliate, seperti penghasilan tidak tetap yang menjadi kendala utama karena tidak dapat diprediksi. Selain itu, membutuhkan kemampuan khusus untuk membuat konten yang menarik dari segi design, copywriting, mengedit video, hingga paham dalam mempromosikan barang di media sosial. Waktu luang juga menjadi faktor utama yang dibutuhkan untuk memperlancar produksi konten affiliate. Mengingat sebagai seorang mahasiswa, kuliah tentu menjadi kesibukan utama lalu ditambah dengan mengerjakan tugas dan organisasi menjadi terasa berat untuk membagi waktu.

Tantangan terbesar dalam program menjalani affiliate adalah menjaga konsistensi dalam membuat konten dan promosi, “Kesulitan yang sering aku hadapi terutama soal konsistensi, kadang males atau kehabisan ide apalagi kalau banyak tugas kuliah,” ujar Maziyatul Husna. Kondisi ini menuntut kemampuan mengatur waktu agar kuliah tetap berjalan tanpa menghambat produksi konten. Selain itu, membangun audiens juga membutuhkan kesabaran karena tidak semua konten langsung mendapat banyak penonton.

Sebagian mahasiswa lebih memilih fokus pada pekerjaan lain yang dianggap jelas dan pasti dengan sistem penghasilan sebanding dengan usaha yang mereka keluarkan. Sebagian mahasiswa lainnya menganggap bahwa program affiliate ini bisa menjadi karir jangka panjang jika dilakukan secara konsisten, berupa pengembangan skill yang bermanfaat untuk portofolio dan dunia kerja setelah lulus. Melihat dunia digital yang terus berkembang memberikan peluang yang besar di bidang konten kreator dan digital marketing dimulai dengan membangun personal branding dan mengasah keterampilan, maka program ini bisa menjadi batu loncatan untuk karir profesional di bidang digital kedepannya.

Penulis : Sheillomitha Salsa Nabila P.J.
Editor : Lifa Ansyaresti S.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *