Sabtu Bersama Bapak

Tahun rilis      : 2016

Genre              : Drama

Sutradara        : Monty Tiwa

Produksi          : Falcon Pictures, Maxima Pictures

Negara            : Indonesia

Durasi             : 1 jam 40 menit

Tagline            : “Walau telah tiada, Bapak akan selalu ada.”

Soundtrack      : I’m Sorry (Wizzy)

 

Film ini diadaptasi dari novel karya Adithya Mulya. Seperti judulnya, film ini bercerita tentang sebuah keluarga, dimana genre yang diambil adalah drama dan alurnya tidak lepas dari melankolia. Di awal scene, Gunawan sang Bapak yang diperankan oleh Abimana Aryasatya divonis mengidap kanker dan hidupnya tak lama lagi. Lalu, Bapak hanya menceritakan penyakitnya kepada sang istri yaitu Ibu Itje yang diperankan oleh Ira Wibowo dan merahasiakan penyakitnya dari kedua putranya, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra).

Merasa akan meninggalkan kewajiban sebagai seorang Ayah, Bapak membuat video sebagai penuntun hidup anaknya sampai dewasa. Melalui video tersebut, Satya dan Cakra belajar banyak tentang kehidupan. Dari masih kecil hingga dewasa, mereka menonton rekaman video tersebut setiap hari Sabtu di ruang keluarga bersama Ibu. Dari pesan-pesan dalam video tersebut, Satya dan Cakra bisa menjadi juara taekwondo dan anak yang dibanggakan oleh Ibunya. Karena masakan Ibu Itje yang enak, ia membuka restoran dan Satya bertemu dengan seorang perempuan yaitu Rissa (Acha Septriasa) di sana. Lalu, mereka menikah dan pindah ke Paris karena Satya bekerja sebagai tenaga kerja offshore (baca: lepas pantai) di Denmark.

Terdapat beberapa konflik dalam hubungan rumah tangga Satya, ia merasa harus seperti bapaknya yang mendidik anak-anaknya dengan keras. Namun, didikan yang Satya ajarkan kepada kedua putranya yaitu Rian dan Miku dianggap salah oleh istrinya. Rissa menganggap Satya tidak tahu apa-apa dalam hal mendidik anak karena hanya sebentar di rumah dan akan pergi melakukan tugasnya yang berpindah-pindah lokasi kerja.

Lalu, Rissa mencoba untuk bekerja agar rumah dan biaya pendidikan anak-anaknya terpenuhi dengan cepat. Dengan begitu, mungkin suaminya tidak akan bekerja lagi sebagai tenaga kerja offshore. Selama bekerja, Rian dan Miku dititipkan ke temannya yang bernama Ika. Belum lama bekerja, hal yang tidak diinginkan terjadi kepada kedua putranya. Mereka hampir diculik saat Ika sedang menjawab telepon. Untungnya, toko daging langganan mereka menemukan Rian dan Miku sedang berjalan bersama pria tidak dikenal dan langsung diamankan oleh sang pedagang daging tersebut. Hal tersebut memicu pertengkaran antara mereka, karena Satya berpikir bahwa Rissa tidak bisa menjaga anak-anak mereka.

Dalam film ini terdapat adegan yang membuat kita tertawa di kisah seorang Cakra. Dengan polosnya, ia menyukai seorang perempuan bernama Ayu (Sheila Dara). Awalnya, ia menyerah untuk mendekati Ayu, lantaran sudah ditembak oleh Salman (teman Cakra) dan Ayu juga menunjukkan sikap tak suka. Lalu, sang Ibu menawarkannya untuk dikenalkan dengan anak temannya yang bernama Retna. Cakra setuju, lalu mereka membuat janji temu di Jakarta. Di tempat janji temu itu Cakra dan Ayu bertemu. Cakra menelepon Retna, tetapi yang berbunyi adalah telepon Ayu. Akhirnya mereka menceritakan kisahnya masing-masing dan terlihat Ayu sudah mulai nyaman dengan Cakra.

Dari film ini, banyak pelajaran yang bisa diambil, seperti membina rumah tangga yang baik dan cara berpikir orang tua yang tidak ingin membebankan anaknya. Dalam film tersebut terdapat satu kalimat yang memiliki makna mendalam yaitu “Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya, tapi tugas orang tua kepada semua anak”.

Penulis: Zharifah Tafidah
Editor: Ela Auliyana

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *