Selayaknya
Kepada sang penguasa kepalanya mendongak Kepada sang pemangku jabatan tangannya menengadah Kepada sang ilahi mulutnya tak henti merapal doa Perihal kesengsaraan yang menimpa alam
Kepada sang penguasa kepalanya mendongak Kepada sang pemangku jabatan tangannya menengadah Kepada sang ilahi mulutnya tak henti merapal doa Perihal kesengsaraan yang menimpa alam
Kucing kucing di pelataran telah mati Kendi kendi kosong tak lagi berisi Noda dan debu di teras halaman bersemi kembali Tatapan kosong tak bisa
Manakala malam kembali mendu mengusik renungan sendu Silir semilir angin menyentuh tubuh Bagai syair-syair yang sedang berlabuh Pada bintang yang terjaga semesta Ber-nalam pada
Maaf nona, Maaf jika saya tidak bisa mewujudkan mimpi nona Maaf jika saya tidak paham keinginan nona Maaf jika saya terlalu sering mengabaikan nona
Wajahmu selalu memancarkan keceriaan Walaupun yang kau rasa ialah kesedihan Walaupun kecewa sedang kau rasakan Kau tutupi semua isi hatimu dengan senyuman Rasa
Dalam keresahan kita berjumpa bertemu dalam doa dan derita Terkurung bisu dalam besi jelaga, Berharap keadilan selalu terbuka pada siapa yang membelanya Tak memandang
Hari-hari kerap dipenuhi teka-teki Kita diharuskan menjawab semua tebakan yang tiba-tiba menghampiri Ketika tebakan kurang tepat, semua akan berimbas pada masa depan diri sendiri
Bergerak mendobrak, lalu berteriak Seolah sudah dikekang sangat lama kemudian terpancing oleh perkara Muak, hanya itu yang dirasa Mengalir lalu hanyut dalam derasnya
Tak akan habis menemukan titik masalah yang kerap menghalang Batu besar kerap menghadang Bisikan aneh kembali hadir dalam bayang-bayang Apakah memang wajar atau tidak
Kita telah beriringan ditempat peraduan Berawal kaku, kini bersatu menjadi keakraban Satu persatu momen terlewatkan Engkau begitu pintar menciptakan momen perjuangan Kebersamaan membuat satu