<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wfh Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/wfh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/wfh/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jan 2025 07:16:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>wfh Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/wfh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Starlink Elon Musk Menjadi Ancaman Baru bagi Provider Lokal</title>
		<link>https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/starlink-elon-musk-menjadi-ancaman-baru-bagi-provider-lokal/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/starlink-elon-musk-menjadi-ancaman-baru-bagi-provider-lokal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jul 2024 17:26:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Industri dan Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[infotek]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[wfh]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Terdapat kekhawatiran dari berbagai kalangan provider lokal, mengenai rencana masuknya Starlink buatan Elon Musk ke Indonesia. Proyek SpaceX ini diprediksi dapat mengancam</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/starlink-elon-musk-menjadi-ancaman-baru-bagi-provider-lokal/">Starlink Elon Musk Menjadi Ancaman Baru bagi Provider Lokal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>lpmindustria.com</strong><em> &#8211; Terdapat kekhawatiran dari berbagai kalangan provider lokal, mengenai rencana masuknya Starlink buatan Elon Musk ke Indonesia. Proyek SpaceX ini diprediksi dapat mengancam eksistensi provider-provider kecil lokal yang ada, serta menimbulkan rasa khawatir terhadap masa depan industri telekomunikasi di Indonesia. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak dapat dipungkiri bahwa kecepatan Internet di Indonesia masih tergolong lambat. Seiring dengan perkembangan teknologi dan penetrasi digital, kebutuhan akan internet di Indonesia semakin meningkat. Dilansir dari antaranews.com&nbsp;pada Tahun 2023 tingkat penetrasi internet mencapai 78,19%, dengan lebih dari 215 Juta Penduduk yang terhubung ke internet. Tingginya penggunaan internet disebabkan oleh pandemi di mana semua orang terpaksa melakukan pendidikan jarak jauh dan pekerjaan dari rumah/<em>Work From Home</em> (WFH).</p>
<p style="text-align: justify;">Dilansir dari antaranews.com, Starlink merupakan Proyek dari SpaceX milik Elon Musk, yang bertujuan untuk menyediakan jaringan internet dengan kecepatan tinggi ke seluruh dunia dengan menggunakan teknologi jaringan satelit. Proyek ini dilakukan dengan cara melakukan peluncuran ribuan satelit berukuran kecil dengan tujuan untuk dapat berkomunikasi dengan stasiun darat dan user secara langsung melalui antena khusus.</p>
<p style="text-align: justify;">Merujuk pada antaranews.com, dampak masuknya Starlink ke Indonesia dapat bersifat positif maupun negatif. Dampak positif dengan adanya Starlink dapat memungkinkan masyarakat Indonesia yang tinggal di tempat terpencil dapat mengakses internet dengan kecepatan tinggi. Sedangkan dampak negatifnya lebih dirasakan oleh provider-provider kecil lokal, kehadiran Starlink dengan kecepatan internet yang tinggi dapat mengancam provider kecil lokal karena mereka kesulitan bersaing dari segi teknologi dan jangkauan.</p>
<p style="text-align: justify;">Solusi untuk provider lokal adalah dengan melakukan investasi besar-besaran dalam hal infrastruktur jika ingin tetap bersaing dengan&nbsp;Starlink. Selain itu, provider juga dapat memberikan penawaran paket internet yang murah dan berkualitas sehingga lebih banyak orang yang berlangganan. Terakhir, melakukan inovasi teknologi terbaru sehingga provider lokal dapat bersaing dengan Starlink.&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penulis: Ilham Julian Hawari<br />
Editor: Muhammad Ardiansyah</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/starlink-elon-musk-menjadi-ancaman-baru-bagi-provider-lokal/">Starlink Elon Musk Menjadi Ancaman Baru bagi Provider Lokal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/info-industri-dan-teknologi/starlink-elon-musk-menjadi-ancaman-baru-bagi-provider-lokal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gen Z di Era WFH/WFA Menghadapi Tantangan, Menjajaki Peluang, dan Menyempurnakan Adaptasi</title>
		<link>https://lpmindustria.com/sastra-&#038;-opini/gen-z-di-era-wfhwfa-menghadapi-tantangan-menjajaki-peluang-dan-menyempurnakan-adaptasi/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/sastra-&#038;-opini/gen-z-di-era-wfhwfa-menghadapi-tantangan-menjajaki-peluang-dan-menyempurnakan-adaptasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 May 2024 22:22:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra & Opini]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-z]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[wfh]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com&#160;&#8211;&#160;Di masa sekarang kita sudah tidak asing lagi dengan julukan &#8220;Gen Z&#8221;. Generasi ini memasuki dunia kerja di tengah masa pandemi Covid-19, yang membentuk</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sastra-&#038;-opini/gen-z-di-era-wfhwfa-menghadapi-tantangan-menjajaki-peluang-dan-menyempurnakan-adaptasi/">Gen Z di Era WFH/WFA Menghadapi Tantangan, Menjajaki Peluang, dan Menyempurnakan Adaptasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif"><strong>lpmindustria.com&nbsp;&#8211;&nbsp;</strong><em>Di masa sekarang kita sudah tidak asing lagi dengan julukan &ldquo;Gen Z&rdquo;. Generasi ini memasuki dunia kerja di tengah masa pandemi Covid-19, yang membentuk gaya hidup mereka berbeda dengan generasi sebelumnya.</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Generasi Z atau Gen Z dalam jurnal berjudul &ldquo;Gambaran Makna Kerja Bagi Generasi Z di Jakarta&rdquo; menurut Singh &amp; Dangmei, merupakan generasi termuda di dunia kerja atau generasi postmilenial, tumbuh pada tahun 2000-an dan dikelilingi oleh perkembangan teknologi yang pesat. Kemudian menurut Putra, Generasi Z ialah pekerja yang efektif di era digital.</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Kemampuan gen Z dalam memanfaatkan teknologi menjadikannya aset berharga bagi perusahaan di era digital sekarang. Keadaan ini juga sesuai dengan tren yang sedang berkembang, yaitu penerapan <em>Work From Home</em> (WFH) atau <em>Work From Anywhere</em> (WFA) oleh banyak perusahaan.&nbsp;</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Menurut Azwar dalam jurnal &ldquo;Perbedaan Sistem Kerja (WFO, WFH, <em>Hybrid</em>) Terhadap <em>Well-Being</em> Karyawan yang Bekerja di Jakarta&rdquo;, WFH menawarkan fleksibilitas. Hal tersebut sesuai dengan salah satu alasan utama generasi Z tetap bekerja di tempat kerja mereka, yaitu fleksibilitas dalam waktu dan lokasi kerja.&nbsp;</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Dikutip dari jurnal yang sama, menurut Waizenegger et al., &ldquo;Fleksibilitas dalam bekerja dari rumah mengakibatkan batas antara rumah dan pekerjaan menjadi kabur. Hal ini berujung pada munculnya &lsquo;budaya <em>always-on</em>&rsquo;, di mana pekerja merasa harus selalu responsif dan terkoneksi dengan pekerjaan bahkan ketika berada di rumah. Akibatnya, karyawan menghadapi kendala dalam berinteraksi dengan dunia di luar pekerjaan, termasuk dengan teman dan keluarga, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesejahteraan (<em>well-being</em>) mereka,&rdquo;.&nbsp;</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Dilihat dari perspektif gen Z, terdapat berbagai pandangan mengenai WFH/WFA. Individu, perusahaan, dan organisasi memiliki sudut pandang yang berbeda terkait penerapan WFH/WFA. Salah satu perdebatan yang muncul adalah seputar waktu dan biaya. Sebelum adanya WFH/WFA, pekerja kantoran harus menghabiskan waktu lebih lama untuk perjalanan menuju kantor dan mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi. Keuntungan dari WFH/WFA adalah tidak ada lagi kebutuhan akan waktu dan biaya tambahan untuk perjalanan menuju kantor.</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Bekerja secara WFA/WFH dapat mengurangi produktivitas karena tidak ada pengaturan waktu kerja yang tetap, terkadang tidak ada batasan waktu tertentu dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini dapat menyebabkan seseorang bekerja hingga larut malam, sehingga dapat mengurangi produktivitas. </span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Di kantor, orang memiliki batasan waktu kerja yang tetap, misalnya bekerja selama 8 jam sehari.&nbsp;</span></span><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Selain itu, komunikasi antar sesama rekan kerja juga tidak seluwes seperti ketika berada di kantor. Seseorang harus menghubungi rekan kerjanya untuk bertanya atau berkoordinasi, namun terkadang beberapa rekan kantor sulit dihubungi. Keadaan ini memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.&nbsp;</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Sebagai seorang yang bekerja secara WFH/WFA butuh melakukan adaptasi. Teknologi sangat memiliki peran penting dilakukannya WFH/WFA. Dilansir dari hrb.org, tantangan komunikasi sinkron bagi pekerja WFH/WFA yang tersebar di berbagai zona waktu. Aplikasi seperti Zoom, Skype, Google Meet, dan sejenisnya terkadang kurang optimal untuk komunikasi jarak jauh. Oleh karena itu, komunikasi asinkron menjadi kunci. Komunikasi asinkron memungkinkan pertukaran informasi tanpa memerlukan interaksi langsung dan simultan.</span></span></p>
<p dir="ltr" style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif"><strong>Penulis: Amanda Cahayawulan<br />
Editor: Nandra Ayu Saputri</strong></span></span></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/sastra-&#038;-opini/gen-z-di-era-wfhwfa-menghadapi-tantangan-menjajaki-peluang-dan-menyempurnakan-adaptasi/">Gen Z di Era WFH/WFA Menghadapi Tantangan, Menjajaki Peluang, dan Menyempurnakan Adaptasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/sastra-&#038;-opini/gen-z-di-era-wfhwfa-menghadapi-tantangan-menjajaki-peluang-dan-menyempurnakan-adaptasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena Zoom Fatigue Berdampak bagi Kesehatan Fisik dan Mental</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-zoom-fatigue-berdampak-bagi-kesehatan-fisik-dan-mental/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-zoom-fatigue-berdampak-bagi-kesehatan-fisik-dan-mental/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2021 13:24:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[covid19]]></category>
		<category><![CDATA[daring]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan-mental]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran-jarak-jauh]]></category>
		<category><![CDATA[wfh]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Saat ini aplikasi konferensi video banyak digunakan untuk melakukan kegiatan daring. Namun, intensitas yang tinggi melakukan kegiatan tersebut ternyata dapat menyebabkan kelelahan yang</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-zoom-fatigue-berdampak-bagi-kesehatan-fisik-dan-mental/">Fenomena Zoom Fatigue Berdampak bagi Kesehatan Fisik dan Mental</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Saat ini aplikasi konferensi video banyak digunakan untuk melakukan kegiatan daring. Namun, intensitas yang tinggi melakukan kegiatan tersebut ternyata dapat menyebabkan kelelahan yang disebut dengan istilah Zoom Fatigue.</em></p>
<p style="text-align:justify">Menurut SehatQ.com, <em>zoom fatigue&nbsp;</em>adalah rasa lelah yang muncul akibat tingginya intensitas waktu dalam mengikuti&nbsp;<em>konferensi video</em>.&nbsp;Kondisi ini baru terjadi pada saat pandemi, dimana kegiatan sekolah dan perkantoran dialihkan secara&nbsp;<em>online</em>. Istilah ini tidak hanya digunakan untuk penggunaan aplikasi Zoom, tetapi juga aplikasi lainnya, seperti Google Meet, Skype, Microsoft Teams.</p>
<p style="text-align:justify">Dilansir dari laman kemenkes.go.id rasa lelah karena terlalu banyak melakukan konferensi video ini biasanya dirasakan oleh orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak. Mengutip dari laman dip.fisip.unair.ac.id, <em>zoom fatigue</em> disebabkan oleh beberapa hal yaitu, berkurangnya atau tidak adanya komunikasi non-verbal, gangguan lingkungan rumah, tidak terdapatnya istirahat atau perpindahan tempat ketika melakukan konferensi video, selain itu, melihat wajah diri sendiri juga dapat membuat stress.</p>
<p style="text-align:justify">Lebih lanjut pada laman <em>fisioterapi.esaunggul.ac.id</em>, menurut Wahyudin, <em>zoom fatigue</em> terjadi dikarenakan seseorang melakukan kegiatan dengan konferensi video dengan posisi yang salah. &ldquo;Salah satunya ketika tubuh membungkuk saat melakukan rapat atau pembelajaran daring, kepala diletakan ke depan dan mata mengarah ke kamera. Posisi ini dapat memengaruhi postur karena leher menanggung beban yang berat dari kepala,&rdquo; ucapnya.</p>
<p style="text-align:justify">Salah satu dampak <em>zoom fatigue</em> bagi kesehatan fisik yaitu postur duduk yang salah bisa menyebabkan saraf terjepit. Saraf terjepit timbul akibat tekanan dari jaringan di sekitar saraf, contohnya seperti otot, tulang maupun tulang rawan. Tekanan ini mengganggu kerja saraf, sehingga timbul rasa sakit, kesemutan, dan mati rasa.</p>
<p style="text-align:justify">Dina Vebiola Saraswati Kuntardi dalam Jurnal Publisitas &ldquo;<em>Zoom Fatigue</em> dan Keberfungsian Sosial Di Kalangan Mahasiswa&rdquo; menyebutkan bahwa kelelahan tersebut dapat memicu terjadinya gangguan pada fungsi sosial mahasiswa. Hal ini terlihat dari tidak mampunya mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan rasa aman dan kebutuhan sosialnya. Selain itu, berbagai peran sosial yang harus dijalankan dalam satu waktu juga membuat mahasiswa mengalami kesulitan untuk menjalankan peran sosialnya dengan baik. Sementara itu, mahasiswa juga mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah lainnya sehingga mahasiswa tidak terlepas dari kondisi stres.</p>
<p style="text-align:justify">Lalu menurut Atikah Pustikasari dan Lia Fitriyanti dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 13(1) &ldquo;Stress dan Zoom Fatigue pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19&rdquo; disampaikan bahwa kelelahan yang dialami individu dalam beraktivitas/bekerja dapat dilihat dari riwayat penyakit yang dideritanya. Dalam penelitian ini pula dijelaskan bahwa kondisi sakit tidak berpengaruh terhadap kejadian stres. Hasil penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara gejala gangguan <em>somatoform</em> dengan tingkat stres. Dilansir dari <em>Alodokter</em>, gangguan samatoform merupakan&nbsp; kelainan psikologis pada seseorang yang ditandai dengan sekumpulan keluhan fisik yang tidak menentu, namun tidak tampak saat pemeriksaan fisik. Meski demikian mahasiswa yang mengalami sakit berisiko stres, dapat menyebabkan perubahan fisiologis sebagai respons tubuh terhadap stresor atau respons stres.</p>
<p style="text-align:justify">Mengutip dari laman <em>fk.unair.ac.id</em>, Santi Yuliani selaku Konsultan Psikiater memberikan beberapa tips sederhana yang dapat diterapkan untuk menanggulangi <em>zoom fatigue</em>. Diantaranya yaitu memperhatikan proporsi, membatasi intensitas waktu dalam penggunaan layar gawai. Lalu menyiapkan ruang khusus dan <em>dress code</em> atau pakaian karena intensitas Zoom yang terlalu lama terkadang juga membuat kita kesulitan berkonsentrasi. Terakhir, membatasi informasi, bisa jadi kelelahan yang dialami bukan semata karena Zoom, tetapi juga karena aktivitas sehari-hari yang beralih ke daring. &ldquo;Kelelahan karena aktivitas daring juga berpengaruh langsung pada kesehatan mental kita. Agar kita tetap waras selama pandemi, sangat penting untuk membatasi informasi,&rdquo; tangkasnya.</p>
<p style="text-align:justify">Dilansir dari laman <em>lldikti8.ristekdikti.go.id</em>, terdapat lima cara guna mengurangi <em>zoom fatigue</em>, yaitu menghindari <em>multitasking</em>, bangun dan istirahat, mengurangi rangsangan pada layar, menyeimbangkan &nbsp;waktu melakukan konferensi video, dan menggunakan &nbsp;<em>speaker view</em>.</p>
<p><strong>Penulis: Zharifah Tafidah<br />
Editor: Ela Auliyana </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-zoom-fatigue-berdampak-bagi-kesehatan-fisik-dan-mental/">Fenomena Zoom Fatigue Berdampak bagi Kesehatan Fisik dan Mental</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/fenomena-zoom-fatigue-berdampak-bagi-kesehatan-fisik-dan-mental/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Serba Daring Selama Pandemi Membuat Kesehatan Mata Semakin Tergangu</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/serba-daring-selama-pandemi-membuat-kesehatan-mata-semakin-tergangu/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/serba-daring-selama-pandemi-membuat-kesehatan-mata-semakin-tergangu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2021 12:19:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[covid19]]></category>
		<category><![CDATA[daring]]></category>
		<category><![CDATA[gawai]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[wfh]]></category>
		<category><![CDATA[who]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Intensitas menatap layar gawai yang semakin meningkat saat pandemi membuat World Health Organization (WHO) memprediksi setengah penduduk dunia akan mengalami miopia atau rabun</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/serba-daring-selama-pandemi-membuat-kesehatan-mata-semakin-tergangu/">Serba Daring Selama Pandemi Membuat Kesehatan Mata Semakin Tergangu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Intensitas menatap layar gawai yang semakin meningkat saat pandemi membuat World Health Organization (WHO) memprediksi setengah penduduk dunia akan mengalami miopia atau rabun jauh pada tahun 2050. </em></p>
<p style="text-align:justify">Dilansir dari <em>K</em><em>ompas.com</em> bahwa berdasarkan studi terbaru dari Belanda dan China terdapat sebesar 120.000 anak di negara China menderita miopia selama pandemi. Hal serupa juga disampaikan di laman <em>Liputan6.com</em> oleh Gusti G. Suardana selaku Ketua Layanan JEC Myopia Control Care. &ldquo;Selama 2020, anak usia 6-8 tahun ternyata tiga kali lipat lebih rawan terkena miopia dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya,&rdquo; ungkapnya dalam <em>media launch</em> &ldquo;The First Comprehensive Myopia Management in Indonesia&rdquo;.</p>
<p style="text-align:justify">Menurut Reza Fahlevi selaku dokter Spesialis Anak, peningkatan tersebut salah satunya terjadi karena membaca dengan jarak terlalu dekat. &ldquo;Penerapan belajar online, menatap layar komputer atau laptop dengan intensitas waktu yang lama&nbsp; dapat meningkatkan risiko gangguan mata karena pancaran sinar cahaya pada laptop,&rdquo; pungkasnya yang dilansir dari laman <em>Klik Dokter</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Selanjutnya, Gusti turut menyampaikan pada laman<em> Beritasatu.com</em> bahwa kelompok dewasa juga bertumpu pada gawai selama pandemi. &ldquo;Hal tersebut dilakukan untuk bekerja dan bersosialisasi, sehingga semua kalangan usia semakin berpotensi terserang miopia,&rdquo; jelasnya. Terlihat pada laman <em>Liputan6.com</em>, penelitian yang dilakukan FKUI RSCM pun menunjukkan adanya peningkatan <em>screen time</em> (baca: waktu terpapar layar gadget) rata-rata 11.6 jam per hari.</p>
<p style="text-align:justify">Di laman <em>Kompas.com</em>, seorang ahli optometri bernama Nadeem Rob mengemukakan penggunanaan gawai berlebih akan menyebabkan ketegangan mata, kelelahan mata, dan penurunan produktivitas. Lebih lanjut, juga turut disampaikan dalam jurnal &ldquo;Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Penurunan Kualitas Penglihatan Siswa Sekolah Dasar&rdquo; bahwa mata kering dialami oleh 88% dari sampel yang menggunakan gawai secara berlebih.</p>
<p style="text-align:justify">Kurangnya intensitas terpapar cahaya alami menjadi pemicu miopia. &ldquo;Saat ini banyak pembelajaran menggunakan gawai, sehingga sedikit kesempatan untuk terkena langsung paparan sinar matahari,&rdquo; ungkap Annegret Dahlmann Noor selaku konsultan oftalmologi di Moorfields Eye Hospital London pada laman <em>Medcom.id</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Bahaya miopia sendiri menurut Damara Andalia selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care bahwa seiring berjalannya waktu, miopia akan memperburuk kesehatan mata. &ldquo;Gangguan refraksi, termasuk miopia, menjadi salah satu faktor terbesar penyebab kebutaan di Indonesia,&rdquo; &nbsp;tuturnya.</p>
<p style="text-align:justify">Melihat pandemi yang tidak kunjung berakhir hingga berdampak pada penurunan kesehatan mata, Tri Winarti selaku dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gajah Mada (UGM) menyampaikan tips-tips untuk menjaga kesehatan mata di tengah kegiatan daring. Menurutnya, dengan menerapkan metode 20-20-20 dapat mengurangi ketegangan pada mata. &ldquo;Setiap dua puluh menit melihat layar, pandangan mata dialihkan melihat objek sejauh dua puluh kaki (enam meter) selama dua detik untuk relaksasi mata,&rdquo; ungkapnya yang dilansir melalui situs web UGM.</p>
<p style="text-align:justify">Lebih lanjut, ia menyarankan untuk membuat pengingat, seperti catatan yang ditempel di komputer atau alarm agar tidak lupa melakukan metode tersebut. Tidak hanya itu, pengaturan tingkat kecerahan pada layar adalah cara lainnya yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mata. &ldquo;Sebaiknya pencahayaannya tidak terlalu terang atau terlalu redup. Kecerahan layar diatur senyaman mungkin, misalnya pada tingkat 50 persen,&rdquo; tutupnya.</p>
<p><strong>Penulis: Hanny Kurnia Putri<br />
Editor: Silvia Andini</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/serba-daring-selama-pandemi-membuat-kesehatan-mata-semakin-tergangu/">Serba Daring Selama Pandemi Membuat Kesehatan Mata Semakin Tergangu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/serba-daring-selama-pandemi-membuat-kesehatan-mata-semakin-tergangu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YOLO, Gaya Hidup yang Bisa Mengancam Kesehatan Finansial</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2021 19:46:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[covid19]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[wfh]]></category>
		<category><![CDATA[yolo]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;You Only Live Once (YOLO) merupakan gaya hidup milenial yang bermakna untuk menikmati hidup. Namun, banyak orang yang menyalahartikannya hingga menimbulkan berbagai dampak</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/">YOLO, Gaya Hidup yang Bisa Mengancam Kesehatan Finansial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com</strong> &#8211;&nbsp;<em>You Only Live Once (YOLO) merupakan gaya hidup milenial yang bermakna untuk menikmati hidup. Namun, banyak orang yang menyalahartikannya hingga menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya pada finansial.</em></p>
<p style="text-align:justify">Kata YOLO secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi &ldquo;Anda hanya hidup sekali&rdquo;, kata ini biasanya digunakan sebagai bahasa <em>slang</em> di Amerika dan banyak dijumpai di media sosial. Berdasarkan kamus daring Oxford, kata ini biasanya digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang harus mengambil setiap kesempatan untuk menikmati kehidupan ataupun memaafkan sesuatu yang bodoh yang telah dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify">Menurut Ajeng Raviando sebagai seorang psikolog, YOLO sendiri mengandung makna yang positif. &ldquo;Orang pada zaman dahulu cenderung menunggu sampai mereka yakin dengan sesuatu yang diinginkan. Hal tersebut berbeda dengan saat ini, para remaja tergerak untuk langsung melakukan yang diinginkannya,&rdquo; terangnya yang dilansir dari <em>Kumparan.com</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Daisy Indira Yasmine selaku sosiolog dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa prinsip YOLO mudah diterima di Indonesia karena didukung oleh iklim sosial politik yang demokratis. &ldquo;Ditambah lagi, negara kita memiliki aspek budaya komunal yang kental dalam budaya Timur. Aspek budaya komunal pada satu sisi sangat mendukung jejaring dan keterhubungan antar manusia, khususnya netizen, yang kemudian membentuk keterbukaan,&rdquo; ujarnya pada laman <em>Femina.co.id</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Selain itu, psikolog Tara de Thouars dari Sanatorium Dharmawangsa mengatakan jika orang pada rentang usia 18-35 tahun memiliki tiga kebutuhan penting, yaitu jati diri, karier, dan <em>support system</em>. &ldquo;Ketiganya saling terkait untuk membangun makna pada diri seseorang dan merupakan unsur yang saling menguatkan manusia pada usia produktif,&rdquo; ungkapnya. Tara juga turut menyampaikan bahwa YOLO merupakan bagian dari identitas yang membuat generasi milenial merasa menjadi bagian penting dari generasinya.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip pada halaman <em>Tirto.id</em>, Prita Ghozie sebagai CEO Zap Finance, perusahaan perencanaan finansial, mengungkapkan bahwa banyak generasi milenial Indonesia terkena dampak slogan YOLO yang memengaruhi sisi ekonomi dan psikologisnya. &ldquo;Kecenderungan yang muncul adalah mereka akan menjadi konsumtif dan mengutamakan pengeluaran untuk kegiatan yang sifatnya pengalaman. Contohnya adalah&nbsp;<em>travelling</em>,&nbsp;<em>experienced buying</em>, dan lain-lain,&rdquo; ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify">Seperti yang diwartakan dalam <em>Kompas.com</em>, kondisi pandemi saat ini membuat masyarakat menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, sehingga mendorong timbulnya perilaku konsumtif.&nbsp; &ldquo;Kalau dulu <em>Work From Office</em>, kesempatan melihat etalase <em>online market</em> relatif terbatas. Akan tetapi,&nbsp;saat ini terjadi perkembangan yang pesat pada aktivitas digital ekonomi yang memanfaatkan berbagai platform <em>online market</em>,&rdquo; tutur Wisnu Wibowo selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.</p>
<p style="text-align:justify">Oleh sebab itu dibutuhkan penanggulangan dampak dari kesalahan penafsiran gaya hidup tersebut. &ldquo;Poin penting untuk mengatasi finansial sindrom YOLO yaitu dengan membenarkan <em>mindset</em> kita terlebih dahulu dan mencoba berpikir untuk ke depannya, seperti menyiapkan investasi, menabung, dan mengubah gaya hidup, sehingga literasinya itu ditingkatkan lagi,&rdquo; ungkap Syafirah Alhadar selaku Independent Financial Adviser of Jouska Indonesia dalam akun Youtube CNBC Indonesia. Ia juga menyarankan apabila seseorang penganut sindrom YOLO sudah terjerumus dengan hutang finansial, sebaiknya ia menyelesaikan hutangnya terlebih dahulu untuk memperbaiki keadaan finansialnya.</p>
<p><strong>Penulis: Mutiah Kusuma Sari<br />
Editor: Silvia Andini</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/">YOLO, Gaya Hidup yang Bisa Mengancam Kesehatan Finansial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
