lpmindustri.com – Mangkraknya proses pembuatan seragam maupun pemesanan almamater gelombang kedua menimbulkan keresahan mahasiswa angkatan 2019 selama dua tahun belakangan. Adanya ketidak transparan Oleh HMR selaku pihak penyelenggara memicu datangnya berbagai prasangka.
Dua tahun sudah pembuatan seragam serta almamater mahasiswa angkatan 2019 Politeknik STMI Jakarta tidak kunjung selesai. Salah satu mahasiswa program studi (prodi) Sistem Informasi Industri Otomotif (SIIO) 2019 menyampaikan bahwa transaksi pembelian telah dilakukannya pada bulan Desember 2019. “Dua tahun lalu sudah lunas membayar senilai Rp300.000 untuk pembelian almamater serta seragam ujian,” ungkapnya saat diwawancara oleh LPM Industria pada Minggu (21/11).
Ada tiga gelombang yang dibuka untuk pemesanan seragam dan almamater tersebut. Salah satu mahasiswa dari prodi Teknik Industri Otomotif (TIO) 2019 menyebutkan bahwa dirinya mengikuti gelombang kedua pada tahun 2019. “Saat itu, saya mengikuti gelombang kedua karena saya tidak mendapatkan informasi ketika gelombang pertama dibuka,” kata mahasiswa TIO tersebut kepada LPM Industria pada Minggu (7/11/2021).
Adapun selisih waktu antara pemesanan gelombang pertama dan kedua tidak cukup jauh, hal ini tertulis pada broadcast (baca: siaran) grup WhatsApp yang dibagikan oleh salah satu mahasiswa angkatan 2019 kepada LPM Industria. Tertulis bahwa pemesanan pada gelombang pertama berlangsung dari tanggal 28 November sampai 02 Desember 2019, sementara untuk pemesanan kedua berlangsung pada tanggal 03 Desember sampai 06 Desember 2019.
Oleh karena itu, salah seorang mahasiswi prodi Teknik Kimia Polimer (TKP) 2019 merasa heran dengan perbedaan waktu pemesanan seragam dan almamater antara gelombang pertama dan gelombang kedua yang tidak terlalu jauh. “Jarak waktunya tidak berbeda jauh dengan gelombang pertama, tapi kenapa gelombang kedua yang justru bermasalah hingga berjalan waktu selama dua tahun?” ujarnya pada Sabtu (20/11).
Berbicara terkait almamater dan seragam yang tak kunjung didapatkan, beberapa mahasiswa mengaku bingung ketika ditanya oleh orang tuanya. Pasalnya, pemesanan sudah lama dilakukan dan harganya pun terbilang cukup mahal. Salah satunya adalah mahasiswi Administrasi Bisnis Otomotif (ABO) angkatan 2019. “Katanya minta uang Rp300.000 untuk seragam, kenapa barangnya tidak ada sampai sekarang?” ucapnya terkait orang tuanya yang sering bertanya terkait hal tersebut.
Selain itu, mahasiswa TIO 2019 yang kami wawancarai mengaku cukup kesal lantaran informasi yang didapatkan selama sekitar dua tahun ini kurang memuaskan. “Pihak penyelenggara mengatakan kita harus sabar dan menenangkan teman-teman seangkatan. Kekesalan saya dan teman seangkatan bertambah ketika melihat angkatan baru lebih dulu mendapatkan almamater,” keluhnya.
Hal serupa disampaikan oleh mahasiswi ABO 2019 yang mengeluhkan sikap pihak penyelenggara yang tidak terbuka. “Jadinya harus follow up terus, kan capek ya?” ungkapnya. Menurutnya, hal ini justru menimbulkan banyak prasangka buruk. “Jadi kemarin banyak teman seangkatan yang menyindir di grup angkatan, setelah itu baru diadakan pertemuan melalui Google Meet,” jelasnya.
Melihat hal tersebut, mahasiswi TKP 2019 beberapa kali telah menanyakan terkait almamater dan seragam baik kepada pihak penyelenggara maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Namun, ia hanya mendapatkan jawaban bahwa sedang terdapat masalah. “Dibilang cuma ada masalah saja dan disuruh bersikap tenang karena pihak penyelenggara masih menjadi mahasiswa di kampus,” ungkap mahasiswi tersebut. Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pihak HMR selaku pihak penyelenggara tampak saling menutupi masalah, termasuk dari pihak yang dirugikan. “Benar-benar serentak keempat jurusan tidak mengetahui info apa pun terkait hal ini,” jelasnya.
Tiga pekan yang lalu LPM Industria telah menyebarkan kuesioner terkait permasalahan seragam ujian serta almamater gelombang kedua pada mahasiswa angkatan 2019 di Politeknik STMI Jakarta. Hingga Sabtu (6/11), sebanyak 51 dari 54 responden menyatakan belum menerima almamater sekaligus seragam ujian yang telah dibeli sejak tahun 2019. Adapun rinciannya sebagai berikut, 18 orang dari Program studi (Prodi) Administrasi Bisnis Otomotif (ABO), 7 orang dari Teknik Industri Otomotif (TIO), 21 orang dari Sistem Informasi Industri Otomotif (SIIO), dan 5 orang dari Teknik Kimia Polimer (TKP).
Permasalahan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap mahasiswa angkatan 2019, khususnya yang melakukan pemesanan gelombang kedua pada bulan Desember. Hal tersebut dicurahkan mahasiswa ABO 2019. “Apabila sampai nanti kita Praktik Kerja Industri belum juga dapat, itu akan menyulitkan karena almamater adalah sebagai identitas mahasiswa Politeknik STMI Jakarta,” tandasnya.
Kekhawatiran lainnya diungkapkan oleh mahasiswa TKP 2019 terkait kelulusan pihak penyelenggara di tengah kasus seragam dan almamater yang belum tuntas. “Saya pribadi takut kalau pihak penyelenggara lepas dari tanggung jawabnya. Meskipun tahu rumahnya, kita tidak ada yang tahu ke depannya bagaimana,” pungkasnya. Menurutnya, ini bukan perihal uang Rp300.000 miliknya, melainkan banyak mahasiswa yang membeli, sehingga pasti bernilai besar. Mahasiswa SIIO pun mengungkapkan kegelisahan yang sama. “Ketika mengetahui dia lulus sidang saja, bukannya senang malah sedih. Ya, semoga ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Menjawab seluruh pertanyaan hingga sindiran terkait seragam almamater yang belum juga selesai, pihak penyelenggara menggelar Google Meet pada tanggal 25 Oktober lalu. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh salah satu mahasiswi TKP 2019, pihak penyelenggara menyampaikan kalau pihaknya terkena musibah berupa penipuan. “Pihak penyelenggara dan oknum penipu telah melakukan perjanjian dengan tenggat waktu hingga bulan Desember. Namun, menurutnya jika sampai batas waktu yang telah ditentukan tidak ada kelanjutan akan dilakukan penyitaan barang dari oknum penipu,” ucapnya. Lebih lanjut terkait pembuatan almamater akan diambil alih oleh HMR selaku pihak penyelenggara untuk dilakukannya kembali pembuatan almamater.
Namun sangat disayangkan dalam pembuatan artikel ini, pihak penyelenggara tidak berkenan memberikan tanggapan terkait kondisi serta proses lebih lanjut dari seragam dan almamater yang telah dibeli oleh gelombang kedua mahasiswa angkatan 2019.
Penulis: Hanny Kurnia Putri
Editor: Ela Auliyana
