​lpmindustria – Beberapa waktu lalu, Teaching Factory Politeknik STMI Jakarta berhasil merilis Corona Finger untuk meminimalisasi penularan virus Covid–19 di lingkungan kampus. Namun dalam proses produksinya, ada beberapa kendala yang terjadi.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, Teaching Factory Politeknik STMI Jakarta telah merilis produk pertamanya, yaitu Corona Finger. Alat tersebut berguna untuk meminimalkan penyebaran virus Corona dengan cara menghindarkan kontak langsung dari fasilitas umum. “Itu hanya alat bantu agar tidak terjadi kontak langsung, misalnya untuk membuka pintu dan menekan tombol lift. Selama pandemi ini, orang bahkan segan untuk menekan tombol lift, bukan?” terang Muhammad Agus selaku Wakil Teaching Factory.
Berbeda dengan Corona Finger yang biasanya terbuat dari bahan akrilik, Teaching Factory Politeknik STMI Jakarta membuatnya dengan bahan alumunium dural. Selain itu, pada setiap produknya dibuat nama pemilikinya, sehingga bersifat eksklusif dan tidak akan tertukar. “Bahan ini dipilih karena bersifat anti karat dan banyak dipakai dalam bidang aviasi (baca: ilmu tentang penerbangan), jadi bahannya bagus,” jelas Nurbiyanto selaku tim bagian Produksi.
Dalam artikel yang diterbitkan LPM Industria sebelumnya, Nurbiyanto menyebutkan bahwa proses produksi produk ini tidak akan memakan waktu banyak, yaitu sekitar satu minggu saja. Akan tetapi, produksi tersebut mengalami kendala terkait kebijakan penjadwalan masuk produksi yang berbeda. “Sebenarnya sudah selesai kurang lebih dua bulan yang lalu, namun proses produksinya tidak lancar karena terkendala jadwal masuk kantor yang tidak memperbolehkan seratus persen kuota ada di kampus,” ucapnya.
Selain itu, Nurbiyanto menyebutkan bahwa desain pertama produk ini sempat mengalami kegagalan saat diuji coba karena ukurannya yang terlalu kecil dan tipis. “Awalnya, kita merencanakam produk ini besarnya seperti ukuran gantungan kunci. Namun ternyata, ukuran tersebut mengalami kesulitan saat proses permesinan dan juga tidak dapat digunakan pada benda berukuran besar seperti gagang pintu,” jelasnya.
Selanjutnya, ia juga mengatakan bahwa alat bantu ini sudah diluncurkan sebanyak tujuh puluh buah. “Kurang lebih tujuh puluh buah sudah di produksi. Produk tersebut memang hanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari untuk diproduksi, tetapi waktu set-up awal memang cukup lama,” tutur Nurbiyanto.
Produk Corona Finger yang telah diproduksi ini baru dibagikan untuk kalangan dosen saja karena kurangnya bahan baku. “Rencananya semua akan dibuatkan, tetapi baru dosen saja yang kebagian. Hal ini dikarenakan materialnya sudah habis dan belum beli lagi,” ujar Agus.
Nurbiyanto mengatakan tidak mengetahui akankah alat ini akan menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) di lingkungan kampus selama pandemi. Namun, Agus menyatakan bahwa SOP untuk alat tersebut tidak perlu, karena pada dasarnya alat tersebut merupakan alat bantu. “Seharusnya tidak usah dijadikan SOP emang begitu jalannya. Tak perlu, karena itu hanya alat bantu saja,” ucap Agus.
Hingga saat ini, produk corona finger tersebut belum ada rencana untuk dikomersilkan, tetapi tidak menutup kemungkinan rencana tersebut terjadi kedepannya. “Sekarang belum, akan tetapi kedepannya barangkali dikomersialkan. Produk ini untuk bersama, kenapa harus dikomersilkan?” kata Agus. Selain itu, Agus menyampaikan rencana produksi Teaching Factory lainnya adalah plakat untuk wisuda. “Kita akan rapat berkaitan dengan kegiatan wisuda. Kita akan buat plakat wisuda tersebut,” jelasnya.
Selanjutnya, Agus pun sangat berharap agar mahasiswa dapat mengaktifkan kembali Teaching Factory yang sudah ada dan menghasilkan produk-produk lainnya. “Harapan saya, mahasiswa dapat menyalurkan ide terkait produk yang akan dibuat serta dapat dijual oleh mahasiswa,” harapnya.
Ihsan Ali
