Aktivis Bajingan

lpmindustria.com, – “Semalam pulang jam berapa kamu nak?” tanya ibuku sambil menyiapkan sarapan. Masakan ibu adalah masakan paling enak, terutama ayam rica-rica buatannya.

“Jam dua belas malam Bu, maaf terlalu malam. Ada diskusi yang pernah aku ceritakan waktu itu Bu,” jawabku santai sambil mengambil segelas air putih.

“Mengenai uang almamater dan seragam yang dibawa lari itu?” tanya ibuku.

“Benar Bu."

Aku pernah menceritakannya kepada ibu. Kasus yang menurutku menyayat hati. Sebab banyak di antara mahasiswa angkatan 2017 yang dibodohi oleh ucapannya. Oleh ucapan manis mantan pengganti ketua BEM tersebut. Ya, dia lah Hanafi Miftahul Rahman. 

Menurutku, hati Hanafi ini begitu kotor. Ia bermain-main dalam emosi seorang manusia. Merasa tertipu, bersalah, dan menjadi korban. Ia merasa seperti halnya mahasiswa Angkatan 2017 yang uang almetnya dibawa lari oleh pihak ketiga. Tapi, bagiku tidak. Bagaimana mungkin ia merasa bersalah? Sedangkan tidak ada uang pengganti yang ia berikan kepada para mahasiswa tersebut. 

Ada 200 orang yang membeli almet dan seragam melaluinya. Per satu paket almet dan seragam tersebut dihargai 350 ribu rupiah. Sedangkan, uang-uang itu bukan dikolektifkan dan diserahkan ke kampus. tetapi untuk dirinya sendiri. Tentu ia mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut. Aku telah mengeceknya di beberapa konveksi sekitar kampus. Harga satu almet saja hanya 120 ribu rupiah dan harga satu seragam hanya 100 ribu rupiah. Jika total biaya yang dipungut ke mahasiswa itu 350 ribu, maka ia memiliki keuntungan sebesar 130 ribu rupiah. Bayangkan dengan jumlah mahasiswa yang membeli itu sebanyak 200 orang. Keuntungan yang Hanafi dapat bisa mencapai 26 juta. Lalu dia berani merasa bersalah dan menjadi korban? Dasar bajingan. Dia inilah benih-benih koruptor negeri ini. Tak habis pikir banyak mahasiswa Angkatan 2017 yang membelanya.

Mahasiswa 2017 yang mengaku sebagai ketua angkatan per masing-masing jurusan ini juga sama bodohnya. Kenapa mereka bisa begitu percaya? Sedangkan, sampai tahun 2020 masih tidak ada kejelasan sedikitpun bahkan mereka akan lulus. Dasar Bodoh! Hanafi hanya mengatakan bahwa pihak ketiga telah berjanji akan mengembalikan uang tersebut. Tapi sampai kapan? Bukankah ini sudah terlalu lama? Mengapa mereka dininabobokan kebodohan? Sungguh di luar nalar.

“Kamu harus tetap berlaku adil nak. Baik dalam pikiran dan perbuatan. Meski orang yang namanya Hanafi itu mengambil uang mahasiswa, kau tidak boleh menyerangnya secara personal,” jelas ibuku menasehati.

Inilah sosok ibuku. Beliau adalah sosok yang selalu menasihatiku dan menjadikanku sebagai orang yang beradab.

“Iya ibu. Akupun selalu mengingat perkataanmu, Bu. Mungkin kita akan diserang karena nilai kebenaran yang dibawa. Tapi mereka selalu lupa bahwa tidak ada sedikitpun kepentingan yang kita bawa. Kita hanya memperjuangkan hak orang-orang yang ditindas,”

Kr / Roswafa Kusuma

Editor : ST. Nina Ismayanti

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *