Efisiensi Anggaran Perguruan Tinggi : Tantangan dan Adaptasi di Politeknik STMI Jakarta

lpmindustria.com – Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah mulai diterapkan di perguruan tinggi, termasuk Politeknik STMI Jakarta dengan berbagai penyesuaian tanpa mengurangi kualitas pembelajaran dan pelayanan akademik.

Penerapan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah kini terasa di lingkungan perguruan tinggi, termasuk di Politeknik STMI Jakarta. Efisiensi ini merupakan instruksi langsung Presiden yang menekankan pentingnya penggunaan sumber daya secara lebih cermat. Pihak kampus menegaskan bahwa penghematan bukan berarti memangkas fungsi utama atau kualitas pembelajaran, “Kebijakan efisiensi ini intinya agar kita belajar memperbaiki kebiasaan, kalau ada ruangan atau fasilitas yang sedang tidak digunakan, dimatikan. Bukan mengurangi pelayanan, tapi memastikan tidak ada pemborosan,” ujar Bapak Amrin Rapi selaku Direktur STMI. 

Perubahan yang paling terlihat adalah jam belajar yang kini berakhir di pukul 16.00 WIB. Menurutnya, perubahan jadwal ini sejatinya cukup menguntungkan bagi mahasiswa. Jika sebelumnya banyak dari mereka pulang hingga malam atau bahkan sampai waktu isya, kini bisa kembali lebih awal. Perkuliahan di hari sabtu pun jarang dan hanya dilakukan jika benar – benar mendesak. 

Adaptasi lain yang dilakukan kampus terkait efisiensi adalah penataan ulang ruangan dan fasilitas. Ruangan yang sebelumnya kurang termanfaatkan, kini lebih dioptimalkan fungsinya, seperti pada ruangan dosen kini dikelompokkan berdasarkan program studi agar mahasiswa mudah mencari dosen pembimbing, “Kami mencoba menata ulang tata kelola agar mahasiswa mudah mencari dosen. Tugas akhir atau sidang sudah bisa langsung dilakukan di ruangan yang ada, sehingga tidak perlu bolak-balik lantai,” jelasnya.

Selain itu, sistem absensi kini dapat dijangkau lebih mudah dan fasilitas ujian tersedia di setiap program studi. Pada layanan internet, bandwidth yang sebelumnya mencapai 800 – 900 Mbps kini dikurangi menjadi sekitar 600 Mbps sebagai bagian dari efisiensi. Meskipun kadang menimbulkan kendala koneksi pada waktu tertentu, langkah ini dinilai sudah mempertimbangkan kebutuhan pengguna secara proporsional.

Sementara itu, menurut Sabina sebagai mahasiswa Administrasi Otomotif, dampak terhadap fasilitas cukup terasa di kalangan mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa ketika selesai kelas, AC akan langsung dimatikan dan ruangan dikunci sehingga tidak memiliki tempat berdiskusi atau menyelesaikan tugas kelompok, bahkan untuk keperluan organisasi juga dibatasi hingga jam 12.00 WIB. Hal tersebut tentunya cukup membatasi pengembangan kemampuan komunikasi dan kerja sama mahasiswa. Hal lainnya yang di khawatirkan sebagai mahasiswa adalah potensi kenaikan UKT sebagai dampak efisiensi, “Kekhawatiran pasti ada, tapi selama kampus masih mengacu pada PP No. 54 Tahun 2021, UKT tetap Rp4.500.000 dan belum berubah,” ujar Sabina.

Efisiensi anggaran merupakan kebijakan langsung dari Presiden yang diturunkan hingga ke perguruan tinggi seperti STMI. Dalam hal ini, pihak kampus tetap berusaha menyikapinya dengan bijak, “Efisiensi ini program dari Presiden, turun ke menteri, Eselon I, Eselon II, lalu ke STMI. Jadi kita hanya menyikapinya. Untungnya, mahasiswa STMI cukup banyak, sehingga anggaran operasional sehari-hari masih bisa tertutupi,” ujar Pak Ahlan sebagai Pembantu Direktur (Pudir) II STMI.

Penulis : Ilham Julian H.
Editor : Sheillomitha Salsa Nabila Putri J.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *