lpmindustria.com – Pelatihan LeMMI 4.0 menjadi jembatan nyata bagi mahasiswa Politeknik STMI Jakarta untuk mengasah keterampilan digital manufaktur, sekaligus menghubungkan pembelajaran di ruang kelas dengan kebutuhan dan tantangan yang relevan pada dunia industri modern.
Pelatihan Lean Manufacturing Making Indonesia (LeMMI) 4.0 merupakan bentuk kolaborasi antara Kementerian Perindustrian Jepang Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) dan lembaga yang ditunjuk yaitu The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), dengan Kementerian Perindustrian Indonesia yang diadakan setiap tahunnya. Program ini hadir sebagai dukungan terhadap inisiatif Making Indonesia 4.0 dengan fokus pada peningkatan efisiensi produksi serta penguatan kompetensi mahasiswa agar siap menghadapi dunia industri modern. Menurut Handoko Purwojatmiko, selaku salah satu pengajar pelatihan, mengungkapkan bahwa pelatihan tahun ini diselenggarakan di dua lokasi, yaitu PIDI dan Politeknik STMI Jakarta. Pelatihan untuk mahasiswa berlangsung selama sembilan hari dan berisi rangkaian materi serta praktik yang dirancang agar peserta dapat merasakan langsung suasana industri sebenarnya.
Tujuan utama pelatihan LeMMI 4.0 adalah memberikan pemahaman praktis kepada mahasiswa mengenai dunia industri serta mempersiapkan mereka dalam menghadapi program prakerin. Mahasiswa yang mengikuti pelatihan ini akan mendapatkan sertifikat bertaraf Internasional sebagai nilai tambah ketika mengikuti seleksi magang di perusahaan besar. Handoko menekankan bahwa pelatihan ini juga membentuk mahasiswa yang siap kerja dan memiliki etos kerja tinggi, “Dari pelatihan LeMMI 4.0 membuat mahasiswa mampu untuk mengasah kemampuan berpikir kritis di waktu dan masa yang singkat, selain itu juga melatih public speaking karena setelah mengerjakan latihan atau soal, kita dituntut untuk presentasi didepan pemateri ataupun dosen dan pengerjaan di bawah tekanan waktu,” ujar Jubair menyampaikan pendapatnya sebagai salah satu mahasiswa pelatihan.
Materi yang diajarkan meliputi Lean Monozukuri, Lean Manufacturing, Lean Maintenance, IoT, dan Digital Lean Manufacturing. Dari sisi materi, pelatihan LeMMI 4.0 tidak mengalami banyak perubahan dari pelatihan LeMMI 4.0 pada tahun sebelumnya. Perbedaan tahun ini terletak pada tidak adanya perwakilan Jepang sebagai observer. Oleh karena itu, sebagai gantinya, Harsono dari IAIPD hadir berperan mengawasi jalannya pelatihan. Selain itu, peserta tahun ini tidak hanya dari program studi Teknik Industri Otomotif (TIO) Dan Teknik Rekayasa Otomotif (TRO). Namun, pelatihan tahun ini juga diikuti oleh mahasiswa dari program studi Sistem Informasi Industri Otomotif (SIIO), Administrasi Bisnis Otomotif (ABO), dan Teknik Kimia Polimer (TKP), sehingga semua program studi dapat merasakan pelatihan LeMMI 4.0, serta dapat menerapkan ilmu yang didapat pada dunia industri kedepannya.
Pihak kampus berharap pelatihan ini dapat menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri sebelum Prakerin dan menjadi tenaga kerja yang siap di dunia industri. Mahasiswa diharapkan mampu menguasai teori dan praktik industri serta membawa nilai-nilai budaya kerja Jepang ke dalam industri, “Mahasiswa yang sudah mengikuti pelatihan LeMMI 4.0 ini punya nilai jual yang bagus seperti sertifikat bertaraf Internasional, knowledge, siap kerja dan juga lebih memahami budaya kerja Jepang seperti just in time.” Selain itu, Jubair merasa bahwa pelatihan ini menjadi sarana pematangan diri dan pembentukan karakter sebelum menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
Penulis : Ilham Julian H.
Editor : Lifa Ansyaresti S.

