lpmindustria.com – “Bukan hanya sebuah game, tapi lebih sebagai teman baik,” itu yang Gemscool tuturkan selaku publisher game Lost Saga di Indonesia pada pembaharuan berita yang menunjukan akhir perjalanan game Lost Saga dibawah naungannya.
Suara tembakan di Burning Hall, lagu Dear God dari A7X, hingga suara teriakan saat jaringan mulai melemah mengingatkan kembali dengan anak era 2000-an yang sedang bermain Lost Saga. Tepat pada tanggal 31 Maret 2011, background music Wild West dan Lobby Lost Saga ikut meramaikan kancah kebisingan speaker warnet kala itu saat bermain game casual fighting asal Korea Selatan. Game ini masuk ke Indonesia dibawah publisher game Gemscool.
Game ini memiliki cukup banyak keunikan di dalamnya, yaitu bergenre casual fighting dan gameplay-nya serta pemain dapat menggunakan lebih dari satu hero dalam setiap pertandingan. Lalu ketika lelah bertarung, pemain dapat mengunjungi plaza untuk berinteraksi dan mencoba hero pemain lain atau sekedar fishing dan relic untuk Away From Keyboard (AFK). Hal ini lah yang mungkin menjadikannya berbeda dan memiliki banyak pemain yang tidak kalah dengan game publisher Gemscool lainnya pada kala itu seperti Point Blank.
Merebaknya sebuah game tentu tidak lepas dari antusiasme para pemain yang terundang dari rasa penasarannya, hal ini pun saya rasakan kala itu. Antusiasme ini juga terlihat pada kompetisi kecil yang berlangsung di warnet atau antar warnet di awal tahun Lost Saga hadir di Indonesia. Sistem rank ladder yang memperebutkan peringkat 100 besar dan guild rank juga mengundang antusiasme pemain dalam merebutkan peringkat tersebut. Mungkin nama-nama seperti Crosslife, Crystalesia, PammanGobber, Foxee, Faylyne, KyuRazz dan lainnya pernah menjadi perbincangan ketika membahas siapa saja dedengkot ladder rank Lost Saga ini. Antusiasme ini juga yang membuat Lost Saga memperoleh beberapa penghargaan, diantaranya; Best Online Game 2011, Best Casual Game di GameStation Award tahun 2011, Best MMO Casual 2013 di Kotak Games Award tahun 2013, serta Best MMO Casual 2013 di Kotak Games Award tahun 2013.
Antusiasme komunitas, Kompetisi, Konten dan environment game lainnya, sudah semestinya menjadi perhatian publisher game agar dapat terus terawat dan bertahan lama. Melihat Lost Saga yang sudah menginjak tahun ke-9 pada 2020 ini, menunjukan komunitas game Lost Saga di Indonesia sudah cukup loyal. Bagaimana tidak? Persaingan game mobile terus meningkat setiap tahunnya, dimana menurut artikel 2020 Global Game Market dari newzoo.com memperlihatkan tingkat pertumbuhan pasar mobile game dari tahun ke tahunnya sebesar 13,3% dan pada tahun 2020 mobile game memiliki segmen sebesar 48% dibanding game PC sebesar 23% dan game console sebesar 28%. Hal ini sudah cukup menjadi bukti bahwa komunitas game Lost Saga masih tetap setia untuk tetap bermain. Tinggal bagaimana publisher menjaga ekosistemnya.
Malangnya, bukannya menjaga ekosistem game, menurut saya yang terjadi justu sebaliknya. Insiden pengusiran penonton ketika Grand Final Lost Saga National Championship 2014 (LSNC 2014) berlangsung menuai perhatian serta menjadi guyonan komunitas karena dinilai tidak menjaga ekosistem. Dari klarifikasi Gemscool pada laman www.masrudi.net, pensterilan arena ini terpaksa dilakukan karena penonton yang membeludak melebihi kapasitas gedung Gemscool Arena akan membahayakan penonton lainnya. Mengutamakan keselamatan penonton memang tidak salah, namun tindakan pengusiran yang dilakukan ini menurut saya kurang tepat, karena terlalu arogan, melukai hati penonton, serta akan memberikan citra buruk terhadap publisher. Dengan demikian sudah semestinya segala sesuatunya dipersiapkan dengan matang, karena animo pemain Lost Saga pada kala itu sangat tinggi.
Selain permasalahan diatas, penggunaan program secara ilegal/ cheat dan sering ditemukannya bug di dalam game ini pun menjadi permasalahan yang kerap terjadi. Permasalahan-permasalahan ini tentunya merusak environment dari game itu sendiri yang lambat laun akan ditinggalkan para pemainnya. Semakin bertambahnya umur game Lost Saga di Indonesia, saya menilai kualitas pelayanan dari publisher pun malah semakin menurun. Ditambah dengan berhentinya kompetisi LNSC pada tahun 2016, call centre yang lambat merespon keluhan, hingga mencuatnya video berjudul “lost saga bug oak barrel (BUG REPORT)” yang diunggah oleh kanal Youtube razor bold. Hal ini membuat Gemscoll mengutarakan pendapatnya, namun malah terkesan hanya sebagai formalitas saja.
Benar saja, seiring dengan penurunan kualitas pelayanan game Lost Saga, melalui website resmi Lost Saga lostsaga.gemscool.com dengan judul “Farewell, My Friend” menyatakan bahwa layanan Lost Saga Indonesia akan ditutup pada tanggal 30 Juni 2020. Kabar ini pun dilihat sebanyak 128.925 kali di laman web Lost Saga dan dibagikan sebanyak 29 ribu kali di platform Facebook, serta beberapa media berbasis game pun turut menyebarkan kabar ini, hal ini pun sempat menjadi trending pada platform Twitter. Pamitnya Lost Saga dibawah naungan Gemscool ini dikarenakan masa kontrak yang telah habis dan tidak diperpanjang kembali.
Usai beberapa hari pengumuman tersebut disebarluaskan, kabar kembalinya Lost Saga dengan nama baru “Lost Saga Remastered” dan dibawahi oleh publisher baru yaitu Gravity Game Link pun dikabarkan melalui laman Facebook resminya, dan situs resminya lostsaga.gnjoy.id. Pada laman kincir.com, dalam versi Remastered-nya ini Lost Saga akan mendapatkan peningkatan grafis yang lebih mumpuni, penyesuaian user interface, mode pertandingan baru, serta sistem baru lainnya. Namun sampai saat ini belum ada kepastian kapan tanggal rilis game ini. Usut punya usut, dari temuan di Laman www.olx.co.id, Lost Saga Remastered masih mencari staf untuk posisi Game Master.
Walaupun kembali lagi dengan segala pembaruannya, semoga di bawah naungan publisher baru ini komunitas Lost Saga dan environment game-nya bisa dirawat dengan baik. Setidaknya segala keluh kesah yang disampaikan oleh player bisa didengar dan ditanggapi dengan serius, agar game Lost Saga ini tidak benar-benar menjadi arti yang sesungguhnya. Yakni, Kisah Yang Hilang.
Hawari Rahmadito
