<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>generasi-milenial Arsip - LPM Industria</title>
	<atom:link href="https://lpmindustria.com/tag/generasi-milenial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lpmindustria.com/tag/generasi-milenial/</link>
	<description>Intelek dan Berbudaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jan 2025 07:16:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://lpmindustria.com/lpmindustria/wp-content/uploads/2025/03/logo_industria-150x150.png</url>
	<title>generasi-milenial Arsip - LPM Industria</title>
	<link>https://lpmindustria.com/tag/generasi-milenial/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Literasi Keuangan Menjadi Hal Penting bagi Generasi Muda</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/literasi-keuangan-menjadi-hal-penting-bagi-generasi-muda/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/literasi-keuangan-menjadi-hal-penting-bagi-generasi-muda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Nov 2024 22:35:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-z]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[ojk]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Literasi keuangan menjadi kunci bagi masa depan finansial generasi muda. Pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang memungkinkan generasi muda membuat keputusan investasi yang</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/literasi-keuangan-menjadi-hal-penting-bagi-generasi-muda/">Literasi Keuangan Menjadi Hal Penting bagi Generasi Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Literasi keuangan menjadi kunci bagi masa depan finansial generasi muda. Pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang memungkinkan generasi muda membuat keputusan investasi yang bijak dan meraih tujuan keuangan mereka.</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Literasi keuangan adalah pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan finansial yang cerdas. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan adanya tren peningkatan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun, dari 21,84% pada tahun 2013 menjadi 49,68% pada tahun 2022. Namun, angka ini mengindikasikan bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan edukasi keuangan yang lebih komprehensif.</span></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Michellina L Triwardhany, Presiden Direktur Prudential Indonesia, menegaskan bahwa kemampuan mengelola keuangan adalah keterampilan yang penting dimiliki oleh setiap individu, tanpa terkecuali. Ia menekankan bahwa pengelolaan keuangan yang baik adalah kunci untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. </span></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Kurangnya pemahaman akan pengelolaan keuangan yang baik pada sebagian Gen Z dan Millenial menandakan perlunya program edukasi yang intensif untuk meningkatkan literasi keuangan mereka, khususnya dalam hal mengatur pengeluaran, menabung, dan menyiapkan dana darurat. Kemampuan mengelola keuangan pribadi secara efektif, seperti membuat anggaran, menabung, dan berinvestasi, adalah salah satu wujud nyata dari literasi keuangan.</span></span></p>
</div>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Seorang <em>Influencer</em> sekaligus <em>Investment Storyteller</em>, Felicia Putri Tjiasaka dan pelaku gaya hidup minimalis, Olga Agata, merupakan dua sosok yang berpengaruh di kalangan generasi muda. Mereka menyoroti gaya hidup konsumtif sebagai penyebab utama kesulitan generasi Millenial dan Gen Z dalam mengelola keuangan. Menurut mereka, kemudahan akses internet dan<em> e-commerce</em> telah mendorong perilaku boros dan kesulitan menabung di kalangan generasi muda.</span></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Olga Agata menekankan pentingnya &quot;<em>Mindful</em> <em>Living</em>&quot; yang tidak hanya sebatas memiliki sedikit barang, namun lebih kepada kesadaran akan kebutuhan diri sendiri. Dengan memahami diri sendiri, kita bisa membuat keputusan finansial yang lebih bijaksana, sehingga setiap pengeluaran terasa lebih bermakna. Hal ini juga membantu kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, mengurangi rasa iri terhadap gaya hidup orang lain di media sosial.</span></span></p>
<p style="text-align:justify"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Literasi keuangan memungkinkan individu membuat keputusan finansial yang lebih cerdas,&nbsp;seperti memilih produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, serta merencanakan masa depan finansial dengan lebih baik. Selain itu, meningkatnya literasi keuangan dimasyarakat akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil, karena masyarakat akan lebih bijak dalam mengelola keuangan dan berani mengambil risiko yang terukur.</span></span></p>
<p style="text-align:justify"><strong><span style="font-size:14px"><span style="font-family:times new roman,times,serif">Penulis: Nisrina Auliya<br />
Editor: Lifa Ansyaresti</span></span></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/literasi-keuangan-menjadi-hal-penting-bagi-generasi-muda/">Literasi Keuangan Menjadi Hal Penting bagi Generasi Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/literasi-keuangan-menjadi-hal-penting-bagi-generasi-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gen Z: Generasi yang Muncul di Era Pesatnya Perkembangan Teknologi</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/gen-z-generasi-yang-muncul-di-era-pesatnya-perkembangan-teknologi/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/gen-z-generasi-yang-muncul-di-era-pesatnya-perkembangan-teknologi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2022 00:44:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-muda]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Terlahir dalam keadaan melek teknologi bukan berarti suatu generasi mudah memahami diri sendiri. Perlunya pengembangan dan pelatihan bagi generasi Z agar dapat memanfaatkan</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/gen-z-generasi-yang-muncul-di-era-pesatnya-perkembangan-teknologi/">Gen Z: Generasi yang Muncul di Era Pesatnya Perkembangan Teknologi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Terlahir dalam keadaan melek teknologi bukan berarti suatu generasi mudah memahami diri sendiri. Perlunya pengembangan dan pelatihan bagi generasi Z agar dapat memanfaatkan teknologi lebih maksimal.</em></p>
<p style="text-align:justify">Dikutip dari jurnal Teori Perbedaan Generasi, generasi merupakan konstruksi sosial yang terdiri dari sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis. Generasi pun dikelompokkan dalam premis sekelompok individu yang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian bersejarah, fenomena budaya yang terjadi dan dialami pada fase kehidupan mereka. Sehingga kejadian dan fenomena tersebut membentuk ingatan yang berdampak dalam kehidupan mereka sehingga membentuk individu, nilai, dan kepribadian yang mirip.</p>
<p style="text-align:justify">Seiring dengan kemajuan teknologi, mempengaruhi serta berdampak pada perkembangan generasi di dunia. Dikutip dari jurnal Pengaruh Media Pembelajaran terhadap Motivasi Belajar: Tinjauan berdasarkan Karakter Generasi Z, dalam literaturnya terdapat penyajian data yang menyatakan bahwasanya dari total penduduk di Indonesia saat ini terbagi menjadi 4 generasi yang terdiri dari generasi baby boomer 11,27%, generasi X 25,74%, generasi Y 33,75% dan generasi Z 29,23% dari total penduduk di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify">Pada perkembangan zaman saat ini, mulai bangkit generasi yang memasuki dunia angkatan kerja yang disebut generasi Z. Disadur dari buku Gen Z Insights: Perspective on Education, Gen Z adalah generasi <em>natives</em> digital yang lahir dan bertumbuh dengan cepat bersama dengan pesatnya perkembangan teknologi.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip dari jurnal Teori Perbedaan Generasi, generasi Z memiliki kesamaan dengan generasi sebelumnya, yaitu generasi Y. Namun, generasi Z terbiasa mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu, seperti menjalankan sosial media menggunakan ponsel, browsing menggunakan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset</p>
<p style="text-align:justify">Hasil penelitian dalam jurnal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik yang signifikan antar generasi Z dengan generasi lain dan salah satu faktor utama yang membedakan adalah penguasaan informasi dan teknologi. Bagi generasi Z, informasi dan teknologi adalah hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, karena mereka lahir dimana akses terhadap informasi, khususnya internet sudah menjadi budaya global, sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap nilai &ndash; nilai, pandangan dan tujuan hidup mereka.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip dari jurnal Welcoming Gen Z in Job World, pada hal pekerjaan dibutuhkan usaha bagi para pemimpin untuk menangani generasi Z yang terlahir dalam keadaan melek internet. Mereka cenderung membutuhkan pelatihan dan umpan balik atas apa yang mereka kerjakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa para pemimpin peduli untuk jangka panjang bagi kesuksesan generasi Z ini. Dengan memberikan kesempatan untuk tumbuh akan membuat mereka merasa lebih terlibat dan termotivasi untuk tetap berada di organisasi saat ini dalam periode waktu yang lebih lama.</p>
<p style="text-align:justify"><strong>Penulis : Ihsan Ali</strong></p>
<p style="text-align:justify"><strong>Editor : Az-zahra Nurwanda</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/gen-z-generasi-yang-muncul-di-era-pesatnya-perkembangan-teknologi/">Gen Z: Generasi yang Muncul di Era Pesatnya Perkembangan Teknologi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/gen-z-generasi-yang-muncul-di-era-pesatnya-perkembangan-teknologi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Investasi Saham di Kalangan Muda</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/investasi-saham-di-kalangan-muda/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/investasi-saham-di-kalangan-muda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2021 13:00:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-muda]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Saat ini, investasi begitu menarik untuk dipelajari dan ditekuni. Investasi saham menjadi salah satu tren di kalangan muda dengan segala risiko dan keuntungannya.</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/investasi-saham-di-kalangan-muda/">Investasi Saham di Kalangan Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Saat ini, investasi begitu menarik untuk dipelajari dan ditekuni. Investasi saham menjadi salah satu tren di kalangan muda dengan segala risiko dan keuntungannya.</em></p>
<p style="text-align:justify">Berdasarkan informasi umum pada situs web milik Bursa Efek Indonesia (BEI), saham didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak badan usaha dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal, para investor memiliki klaim atas pendapatan perusahaan dan aset perusahaan serta berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sedangkan menurut Fitra Aprillindo Sase selaku dosen program studi Administrasi Bisnis Otomotif (ABO) Politeknik STMI Jakarta, investasi saham adalah investasi dalam bentuk surat berharga kepemilikan perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify">Pada saat ini, tren investasi saham naik dengan cukup signifikan. BEI mencatat sepanjang tahun 2021 telah tercipta satu juta investor saham baru sehingga data per 31 Agustus 2021 telah tercapai 2.697.832 jumlah <em>single investor identification </em>(SID) atau nomor identitas tunggal investor saham, sehingga total investor pasar modal saat ini adalah 6.100.525 investor. Komposisi investor juga semakin bergerak ke usia muda karena sekitar 80% investor pasar modal adalah kaum milenial dan gen z yaitu kaum muda rentang usia 18-25 tahun.</p>
<p style="text-align:justify">Setiap orang memiliki motivasi dan tujuan yang ingin dicapai sebelum terjun ke dunia investasi saham, seperti Yogi Pangestu Saputra dan Ridhwan Faisal. Keduanya memiliki tujuan dan motivasi investasi saham yang hampir sama, yaitu membentuk aset untuk masa tua. &ldquo;Di tengah jalan, saya mulai sadar bahwa investasi itu bukan untuk mengejar suatu kekayaan secara instan melainkan dipanen di hari tua. Pola berpikir saya sudah berubah, tujuan investasi saya yaitu untuk kehidupan di masa tua nanti,&rdquo; jelas Faisal, seorang beusia 25 tahun yang sudah melakukan investasi saham selama delapan bulan, ketika wawancara di <em>Zoom Meeting. </em></p>
<p style="text-align:justify">Sedangkan Yogi mengatakan bahwa dirinya ingin memiliki <em>passive income</em> (baca: pendapatan pasif) untuk masa tua. &ldquo;Saya ingin mempunyai <em>passive income</em>, bagaimana membangun aset supaya uang tersebut bekerja untuk kita. Dengan <em>passive income </em>tersebut, saya ingin tujuan-tujuan saya dapat tercapai,&rdquo; jelas Yogi.</p>
<p style="text-align:justify">Yogi sendiri adalah salah satu mahasiswa berusia 19 tahun yang melakukan investasi saham. &ldquo;Saya sudah memulai investasi saham sekitar satu tahun yang lalu tepat bulan Oktober ini,&rdquo;&nbsp; kata Yogi. Ia menyebutkan alasannya memilih investasi saham lantaran lebih fleksibel karena dapat dilakukan di rumah melalui telepon genggam selama memiliki modal.</p>
<p style="text-align:justify">Melansir dari laman resmi BEI, dibalik kelebihan investasi saham juga terdapat risiko yang akan dihadapi para investor saham tersebut yaitu <em>capital loss</em> dan likuidasi. <em>Capital loss</em> merupakan suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli, sedangkan risiko likuidasi adalah ketika perusahaan dinyatakan bangkrut maka hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan).</p>
<p style="text-align:justify">Fitra menyebutkan bahwa likuidasi sendiri jarang terjadi. Namun bila terjadi, perusahaan yang memiliki aset dan pinjaman akan menggunakan pinjaman tersebut untuk membayar aset lainnya. Sedangkan jika memiliki sisa aset saat bangkrut, aset akan dibagikan sesuai kepemilikan saham. &ldquo;Tetapi kalau perusahaan sudah tidak memiliki aset, semua uang yang diinvestasikan akan hangus dan mengalami kerugian,&rdquo; papar Fitra.</p>
<p style="text-align:justify">Fitra menjelaskan dibalik fenomena investasi saham yang sedang tren di kalangan muda ada pesan penting yang perlu di ingat dan diterapkan agar tidak terjerumus ke jurang yang salah. Menurutnya, kalangan muda mudah mengikuti tren dan menggebu-gebu. &ldquo;Harapan saya bagi kalangan muda yang berkomitmen untuk berinvestasi saham, mereka mempelajari dasarnya terlebih dahulu agar tidak mudah mengikuti tren,&rdquo; sebutnya.</p>
<p style="text-align:justify">Selanjutnya, ia berpesan agar mereka dapat menjadi orang yang sabar. &ldquo;Dalam arti, ketika sudah menentukan target dari uang yang kita miliki, tentukan apa yang mau dicapai yaitu seberapa besar investasi yang kita inginkan,&rdquo; jelasnya. Kalau sudah mencapai target, ia menyarankan agar berhenti terlebih dahulu dan jangan mencoba untuk menambah lagi tanpa perencanaan yang baik. &ldquo;Kalau dua hal ini dikuasai pasti ilmu-ilmu lain bisa mengalir saja,&rdquo; tutur Pak Fitra.&nbsp;</p>
<p><strong>Penulis: Rahma Dhini Nur Arifa<br />
Editor: Ela Auliyana</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/investasi-saham-di-kalangan-muda/">Investasi Saham di Kalangan Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/investasi-saham-di-kalangan-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Darurat Kesehatan Mental Bagi Remaja Indonesia</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja-indonesia/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2021 14:13:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[dampak-negatif]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-muda]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan-mental]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Sebagian besar orang masih menganggap bahwa kesehatan mental adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Kasus-kasus gangguan mental remaja yang meningkat menjadi pertanda bahwa</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja-indonesia/">Darurat Kesehatan Mental Bagi Remaja Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>lpmindustria.com &#8211;&nbsp;</strong><em>Sebagian besar orang masih menganggap bahwa kesehatan mental adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Kasus-kasus gangguan mental remaja yang meningkat menjadi pertanda bahwa remaja Indonesia darurat akan kesehatan mental. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dilansir dari laman <em>pusdatin.kemkes.go.id</em>, seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental masih sering disepelekan oleh masyarakat kita dan banyak orang terkesan tutup mata akan hal tersebut sampai saat ini. Stigma masyarakat menganggap hal tersebut merupakan aib bahkan tak jarang dikaitkan dengan hal-hal supranatural, sehingga para penderita gangguan kesehatan mental sering kali dikucilkan oleh lingkungannya. Perlu diketahui bahwa gangguan kesehatan mental tak hanya dialami oleh kalangan dewasa saja, para remaja pun dapat merasakan gangguan terhadap kesehatan mentalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini kesehatan mental remaja Indonesia berada pada ambang yang amat mengkhawatirkan. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 terjadi peningkatan yang signifikan terhadap penderita gangguan jiwa dan depresi di Indonesia dengan rata-rata umur 15 tahun ke atas. Data ini semakin meningkat seiring dengan adanya peningkatan usia. Peningkatannya pun tak main-main, dari 1,7% pada tahun 2013 menjadi 6,2% pada tahun 2018. Mirisnya lagi, hanya 9% dari remaja tersebut yang mendapatkan pengobatan sebagaimana mestinya. Hal tersebut menggambarkan kurang sigapnya pemerintah serta minimnya uluran tangan masyarakat dalam menangani kasus kesehatan mental ini. Tak sampai di situ, peningkatan kasus bunuh diri serta penyalahgunaan obat-obatan pada kalangan remaja pun seperti tidak ingin kalah saing. Tercatat terjadi penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza) oleh para remaja mengalami peningkatan yang sebelumnya 24% berubah angka menjadi 28%.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilansir dari laman <em>promkes.kemkes.go.id</em>, kesehatan mental merupakan kondisi psikologis dan emosional seseorang yang berada pada keadaan tenang, baik, serta tenteram, sehingga orang tersebut dapat melakukan berbagai aktivitas sehari-hari secara produktif. Remaja yang memiliki kondisi mental yang sehat akan mampu melakukan segala kegiatan sehari-hari dengan positif, termasuk saat melakukan sosialisasi dengan orang lain. Sebaliknya, apabila seorang remaja mengalami gangguan mental, hal itu dapat menghadirkan berbagai masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat beberapa faktor pendorong terjadinya berbagai masalah kesehatan mental bagi para remaja. Menurut laman <em>promkes.kemkes.go.id</em>, faktor tersebut bisa bersumber dari internal, misalnya gen yang diwariskan keluarga, pernah trauma akan suatu kejadian, mental yang rapuh akan stres, dan penyakit kronis yang memicu depresi. Sedangkan menurut skripsi berjudul &ldquo;Analisis Kondisi Kesehatan Mental Sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Berisiko pada Remaja SMA di Surabaya&rdquo; dan laman pusdatin.kemkes.go.id, faktor lainnya bersumber dari lingkungan sekitar, seperti masalah perundungan, pengucilan oleh teman-teman sebaya, kesalahan memilih lingkaran pergaulan, hingga permasalahan dengan orang tua. Usia remaja sangat rentan terhadap masalah, sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan kesehatan mental pada remaja. Tidak hanya mengakibatkan luka fisik, tetapi masalah tersebut dapat turut serta dalam mengganggu kesehatan mentalnya dan berdampak pada perilaku para remaja tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu perlu dilakukan upaya penanganan secara cepat, baik dari pemerintah maupun dari diri remaja itu sendiri. Berdasarkan keterangan dari laman <em>pusdatin.kemkes.go.id</em>, saat ini pemerintah sudah menggerakkan upaya penanganan berupa kegiatan program pencegahan dan pengendalian kesehatan mental. Pemerintah melakukan pengoptimalan peran Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dalam upaya penanganan kesehatan mental.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu dari laman <em>promkes.kemkes.go.id</em> disebutkan bahwa remaja harus pandai dalam melakukan kontrol terhadap dirinya, seperti belajar untuk lebih bisa mengendalikan diri, selalu berpandangan positif terhadap masalah, bercerita jika ada masalah, melibatkan diri dalam kegiatan sosial dan selain itu juga melakukan penyaringan dalam pertemanan sehingga tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik, menghindari lingkungan pertemanan yang tidak baik, dan sebagainya. Namun, apabila diri sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda adanya indikasi gangguan mental sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter yang ahli dibidangnya dan tidak disarankan untuk mendiagnosis diri sendiri tanpa ada bantuan seorang dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam penanganannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penulis: Putri Yolanda<br />
Editor: Ela Auliyana</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja-indonesia/">Darurat Kesehatan Mental Bagi Remaja Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buntut Gila Kerja Para Pekerja Muda</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2021 18:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[dampak-negatif]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-muda]]></category>
		<category><![CDATA[hustle-culture]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211; Pecandu kerja yang mementingkan pekerjaan dibanding hal penting lain sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa orang. Fenomenanya terus berkembang ke generasi berikutnya</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/">Buntut Gila Kerja Para Pekerja Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com &#8211; </strong><em>Pecandu kerja yang mementingkan pekerjaan dibanding hal penting lain sudah menjadi gaya hidup bagi beberapa orang. Fenomenanya terus berkembang ke generasi berikutnya hingga menjadi budaya kurang menyehatkan.</em></p>
<p style="text-align:justify"><em>Hustle culture</em> atau yang dapat diartikan sebagai budaya gila kerja merupakan terminologi baru di dunia profesional dan sedang berkembang belakangan ini. Hal itu diungkapkan oleh Gita Savitri dalam video di kanal Youtube-nya. &rdquo;<em>Hustle culture</em> adalah suatu gaya hidup dimana seseorang itu harus sibuk dan kerja terus bagaimana, dimana, dan kapan pun. &nbsp;Baik akhir pekan maupun hari libur, pokoknya harus bekerja keras setiap hari,&rdquo; jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify">Ia menambahkan bahwa semenjak bisnis membangun perusahaan rintisan menjadi tren di kalangan anak muda, melakukan gila kerja dianggap sebagai suatu hal keharusan. &rdquo;Fenomena ini <em>gue</em> perhatikan semakin terlihat sejak zaman <em>start up</em>, pokoknya zaman Silicon Valley begitu lah. Ketika kewirausahaan, terutama di kalangan anak muda mulai naik. Orang-orang jadi terobsesi ingin seperti Steve Jobs dan Mark Zuckerberg,&rdquo; ungkap Gita dalam video berjudul &ldquo;Everything Wrong with Hustle Culture, Beropini Episode 56&rdquo;.</p>
<p style="text-align:justify">Menurutnya, beberapa figur terkenal seperti Elon Musk yang menjadi seorang pengusaha dan<em> founder</em> (baca: pendiri) dari beberapa perusahaan teknologi terkenal juga ikut membesarkan budaya gila kerja ini. Ia mengutip pernyataan Elon dari akun Twitter-nya bahwa orang yang cuma kerja empat puluh jam per minggu tidak akan bisa mengubah dunia. Lebih lanjut, Elon menuliskan kalau kita mencintai apa yang kita kerjakan, maka hal tersebut tidak akan terasa seperti pekerjaan.</p>
<p style="text-align:justify">Raymond Chin selaku Chief Executive Officer (CEO) Ternak Uang, sebuah platform edukasi finansial untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia, memberi tahu dalam video di kanal Youtube-nya bahwa beberapa perusahaan raksasa di China juga ikut mempopulerkan budaya gila kerja yang dikenal dengan sebutan 996, yaitu bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam selama 6 hari. Istilah itu dipopulerkan oleh pendiri perusahaan Alibaba yaitu Jack Ma pada &nbsp;wawancara yang dilakukan perusahaannya. Konsep kerja keras yang sempat menjadi kontroversi itu akhirnya terbawa ke perusahaan lain di China.</p>
<p style="text-align:justify">Namun menurut Raymond, kebanyakan orang hanya melihat dari sisi negatifnya dan tidak dengan sisi positifnya. &rdquo;Inovasi-inovasi terbesar, disruptif terbesar di dunia, itu pasti di belakangnya ada orang yang kerja keras gila-gilaan&rdquo;, ungkapnya pada video pribadinya yang membahas tentang <em>hustle culture</em>. Ia menambahkan bahwa orang-orang tersebut mengorbankan beberapa waktu di hidup mereka agar bisa berdampak luas bagi dunia.</p>
<p style="text-align:justify">Walaupun begitu, dampak negatif akan dirasakan oleh beberapa orang yang mengikuti gaya hidup gila kerja seperti ini, salah satunya pada aspek kesehatan mental. Seperti yang diungkapkan oleh Andri selaku dokter spesialis kejiwaan dalam kanal Youtube Mako Talk bahwa ada beberapa orang yang terjebak dalam situasi harus terus bekerja, sehingga pada awalnya mungkin terjadi <em>burnout</em> (baca: stres berat) dan akhirnya menjadi gejala gangguan kejiwaan. Hal tersebut juga didukung dengan sebuah studi dalam jurnal Occupational Medicine yang mengatakan bahwa orang dengan jam kerja yang lebih panjang, berapa pun usianya, cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan tidur.</p>
<p style="text-align:justify">Maka dari itu, penerapan <em>work life balance</em> atau keseimbangan dalam menjalani kerja dan kehidupan lainnya menjadi penting agar tidak mengalami dampak negatif dari <em>hustle culture</em>. &ldquo;Terkadang kita tuh membuang-buang waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak perlu, seolah-olah itu di dalam jam kerja, tapi sebenarnya itu tidak dilakukan seharusnya. Jadi akhirnya malah produktivitas kerjanya seolah-olah panjang tapi tidak bagus gitu&rdquo;, jelas Andi dalam webinar bertajuk &ldquo;Hustle Culture dan Toxic Positivity&rdquo;.</p>
<p><strong>Penulis: </strong><strong>Luqman Aradhana</strong><br />
<strong>Editor: Artha Julia</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/">Buntut Gila Kerja Para Pekerja Muda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/buntut-gila-kerja-para-pekerja-muda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memutus Lingkaran Setan Bernama Generasi Sandwich</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/memutus-lingkaran-setan-bernama-generasi-sandwich--/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/memutus-lingkaran-setan-bernama-generasi-sandwich--/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2021 18:55:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[covid19]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;Generasi sandwich menggambarkan kondisi di mana seseorang menanggung biaya hidup dua generasi. Hal ini dapat membuat mereka tertekan, sehingga lingkaran setan ini perlu</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/memutus-lingkaran-setan-bernama-generasi-sandwich--/">Memutus Lingkaran Setan Bernama Generasi Sandwich</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com</strong> &#8211;&nbsp;<em>Generasi sandwich menggambarkan kondisi di mana seseorang menanggung biaya hidup dua generasi. Hal ini dapat membuat mereka tertekan, sehingga lingkaran setan ini perlu diputus dengan manajemen keuangan yang baik.</em></p>
<p style="text-align:justify">Pandemi Covid-19 membuat Dina Octaviany yang merupakan seorang&nbsp;dokter gigi&nbsp;harus mencari akal karena penghasilan keluarganya berkurang. Padahal, ia dan suaminya adalah tulang punggung keluarga yang menanggung biaya hidup untuk tiga generasi, yaitu diri sendiri, anak, dan orang tuanya.</p>
<p style="text-align:justify">&ldquo;Saya sebulan bisa dapat Rp5 Juta sampai Rp10 Juta. Sejak ada virus Corona, saya menutup praktik demi keamanan. Dengan begitu, pemasukan berkurang drastis, tetapi pengeluaran terus berjalan,&rdquo; terangnya dalam <em>Katadata.co.id</em> pada Selasa (28/07).</p>
<p style="text-align:justify">Kejadian tersebut menjadi salah satu dari sekian banyak kasus yang dinamakan generasi <em>sandwich</em> atau <em>sandwich generation</em>. Dikutip dari <em>TheAsianparent Indonesia</em>, isitilah generasi <em>sandwich</em> pertama kali dikenalkan oleh seorang profesor di Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat yang bernama Dorothy A. Miller pada tahun 1981 melalui jurnalnya yang berjudul &ldquo;The Sandwich Generation: Adult Children of the Aging&rdquo;.</p>
<p style="text-align:justify">Dalam jurnal tersebut, ia menjelaskan bahwa mereka yang termasuk generasi <em>sandwich</em> adalah orang dewasa yang menanggung hidup anak dan juga orang tuanya. Hal tersebut dapat diibaratkan seperti <em>sandwich</em> (baca: roti lapis) di mana masing-masing lapisan roti menjadi generasi yang harus ditanggung oleh generasi di tengahnya.</p>
<p style="text-align:justify">Prita Hapsari Gozi selaku perencana keuangan memberikan analisis bahwa generasi <em>sandwich </em>seperti sesuatu yang turun temurun. &ldquo;Kenapa kita sampai menjadi generasi <em>sandwich</em>. Jadi, penelitian menyatakan bahwa generasi <em>sandwich</em> itu umumnya juga berasal dari generasi <em>sandwich</em>, dan generasi <em>sandwich</em> itu juga berasal dari generasi <em>sandwich </em>sebelumnya,&rdquo;&nbsp;ujarnya dalam channel Youtube ZAP Finance TV.</p>
<p style="text-align:justify">Selain itu, menurut Melvin Mumpuni seorang perencana keuangan serta Founder &amp; CEO Finansialku.com, penyebab seseorang bisa menjadi generasi sandwich adalah karena tidak mengerti literasi keuangan atau perencanaan finansial. &ldquo;<em>Sandwich generation</em> ini terjadi karena orang-orang yang masuk di usia 60-80 tahun atau di kuadran ke-4 itu tidak siap. Sehingga, semua kehidupannya dibebankan oleh kuadran ke-3 (usia 40-60 tahun) atau kuadran ke- 2 (usia 20-40 tahun),&rdquo; ungkapnya dalam akun Youtube Finansialku.com.</p>
<p style="text-align:justify">Apabila generasi <em>sandwich</em> terus berlanjut ke generasi berikutnya, seseorang yang menjalani hidup sebagai generasi<em> sandwich</em> akan mendapat dampak negatif. Dilansir dari laman <em>R</em><em>eviewnesia.com</em> bahwa dampak yang akan terjadi bagi seseorang generasi <em>sandwich</em> yang pertama adalah rentan terkena stres. Hal ini disebabkan oleh beban ganda ekonomi yang ditanggung para generasi <em>sandwich</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Selanjutnya, stres akan membuat pekerjaan tidak terselesaikan dengan baik serta dapat menimbulkan masalah lainnya yang semakin rumit. Oleh karena itu, akan timbul rasa bersalah bagi pelaku generasi <em>sandwich</em> karena selalu merasa tertekan dengan situasi. Perasaan bersalah ini juga menimbulkan rasa putus asa yang jika berkepanjangan dapat menyebabkan kehilangan rasa percaya diri dalam menyelesaikan berbagai pekerjaannya.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip dari laman <em>The Conversation</em>, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memutus lingkaran setan dari generasi <em>sandwich</em>. Langkah pertama adalah menghitung biaya hidup sehari-hari dengan menggunakan metode 50/20/30, yaitu 50% untuk kebutuhan, 20% tabungan, dan 30% keinginan.</p>
<p style="text-align:justify">Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan generasi bawah (anak-anak) untuk hidup sederhana dengan mengesampingkan kebutuhan sekunder dan tersier. Lalu, langkah terakhir adalah menabung untuk menyiapkan dana darurat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengasah kreativitas dan hobi, contohnya memasak lalu menjual hasilnya melalui media sosial maupun lapak jualan <em>online</em>.</p>
<p><strong>Penulis : Luqman Aradhana<br />
Editor : Silvia Andini</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/memutus-lingkaran-setan-bernama-generasi-sandwich--/">Memutus Lingkaran Setan Bernama Generasi Sandwich</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/memutus-lingkaran-setan-bernama-generasi-sandwich--/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YOLO, Gaya Hidup yang Bisa Mengancam Kesehatan Finansial</title>
		<link>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/</link>
					<comments>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[LPM Industria]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2021 19:46:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[covid19]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
		<category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[wfh]]></category>
		<category><![CDATA[yolo]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>lpmindustria.com &#8211;&#160;You Only Live Once (YOLO) merupakan gaya hidup milenial yang bermakna untuk menikmati hidup. Namun, banyak orang yang menyalahartikannya hingga menimbulkan berbagai dampak</p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/">YOLO, Gaya Hidup yang Bisa Mengancam Kesehatan Finansial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify"><strong>lpmindustria.com</strong> &#8211;&nbsp;<em>You Only Live Once (YOLO) merupakan gaya hidup milenial yang bermakna untuk menikmati hidup. Namun, banyak orang yang menyalahartikannya hingga menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya pada finansial.</em></p>
<p style="text-align:justify">Kata YOLO secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi &ldquo;Anda hanya hidup sekali&rdquo;, kata ini biasanya digunakan sebagai bahasa <em>slang</em> di Amerika dan banyak dijumpai di media sosial. Berdasarkan kamus daring Oxford, kata ini biasanya digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang harus mengambil setiap kesempatan untuk menikmati kehidupan ataupun memaafkan sesuatu yang bodoh yang telah dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify">Menurut Ajeng Raviando sebagai seorang psikolog, YOLO sendiri mengandung makna yang positif. &ldquo;Orang pada zaman dahulu cenderung menunggu sampai mereka yakin dengan sesuatu yang diinginkan. Hal tersebut berbeda dengan saat ini, para remaja tergerak untuk langsung melakukan yang diinginkannya,&rdquo; terangnya yang dilansir dari <em>Kumparan.com</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Daisy Indira Yasmine selaku sosiolog dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa prinsip YOLO mudah diterima di Indonesia karena didukung oleh iklim sosial politik yang demokratis. &ldquo;Ditambah lagi, negara kita memiliki aspek budaya komunal yang kental dalam budaya Timur. Aspek budaya komunal pada satu sisi sangat mendukung jejaring dan keterhubungan antar manusia, khususnya netizen, yang kemudian membentuk keterbukaan,&rdquo; ujarnya pada laman <em>Femina.co.id</em>.</p>
<p style="text-align:justify">Selain itu, psikolog Tara de Thouars dari Sanatorium Dharmawangsa mengatakan jika orang pada rentang usia 18-35 tahun memiliki tiga kebutuhan penting, yaitu jati diri, karier, dan <em>support system</em>. &ldquo;Ketiganya saling terkait untuk membangun makna pada diri seseorang dan merupakan unsur yang saling menguatkan manusia pada usia produktif,&rdquo; ungkapnya. Tara juga turut menyampaikan bahwa YOLO merupakan bagian dari identitas yang membuat generasi milenial merasa menjadi bagian penting dari generasinya.</p>
<p style="text-align:justify">Dikutip pada halaman <em>Tirto.id</em>, Prita Ghozie sebagai CEO Zap Finance, perusahaan perencanaan finansial, mengungkapkan bahwa banyak generasi milenial Indonesia terkena dampak slogan YOLO yang memengaruhi sisi ekonomi dan psikologisnya. &ldquo;Kecenderungan yang muncul adalah mereka akan menjadi konsumtif dan mengutamakan pengeluaran untuk kegiatan yang sifatnya pengalaman. Contohnya adalah&nbsp;<em>travelling</em>,&nbsp;<em>experienced buying</em>, dan lain-lain,&rdquo; ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify">Seperti yang diwartakan dalam <em>Kompas.com</em>, kondisi pandemi saat ini membuat masyarakat menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, sehingga mendorong timbulnya perilaku konsumtif.&nbsp; &ldquo;Kalau dulu <em>Work From Office</em>, kesempatan melihat etalase <em>online market</em> relatif terbatas. Akan tetapi,&nbsp;saat ini terjadi perkembangan yang pesat pada aktivitas digital ekonomi yang memanfaatkan berbagai platform <em>online market</em>,&rdquo; tutur Wisnu Wibowo selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.</p>
<p style="text-align:justify">Oleh sebab itu dibutuhkan penanggulangan dampak dari kesalahan penafsiran gaya hidup tersebut. &ldquo;Poin penting untuk mengatasi finansial sindrom YOLO yaitu dengan membenarkan <em>mindset</em> kita terlebih dahulu dan mencoba berpikir untuk ke depannya, seperti menyiapkan investasi, menabung, dan mengubah gaya hidup, sehingga literasinya itu ditingkatkan lagi,&rdquo; ungkap Syafirah Alhadar selaku Independent Financial Adviser of Jouska Indonesia dalam akun Youtube CNBC Indonesia. Ia juga menyarankan apabila seseorang penganut sindrom YOLO sudah terjerumus dengan hutang finansial, sebaiknya ia menyelesaikan hutangnya terlebih dahulu untuk memperbaiki keadaan finansialnya.</p>
<p><strong>Penulis: Mutiah Kusuma Sari<br />
Editor: Silvia Andini</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/">YOLO, Gaya Hidup yang Bisa Mengancam Kesehatan Finansial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://lpmindustria.com">LPM Industria</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://lpmindustria.com/gaya-hidup/yolo-gaya-hidup-yang-bisa-mengancam-kesehatan-finansial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
