lpmindustria.com – Menjadi salah satu dari enam perempuan dalam Kongres Pemuda II, Emma Poeradiredja mendorong kaum perempuan agar turut aktif dalam gerakan kebangsaan.
Pada 27 Oktober 1928, seorang perempuan muda berdiri di mimbar Gedung Kramat 106, Jakarta. Di depannya, para peserta Kongres Pemuda II duduk menyimak. Ia adalah Emma Poeradiredja, Ketua Cabang Bandung Jong Islamieten Bond., dengan nama asli Nyi Raden Rachmat’ulhadiah Poeradiredja. Emma lahir pada 13 Agustus 1902 di Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Berasal dari keluarga menak memberinya akses pendidikan yang cukup baik pada masanya, sesuatu yang tidak dinikmati banyak perempuan sebaya. Sejak remaja, ia sudah terlibat dalam pergerakan pemuda di tanah Sunda.
Pada Kongres Pemuda II, Emma hadir sebagai anggota yang menyampaikan pesannya dalam mendorong kaum perempuan agar turut aktif dalam gerakan kebangsaan. Pidato itu tidak berhenti di mimbar. Dua tahun kemudian, Emma mendirikan Pasundan Istri (PASI) bersama delapan perempuan lainnya.
Dikutip dari hasil wawancara DetikEdu bersama Amarawati selaku anak dari mendiang Emma, Emma juga ikut mendorong berdirinya sekolah, rumah yatim, dan bank wanita bersama tokoh-tokoh lain. Pada 1938, ia memimpin Kongres Perempuan III dan akhirnya terpilih sebagai anggota dewan Kota Bandung. Bagi Emma, ikrar bukan sekadar kata-kata, melainkan tanggung jawab yang harus dilaksanakan.
Hampir satu abad berlalu, kesempatan perempuan muda untuk mengakses pendidikan dan berpartisipasi dalam ruang publik semakin terbuka. Namun, kesempatan itu tidak selalu berarti suara mereka didengar atau gagasan mereka mendapat ruang yang setara. Di lingkungan kampus, misalnya, perempuan dapat terlibat dalam organisasi, forum diskusi, dan berbagai kegiatan sosial. Meski demikian, keberanian menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, serta mengambil peran dalam pengambilan keputusan tetap menjadi hal yang perlu diperjuangkan.
Pelajaran dari Emma terasa dekat bagi perempuan muda saat ini. Pertama, keberanian bersuara. Menjadi salah satu dari enam perempuan di antara 76 laki-laki dalam Kongres Pemuda II dengan jumlah yang sedikit tidak membuat Emma memilih diam. Kedua, kerja yang berkelanjutan. Ia tidak berhenti pada pidato, melainkan mendirikan organisasi, mendorong lahirnya sekolah, dan memimpin kongres perempuan. Ketiga, keberanian masuk ke ruang pengambilan keputusan. Emma menduduki kursi dewan untuk memastikan suara perempuan ikut menentukan arah kebijakan.
Meneladani Emma tidak berarti mengulang bentuk perjuangannya pada masa lalu. Pemuda-pemudi masa kini, khususnya perempuan, dapat meneruskan semangatnya melalui tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti berani menyampaikan gagasan, membangun kolaborasi, maupun mengawal perubahan di lingkungan sekitar.
Kisah Emma Poeradiredja menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan keberanian mengambil peran. Kesempatan yang semakin terbuka perlu diiringi keberanian untuk bersuara. Perempuan muda tidak cukup hanya hadir dalam ruang publik. Mereka juga perlu terlibat dalam menentukan arah perubahan. Mewarisi semangat Emma berarti tidak sekadar mengenang namanya, tetapi meneruskan keberaniannya untuk bersuara, bergerak, dan menjadi bagian dari perubahan.
Penulis: Amira Najla Hartini
Editor: Zilvi Aulia Yasmin

