lpmindustria.com – Pirolisis menjadi teknologi yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar terdengar seperti solusi ajaib. Namun, benarkah prosesnya sesederhana itu?
Apakah kalian tahu kalau kita bisa membuat BBM dari limbah plastik dengan metode pirolisis? Menurut Andi Rusnaenah, pakar teknik kimia dan polimer, pirolisis adalah proses “memotong” rantai panjang polimer plastik menggunakan panas tinggi sekitar 400-600°C tanpa oksigen. Plastik dipilah dan dicacah, lalu dipanaskan di dalam reaktor hingga terurai menjadi uap hidrokarbon, yang kemudian dikondensasi menjadi minyak pirolisis. Namun, tidak semua plastik “ramah” diolah. PVC misalnya, dapat melepaskan gas klorin berbahaya saat dipanaskan.
Data indikatif Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 mencatat timbulan sampah nasional mencapai 29,2 juta ton per tahun, dan 67,1% diantaranya belum terkelola dengan baik. Menurut Andi, pirolisis paling relevan digunakan untuk plastik campuran atau kotor yang sulit didaur ulang secara mekanis, bukan pengganti daur ulang. Ia mengutip sejumlah studi yang menunjukkan bahwa daur ulang mekanis tetap lebih unggul secara lingkungan ketika memungkinkan untuk dilakukan.
Pirolisis juga tidak otomatis bebas emisi karena prosesnya berlangsung tanpa oksigen. Senyawa berbahaya seperti Volatile Organic Compounds (VOC) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) tetap bisa terbentuk jika proses tidak dikendalikan dengan baik. Komunitas Get Plastic di Bali telah mengoperasikan mesin pirolisis yang mengubah sampah plastik rumah tangga menjadi solar dan bensin alternatif untuk kebutuhan warga serta petani setempat. Bukti di lapangan ini sekaligus menegaskan pentingnya kontrol kualitas dan keamanan proses, bukan sekadar bukti bahwa teknologinya berhasil.
Pengalaman mahasiswa juga memberikan sudut pandang lain. Pramudhi Nur Dwiantoro, mahasiswa Teknik Kimia Polimer (TKP) Politeknik STMI Jakarta yang pernah mempraktikkan pirolisis secara langsung, mengaku tertarik menggunakan BBM dari plastik, ketika sudah terbukti aman dan sesuai standar SNI. Ia juga berbagi mengenai pengalaman pribadinya, “Waktu dulu saya mempraktikkan proses pirolisis ini, yang ada malah menghasilkan limbah polusi udara” ucap Pramudhi. Baginya, keamanan mesin, kualitas produk, biaya produksi, dan dampak lingkungan menjadi hal yang perlu diperhatikan sebelum teknologi ini diterapkan secara luas.
Indonesia memiliki modal yang cukup kuat, volume sampah yang besar dan regulasi yang sudah berjalan, seperti Peraturan Menteri LHK No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Peluang pengembangannya luas mulai dari pengolahan plastik yang tak ekonomis untuk didaur ulang secara mekanis, integrasi dengan industri petrokimia, hingga pengembangan katalis dan teknologi lokal.
Dalam penerapannya, proses pirolisis juga menghadapi sejumlah tantangan. Sampah kota yang heterogen membuat bahan baku pirolisis sulit konsisten. Pemilahan dan logistik yang kurang optimal dapat meningkatkan biaya praperlakuan sekaligus memengaruhi mutu produk. Andi menegaskan bahwa minyak berwarna cokelat atau hitam yang dapat terbakar belum otomatis memenuhi standar sebagai solar, “minyak berwarna cokelat atau hitam yang dapat terbakar belum otomatis dapat disebut solar,” tegas Andi.
Jadi, apakah pirolisis merupakan solusi? Jawabannya tidak sesederhana itu. Teknologi ini dapat menjadi bagian dari solusi, terutama untuk plastik yang sulit didaur ulang secara mekanis, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan sampah plastik. Penanganannya tetap membutuhkan sistem terpadu, mulai dari pemilahan sampah di rumah, daur ulang mekanis, hingga pirolisis sebagai salah satu opsi untuk plastik yang sulit diolah.
Penulis: Dzaki Muhammad Ihsan Abidin
Editor: Amira Najla Hartini

