Kondisi Kesehatan Mental Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19

lpmindustria – Pandemi Covid-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan dampak pada berbagai pihak, terutama bagi para tenaga kesehatan yang sangat merasakan dampaknya bagi kesehatan jiwa dan psikososial.

Mengutip Kajian dari Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI yang berjudul “Pandemi Covid-19 sebagai Persoalan Serius Banyak Negara di Dunia”, kasus Covid-19 pada 14 Juli 2021 yang lalu sangat mengkhawatirkan karena terjadi penambahan sebanyak 54.517 kasus baru Covid-19 dalam kurun waktu 24 jam. Angka ini merupakan rekor tertinggi penambahan pasien Covid-19 dalam sehari selama pandemi. Dilansir dari laman covid19.go.id, hingga hari ini (20/10) terdapat 4.235.384 kasus terkonfirmasi dengan penambahan sebanyak 626 kasus.

Dilansir fk.ui.ac.id, jumlah pasien Covid-19 semakin bertambah namun tidak diimbangi dengan kesiapan fasilitas dan jumlah tenaga medis yang cukup. Hal ini mengakibatkan tenaga medis kelelahan dan menambah beban para tenaga medis yang mana mereka adalah orang-orang paling berisiko tinggi terhadap paparan virus tersebut. Tidak hanya itu, banyak tenaga medis yang bekerja melebihi shift yang seharusnya. Risiko lain yang juga sangat berpotensi memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas pelayanan tenaga medis kesehatan kita adalah aspek kesehatan mental termasuk risiko burnout syndrome atau kelelahan mental.

Melansir dari laman alomedika.com, faktor penyebabnya adalah stres tambahan selama pandemi Covid-19 dapat menjadi lebih berat karena beban yang secara langsung dihadapi oleh tenaga medis adalah perasaan cemas terinfeksi dan meninggal, berpisah dengan keluarga terkait tuntutan bekerja, menyaksikan pemandangan traumatis termasuk pasiennya yang dalam kondisi kritis atau meninggal, mengatur beban kerja yang terlalu banyak, mengalami putus asa akibat kehilangan nyawa pasien dalam jumlah besar walaupun telah berupaya maksimal, kekurangan bantuan dan tenaga pengganti, serta kelelahan.

Mengutip dari jurnal yang berjudul “Faktor Penyebab Stres pada Tenaga Kesehatan dan Masyarakat Saat Pandemi Covid-19”, ketakutan pada peningkatan risiko terpaparnya virus, terinfeksi, dan kemungkinan menginfeksi orang yang dicintai juga menjadi beban tersendiri bagi para tenaga kesehatan. Tak hanya itu, mereka juga harus mengisolasi diri dari keluarga dan orang terdekat meskipun tidak terpapar Covid-19. Hal ini merupakan keputusan yang sulit dan dapat menyebabkan beban psikologis yang signifikan.

Selanjutnya, bekerja di tengah perhatian media dan publik yang intens, durasi kerja yang panjang, masif, dan mungkin sebelumnya belum pernah terjadi pada beberapa tenaga kesehatan memiliki implikasi tambahan dalam memicu terjadinya efek psikologis negatif, termasuk gangguan emosional, depresi, stres, suasana hati rendah, lekas marah, serangan panik, fobia, gejala, insomnia, kemarahan, dan kelelahan emosional juga stigma yang diterima dan menjadikan para tenaga medis seakan-akan pembawa virus merupakan sikap yang bisa memicu terjadinya gangguan psikologis pada tim medis.

Melansir dari laman alomedika.com, beban dan kekhawatiran yang tinggi ini tentu akan meningkatkan stres, seperti depresi, ansietas, perilaku permusuhan, dan gejala somatik. Kondisi ini juga dapat terjadi bahkan setelah satu tahun pandemi berlalu, sehingga dapat disimpulkan dapat bersifat akut maupun kronik. Takut diasingkan oleh masyarakat/dikarantina karena dikait-kaitkan dengan penyakit, merasa tidak berdaya untuk melindungi keluarga dan takut kehilangan karena virus yang menyebar, takut terpisah dengan keluarga karena aturan karantina, menolak untuk mengurusi anak kecil yang sendirian atau terpisah, penyandang distabilitas atau orang berusia lanjut karena takut infeksi, merasa tidak berdaya, bosan, kesepian dan depresi. 

 

Dilansir dari fk.ui.ac.id, Tim Peneliti dari Prodi Magister Kedokteran Kerja yang terdiri dari Dr. dr. Ray W Basrowi, MKK; dr. Levina Chandra Khoe, MPH; dan dr. Marsen Isbayuputra, SpOK, menemukan fakta lagi yang sangat mengkhawatirkan, seperti: 83 persen tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome derajat sedang dan berat, 41 persen mengalami keletihan emosi derajat sedang dan berat, 22 persen mengalami kehilangan empati derajat sedang dan berat, serta 52 persen mengalami kurang percaya diri derajat sedang dan berat.

Selain itu, dokter yang menangani pasien Covid-19, baik dokter umum, spesialis, maupun bidan yang menangani pasien Covid-19 berisiko dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dan kehilangan empati dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien Covid-19. Terlebih lagi, terdapat sekitar dua persen tenaga kesehatan yang tidak mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) dari fasilitas kesehatannya, 75 persen fasilitas kesehatan tidak melakukan pemeriksaan swab rutin, dan 59 persen tidak melakukan pemeriksaan rapid test rutin bagi tenaga kesehatannya.  

Melansir dari jurnal keperawatan jiwa yang berjudul “Faktor Penyebab Stres pada Tenaga Kesehatan dan Masyarakat Saat Pandemi Covid-19”, upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan pada tenaga kesehatan yaitu merancang dan mengimplementasikan dukungan psikososial dan intervensi program untuk mengurangi tekanan psikologis. Pada saat terjadi krisis kesehatan dan perubahan tekanan kerja yang hebat, program trauma penyembuhan, hipnoterapi, dan pendampingan ahli kejiwaan yang secara rutin melakukan penyegaran psikologis bagi para tenaga kesehatan sebaiknya menjadi pertimbangan strategi selain strategi kuratif yang berfokus pada kesembuhan fisik pasien.

Penulis: Mariska Sri Rahayu
Editor: Ela Auliyana

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *