lpmindustria.com – Kondisi yang tidak stabil seperti saat ini dapat menimbulkan kepanikan pada masyarakat. Banyak hal yang dilakukan agar mereka merasa aman di masa krisis, salah satunya dengan membeli banyak barang yang mengakibatkan panic buying.
Hingga saat ini, kasus positif Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat. Hal tersebut menyebabkan rasa khawatir dan panik berlebihan, sehingga akhirnya masyarakat mengalami panic buying. Menurut Ikhsan Bella Persada sebagai seorang psikolog dari KlikDokter, panic buying adalah kondisi yang sangat berhubungan dengan situasi tak terduga, seperti pandemi Covid-19. Panic buying biasanya terjadi ketika seseorang mengalami rasa kecemasan berlebih, ini dilakukan demi bisa membuat dirinya merasa aman.
Selain itu, pada laman Forbes juga dijelaskan bahwa setelah diamati berulang kali selama terjadinya banyak krisis, panic buying lebih sering terjadi di negara maju atau industri di mana orang berharap mereka dapat mengakses makanan dan barang-barang penting lainnya dengan mudah. Sebelum pandemi Covid-19, kasus panic buying juga terjadi selama pandemi SARS 2003 di China dan Hong Kong yang menyebabkan kekurangan garam, beras, cuka, minyak sayur, masker, dan obat-obatan untuk waktu yang singkat.
Saat ini, di Indonesia juga telah banyak terjadi kasus panic buying yang memicu kelangkaan persediaan produk medis, mulai dari masker, hand sanitizer, obat-obatan, multi-vitamin, hingga oksigen. Seperti yang dikutip pada laman Antaranews.com, orang-orang membeli berbagai barang dalam jumlah yang banyak, salah satunya keperluan medis, seperti masker, obat-obatan khusus Covid-19, oximeter, dan tabung oksigen, serta makanan dan minuman tertentu. Adapun barang lainnya yang mengalami hal serupa adalah makanan dan minuman. Contoh nyatanya adalah produk susu steril bergambar beruang yang banyak dibeli orang-orang sampai beberapa tempat perbelanjaan yang mengalami kehabisan stok dan harganya melambung tinggi.
Fenomena panic buying ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi mental atau emosional seseorang. Dilansir dari laman web Antaranews.com, Mega Tala Harimukhti menjelaskan bahwa seseorang yang terbiasa mengambil keputusan secara emosional, otak emosionalnya bekerja dengan sangat cepat. Hal ini membuatnya tidak memiliki pertimbangan yang matang dan sangat impulsif. “Ketika melihat orang lain melalui foto dan video yang sedang berbelanja barang tertentu yang jumlahnya banyak maka ia akan panik,” ungkap Tala yaitu seorang psikolog klinis dewasa dari Universitas Indonesia.
Dijelaskan dalam laman web Antaranews, sisi buruk panic buying yaitu dapat menular ke orang lain. Saat seseorang dalam kondisi yang sangat takut dan melihat orang, baik secara langsung ataupun melalui media foto dan video melakukan hal tertentu, dia bisa sangat emosional memersepsikan hal tersebut yang kemudian ikut merasa takut. Hal ini Dikarenakan otaknya lebih mengutamakan sisi emosional dibandingkan logis, akhirnya dia membeli banyak barang yang belum tentu bukan kebutuhan utamanya.
Padahal, memborong barang belum tentu membuat seseorang merasa lebih baik. Tindakan ini justru bisa menyebabkan kelangkaan produk yang semestinya tidak perlu terjadi atau harganya akan melambung tinggi dari biasanya. “Di satu sisi memang bagus untuk tindakan pencegahan. Namun, di sisi lain akan menjadi hal yang tidak baik lantaran menyebabkan barang menjadi langka dan kenaikan harga yang sangat tinggi,” lanjut Tala pada laman web Antaranews.
Perilaku panic buying ini dapat dihindari dengan berpikir positif serta menjaga kesehatan mental. Dilansir dari laman Antaranews, Tala menyarankan agar orang yang mudah cemas melakukan diet media sosial untuk menjaga kesehatan mental sekaligus fisiknya. Saat seseorang terbiasa cemas dan panik, ini bisa mengganggu fisiknya, mulai dari kualitas tidur terganggu, pikiran jadi lebih rumit, interaksi dengan orang lain menjadi lebih buruk, hingga suasana hati memburuk. "Coba diet media sosial karena pengaruhnya besar sekali. Apalagi sekarang tidak hanya media sosial, kita melihat televisi saja isinya berita hal sama," tutup Tala.
Penulis: Aldi Ihza Maula
Editor: Ela Auliyana
