lpmindustria.com – Setiap tahun, pertanyaan soal beasiswa selalu menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa Politeknik STMI Jakarta. Mulai dari siapa yang berhak menerima, bagaimana proses seleksinya, hingga mengapa pengumumannya sering kali terasa mendadak.
Ketika mendengar kata “beasiswa”, banyak orang membayangkan uang yang ditransfer langsung setiap bulan. Namun, di Politeknik STMI Jakarta konsepnya jauh lebih luas. Menurut Pak Amrin, Direktur Politeknik STMI Jakarta, hampir seluruh mahasiswa STMI sebenarnya sudah menerima “beasiswa tidak langsung” sejak awal kuliah berupa subsidi pemerintah yang membuat biaya SPP jauh lebih ringan dibanding biaya operasional sesungguhnya. Biaya SPP di Politeknik STMI Jakarta setelah disubsidi tercatat sebesar Rp4,875 juta per semester, namun pihak kampus tidak menyampaikan secara rinci besaran biaya sebelum subsidi tersebut diberikan.
Selain itu, STMI menjalin kerja sama dengan pihak eksternal seperti Baznas dan KT&G untuk menyediakan beasiswa langsung, serta tetap membuka peluang kerja sama dengan perusahaan lain. Di samping itu, STMI belum dapat mengakomodasi program KIP Kuliah karena program tersebut berada di bawah kewenangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiksaintek), sedangkan STMI berada di bawah Kementerian Perindustrian.
Mengenai sistem seleksi penerimaan beasiswa, Pak Amrin menjelaskan bahwa terdapat tahap seleksi berbasis data mahasiswa dan rekomendasi dosen karena jumlah peminat cukup banyak sehingga tidak semua usulan dapat diakomodasi. Kriteria utama dalam seleksi beasiswa meliputi prestasi akademik dan kondisi ekonomi, dengan prioritas bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Namun, penilaian tetap dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan aspek akademik, kehadiran, dan kondisi ekonomi. Untuk beasiswa dari pihak eksternal seperti KT&G, kriteria seleksi biasanya ditentukan bersama pihak pemberi beasiswa.
Kamila, salah satu mahasiswa penerima beasiswa, menilai bahwa sistem seleksi sudah cukup ideal karena mempertimbangkan kondisi ekonomi dan prestasi akademik. Kamila menceritakan pengalamannya saat mengikuti proses seleksi, “Seleksi kemarin dari Korea. Seleksinya cuman diwawancarai terkait finansial, terus untuk seleksi berkasnya cuman ngirim slip gaji orang tua sama IPK,” ungkapnya.
Mengenai penyebaran informasi, Pak Amrin menyebutkan bahwa karena sistemnya menggunakan subsidi silang, informasi beasiswa disampaikan secara terbatas, biasanya melalui WhatsApp dan masing-masing program studi. Hal ini dilakukan agar jumlah pendaftar tidak membludak dan proses seleksi tetap terkendali. Namun, Kamila menilai penyebaran informasi tersebut belum sepenuhnya menjangkau seluruh mahasiswa karena pemberitahuannya sering kali mendadak dengan waktu pengumpulan berkas yang terkadang hanya satu hari.
Pak Amrin menjelaskan bahwa jumlah dan jenis beasiswa dapat berubah setiap tahun, bergantung pada ada atau tidaknya perusahaan baru yang menjalin kerja sama. Pihak kampus menyebutkan bahwa peluang kerja sama tersebut selalu terbuka, “Tetapi kami juga membuka peluang bagi perusahaan yang mau memberikan beasiswa,” ujarnya. Meskipun begitu, bentuk kerja sama ini dapat berubah dari tahun ke tahun sesuai dengan kondisi dan kebijakan perusahaan yang terlibat. Untuk saat ini, pihak kampus belum banyak menambah program beasiswa karena subsidi SPP dinilai sudah cukup sehingga fokus dialihkan pada perbaikan sarana dan prasarana secara bertahap.
Dengan kombinasi subsidi pemerintah, kerja sama eksternal, dan perbaikan fasilitas, STMI berupaya memastikan bantuan pendidikan tetap dirasakan mahasiswa. Ke depan, keberlanjutan dukungan tersebut diharapkan tidak hanya melalui penambahan program beasiswa, tetapi juga melalui optimalisasi berbagai bentuk bantuan yang telah tersedia.
Penulis: Aghisna Nafisa
Editor: Zilvi Aulia Yasmin

