lpmindustria.com – Kepraktisan dompet digital menggeser peran uang tunai di kalangan mahasiswa. Di balik kemudahannya, “ilusi finansial” berpotensi memicu perilaku konsumtif dan memengaruhi cara mahasiswa mengelola keuangan.
Penggunaan dompet tebal berisi lembaran uang tunai kini mulai menjadi pemandangan langka dalam gaya hidup mahasiswa. Kini, ponsel pintar selalu siap sedia untuk melakukan pembayaran digital, mulai dari pembelian kopi di pagi hari hingga pembayaran transportasi sehari-hari. Fenomena cashless society ini menawarkan proses transaksi yang lebih cepat dan efisien, namun di balik layar ponsel tersebut, terselip sebuah jebakan psikologis yang sering kali membuat penggunanya abai terhadap tumpukan pengeluaran kecil yang terus mengalir.
Menurut Fairuza Anargya Yusuf, mahasiswi Administrasi Bisnis Otomotif (ABO) Politeknik STMI Jakarta, dompet digital telah menjadi bagian dari kesehariannya. Kepraktisan menjadi alasan utama ia beralih ke metode transaksi digital, “Saya sangat sering menggunakan dompet digital karena lebih nyaman, gampang, dan praktis dibanding cash,” ungkapnya. Ia biasa menggunakannya untuk kebutuhan rutin, seperti membeli makanan hingga pengisian saldo e–money. Namun, kemudahan transaksi digital ini ibarat pedang bermata dua. Fairuza mengakui bahwa cashless lifestyle sering kali mengaburkan kesadarannya dalam mengeluarkan uang, sehingga pengeluaran kecil sering tidak terasa saat bertransaksi digital.
Menanggapi fenomena ini, Gustiyan Taufik Mahardika, M.M., dosen Politeknik STMI Jakarta, menjelaskan bahwa dompet digital hanyalah media pembayaran. Namun, media ini menciptakan sebuah “ilusi finansial” karena uang tidak lagi dipegang secara fisik. Mahasiswa yang kebutuhan dasarnya sudah telah orang tua cenderung mengalihkan pengeluarannya ke kebutuhan sekunder dan tersier yang bersifat impulsif, “Kemudahan digital memicu impulsive buying atau pembelian tanpa rencana. Mahasiswa merasa tertarik secara spontan dan mudah untuk langsung membayar tanpa perlu repot mengambil uang di ATM atau membawa kembalian receh. Jadi, fenomenanya lebih kepada perubahan metode yang memudahkan transaksi,” jelas Pak Dika.
Hal ini selaras dengan temuan Jurnal Ekonomikawan yang menunjukkan bahwa penggunaan dompet digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Semakin sering mahasiswa menggunakan dompet digital, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk berperilaku konsumtif. Pak Dika menambahkan bahwa fitur promo dan cashback semakin memperkuat dorongan mahasiswa untuk terus bertransaksi demi memanfaatkan diskon yang ada. Kondisi tersebut sering kali membuat mahasiswa menjadi lebih “longgar” dalam berbelanja sehingga pengeluaran sulit dikendalikan.
Meski mendukung kemajuan teknologi, Pak Dika menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam mengelola keuangan pribadi. Ia menyarankan mahasiswa untuk mulai menerapkan prinsip “sisihkan, bukan sisakan” agar dapat menentukan skala prioritas dari kebutuhan. Sejalan dengan hal tersebut, Fairuza mulai melakukan langkah kontrol mandiri agar saldonya tidak terus berkurang. Ia mengaku kini lebih selektif saat akan melakukan transaksi digital dan rutin mengecek riwayat transaksi pada aplikasi keuangan. Kesadaran inilah yang diharapkan dapat terus tumbuh di kalangan mahasiswa agar kemudahan digital tetap menjadi solusi, bukan menjadi beban finansial ke depannya.
Penulis: Zilvi Aulia Yasmin
Editor: Amira Najla Hartini

